Yanne Karsodiharjo.

Stigma negatif dan anggapan remeh, selama ini melekat pada mereka para Buruh Migran Indonesia (BMI), Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Padahal, di balik kesibukan mereka, banyak kegiatan sosial dan aktivitas positif yang justru sangat bermanfaat. Bahkan, mereka juga berperan mengampanyekan nilai humanis, melalui gerakan sosial, budaya dan ekonomi serta potensi Indonesia di sejumlah bidang, mulai dari musik, modelling, fashion dan lainnya.

Salah satu pegiat sosial tersebut adalah Yanne Karsodiharjo. BMI asal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini, melakukan sejumlah gerakan sosial yang memberdayakan teman-temannya untuk bisa memaksimalkan hobi dan potensi mereka. Meskipun hidup di tanah perantauan, tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarnya. Sebab, bagi dia, berkarya memang tidak terbatas ruang dan waktu.

Dalam waktu dekat, pemilik nama lengkap Andayani ini kepada Harianjateng.com membeberkan ingin menjaring para BMI yang memiliki talenta di dunia musik untuk mengembangkan karinya.

“Untuk para BMI yang berbakat, aku kerjasama managemen di industri musik, gabung dengan musisi-musisi dan juga grup band dari Indonesia, Yanne ingin benar-benar fokus dan bekerja semaksimal mungkin, i try my best to be more good. Di sini JSM Management Juju Srikandi Record, kita memberikan jasa untuk rekaman, video clip, menciptakan lagu juga melatih vocal, juga mempromosikan di radio-radio Indonesia juga media sosial, ini merupakan kesempatan bagus karena begitu banyak para BMI yang berbakat,” ungkap Andayani kepada Harianjateng.com, Jumat (12/8/2016).

Selain dunia modeling, lanjut dia, khususnya pemotretan, catwalk dan fashion show, kesibukan saya bertambah lagi dengan mendapat kepercayaan dari JSM Management. “Saya sangat bersyukur atas semua ini, karena ini adalah kepercayaan yang mahal harganya. Sebuah tanggung jawab yang besar bagi saya, sekali lagi saya tetap tekankan bagi para BMI supaya tetap rendah hati, sopan, jaga nama baik bangsa dan negara kita,” tutur dia.

Di perantauan, kata dia, saya ingin menjadi Duta BMI Indonesia, ingin membuat BMI sukses dan mandiri serta berperilaku baik di negara orang. ”Saya ingin masyarakat Indonesia bangga dan juga Presiden Indonesia bangga bahwa di sini ada puteri-puteri negeri, srikandi-srikandi Bumi Pertiwi yang berjuang di perantauan, di tengah-tengah kesibukan kami tetap bisa berkraya , salam bmi luar biasa,” beber perempuan berparas cantik tersebut.

Naikkan Gengsi BMI
Dijelaskan dia, bahwa menjadi BMI bukanlah aib, namun justru hal itu menjadi wujud tanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, para BMI harus memaksimalkan potensi yang dimiliki serta membawa nama harum Indonesia di mata asing.

Tidak hanya omong kosong, Yanne pun mengawali hal itu dengan dimulai dari dirinya sendiri. Selain aktif di modelling, menjajakan fashion, kemudian aktif di dunia kesehatan, ia juga merintis bisnis rekaman di tanah rantau.

“Saya juga akan terus mempromosikan kebaya-kebaya Indonesia lewat fashion show. Batik-batik Indonesia juga dipromosikan supaya go internasional . Setidaknya negara lain tahu bahwa ragam budaya Indonesia itu cantik dan luar biasa,” kata dia.

Ini bukan ambisi, lanjutnya, tetapi visi, misi dan harapan saya ingin mengharumkan nama BMI/TKW/PMI yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas. “Karena dianggap etnis minority dan disepelekan karena ulah segelintir orang yang berbuat buruk, jadi semua BMI yang baik-baik pun terkena imbasnya. Di sini saya sangat-sangat tekankan supaya masyarakat tidak ‘menggebyah uyah’ dengan tidak menilai sama rata,” tegas dia.

Kami tunjukkan, kata dia, bahwa kami punya kegiatan positif bukan semua BMI itu ‘do porstitute’ di perantauan. “Semoga usaha saya tidak sia-sia, semoga yang membaca berita-berita BMI dengan seribu prestasi akan mampu menghapus kesan buruk selama ini dan memperbaiki image BMI atau TKW di manapun berada,” harap Yanne.

Ia juga mengaku merasa resah, sebab selama ini ia sebagai BMI merasa didiskreditkan.
“Demikian harapan-harapan saya, karena sedih bila usaha-usaha saya dilecehkan, dihina, tidak dihargai hanya karena ulah segelintir BMI yang nggak benar lantas semua BMI kena getahnya,” imbuhnya.

Sekali wong ndeso, kata dia, tetep wong ndeso. Karena ini semua cuman titipan Allah SWT, lanjutnya, jangan takabur itu saja pesan saya. Bagi yang hobi bernyanyi, silakan gabung dengan saya, melalui akun Facebook Yanne Fahmi Karsodiharjo, atau twitter Yanne Fahmi Karsodiharjo dan instagram Yanne Fahmi Karsodiharjo.

Yanne juga berharap, posisi belum tentu menentukan prestasi, namun justru prestasilah yang bisa menentukan posisi. Oleh karena itu, ia berharap meskipun berstatus BMI, justru hal itu bisa menjadi kekuatan dan spirit, bukan justru menjadikan para BMI lemah dan minder.

“Mari para BMI dan PMI tunjukkan bakatmu, prestasimu untuk Indonesia,” pungkas dia.

Yanne pun yakin, bahwa tidak ada perubahan besar, kecuali berawal dari perubahan kecil yang konsisten. Oleh karena itu, ia ingin mengawali perubahan tersebut lewat berbagai gerakan sosial yang ia lakukan saat ini. (Red-HJ99/Foto: Yanne).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini