Kolam pembibitan lele di Sojomerto, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang yang digunakan tiga mahasiswa Untidar Kota Magelang untuk menerapkan metode konservasi air tanah untuk kewirausahaan mereka. (Kusumo Wardani/Hms).

Magelang, Harianjateng.com – Sebanyak tiga mahasiswa Universitas Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah, menerapkan metode konservasi air tanah untuk mengembangkan usaha pembibitan lele guna memenuhi permintaan pasar.

“Biasanya air kolam yang bau dan kotor dialirkan ke selokan. Itu dapat membuat pencemaran lingkungan. Kami mengolahnya lagi dan menjadi cadangan air, terusama saat musim kemarau,” kata Bayu Setiaji Muslih, salah satu mahasiswa itu, di Magelang, Senin (15/8/2016).

Para mahasiswa Untidar Kota Magelang yang menerapkan konservasi air tanah itu, adalah Bayu Setiaji Muslih (Fakultas Teknik), David Pamungkas (Fakultas Ekonomi), dan Hata Agung Pambudi (Fakultas Pertanian). Mereka bagian dari Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Untidar yang proposal kegiatannya berjudul “Budi Daya Lele Sangkuriang secara Organik dengan Metode Konservasi Air Tanah”, lolos mendapatkan dana Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada 2016.

Mereka mengembangkan usaha budi daya bibit lele di Dusun Sojomerto, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan enam kolam yang masing-masing berukuran delapan meter persegi.

“Pasokan air melimpah di daerah ini, terutama saat musim hujan, tetapi saat kemarau turun drastis, bahkan kekeringan,” ujarnya.

Berdasarkan situasi lokasi budi dayanya itu, ia bersama timnya menerapkan metode konservasi air tanah untuk limbah kolam pembibitan.

Ia menjelaskan tentang metode itu, yang antara lain dengan pembuatan sumur resapan sebagai filter limbah kolam. Kotoran pada air kolam akan tersaring ke dalam tanah sehingga air kembali bersih dan bisa digunakan lagi.

Ia mengaku mengembangkan pembibitan lele secara organik karena potensi pasar yang masih terbuka luas.

Ia juga menjelaskan tentang pembibitan lele secara organik yang antara lain melalui penggunaan kunyit dan bawang putih sebagai pengganti bahan kimia yang dicampurkan dalam pelet.

Proses pemijahan, penetasan, hingga bibit siap dijual, ujarnya, membutuhkan waktu sekitar 50 hari, sedangkan sekali panen bisa menghasilan sekitar 40 ribu bibit, masing-masing berukuran kecil (2-3 centimeter) dengan harga jual Rp55 per ekor, sedang (3-4 centimeter) dengan harga Rp70 per ekor, dan besar (4-6 centimeter) dengan harga Rp120 per ekor.

“Kalau dirata-rata dalam sekali panen, kami bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp2.800.000,” katanya.

Selama ini, hasil pembibitan lele tersebut dipasok ke pasar ikan di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Tak jarang kami kewalahan memenuhi permintaan pasar, hasil panen selalu habis. Potensi pasarnya masih terbuka, kami akan mengembangkan terus usaha ini,” katanya. (Red-HJ99/ant).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini