Home News Nasional Sejarah Jawa, Si Orang Jawa adalah Homo Erectus, Benarkah?

Sejarah Jawa, Si Orang Jawa adalah Homo Erectus, Benarkah?

127

Semarang, Harian Jateng – Selama ini banyak orang mencari pengertian Jawa, sejarah Jawa, primbon Jawa, lagu Jawa, suku Jawa, sejarah Jawa Timur, sejarah Jawa Tengah, sejarah Jawa Barat, bahasa Jawa, sejarah suku Jawa dan sebagainya. Namun sudahkah Anda tahu pengertian Jawa?

Menurut M Yudhie Haryono Direktur Eksekutif Nusantara Centre, Jawa sangat beragam pengertiannya. “Ini adalah tanah tua. Merujuk pada namanya, dawa yang bermakna panjang. Dipimpin pertama oleh raja Saka (Soko) yang bermakna penyangga utama. Raja inilah yang menciptakan penanggalan, huruf, aksara, filsafat dan adat-istiadat Jawa,” ujar penulis buku Melawan dengan Teks tersebut, Senin (14/9/2015).

Hurufnya, kata dia, penuh makna dan lambang bahkan metafora. “Hana caraka (ada dua utusan), data sawala (mereka saling berselisih), padha jayanya (mereka sama2 berjaya dalam perkelahian), maga bathanga (mereka sama-sama jadi mayat),” jelas penggagas Komisi Ideologi Negara tersebut.

Di masa purba (atlantis), lanjut Yudhie, pulau ini merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan paparan Sunda, yang pada masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa fosil homo erectus, yang populer dijuluki “Si Manusia Jawa” ditemukan di sepanjang daerah tepian Sungai Bengawan Solo.

“Peninggalan tersebut berasal dari masa 6 ribu tahun yang lampau. Umur pulau Jawa diperkirakan 2 juta tahun. Situs Sangiran adalah situs prasejarah yang penting di Jawa. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan, misalnya menhir, dolmen, meja batu dan piramida berundak,” tukas dia.

Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, lanjutnya, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat.

“Situs megalitik Cipari juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu dan sarkofagus. Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar bangunan candi pada zaman,” kata pria kelahiran Banyumas tersebut.

Nusantara setelah penduduk lokal melakukan hibridasi peradaban, lanjut dia, pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M, kebudayaan Buni yaitu kebudayaan tembikar tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat.

“Kebudayaan protosejarah ini merupakan pendahulu kerajaan-kerajaan setelahnya,” beber dia.
Yudhie juga menegaskan, pula Jawa sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi dan semua buah-buahan.

“Pulau ini terkaya SDA, terpadat, terindah, tereksotis dan sangat mempesona. Jutaan manusia (jahat dan baik) datang untuk menjajah dan pariwisata. Di Jawa ini pula ditemukan Pancasila: puncak hibridasi nilai-nilai dunia yg kini dikhianati para pemimpinnya,” pungkas dia. (Red-HJ44/Foto: YH/Harian Jateng).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here