Direktur Setara Institute Hendardi (dua dari kanan) didampingi Komisioner Kompolnas Poengky Indarti (kanan), pakar komunikasi UI Effendi Ghazali (dua dari kiri), dan pejabat Divpropam Mabes Polri Kombes Edi H. Napitupulu (kiri) konferensi pers mengenai hasil investigasi Tim Pencari Fakta Gabungan di LP Pulau Nusakambangan, Cilacap, terkait testimoni mendiang terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman, Selasa (16/7/2016) malam. (Sumarwoto/dokumen).

Cilacap, Harianjateng.com – Tim Pencari Fakta (TPF) Gabungan saat mendatangi Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, menemukan data tambahan terkait testimoni mendiang terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman.

“Kami menemukan data tambahan namun masih harus dikonfirmasikan lagi dengan beberapa pihak termasuk saudara Haris Azhar (Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan/Kontras, red.),” kata salah seorang anggota TPF Gabungan, Effendi Ghazali di Cilacap, Selasa (16/8/2016) malam.

Effendi mengatakan hal itu kepada wartawan saat menggelar konferensi pers seusai mendatangi sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) di Pulau Nusakambangan.

Konferensi pers tersebut juga dihadiri anggota TPF Gabungan lainya, yakni Direktur Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, dan Kombes Edi H. Napitupulu dari Divpropam Mabes Polri serta dimediatori Kepala Kepolisian Resor Cilacap AKBP Ulung Sampurna Jaya.

Kendati demikian, Effendi enggan menjelaskan data baru tersebut kepada wartawan.

“Ada beberapa hal yang belum bisa kami sampaikan karena harus dilaporkan dulu kepada tim di Jakarta dan selanjutnya ke Kapolri,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan saat berada di Nusakambangan, TPF Gabungan mendatangi dua lapas, yakni Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih.

Menurut dia, pihaknya melakukan analisis terhadap administrasi, arsip, termasuk buku tamu di lapas tersebut.

Berdasarkan analisis terhadap buku tamu, kata dia, diketahui adanya kunjungan yang sejalan pada tanggal 9 Juni 2014, yakni kunjungan ke Lapas Batu yang dilanjutkan ke Lapas Pasir Putih.

Dalam hal ini, lanjut dia, kunjungan pada tanggal 9 Juni 2014 itu dilakukan oleh dua orang rohaniwan dari Bethesda, yakni Andreas dan Yani dengan tujuan ibadah serta membawa empat orang yang diketahui berasal dari Kontras.

Selain itu, pihaknya juga mencatat dua nama tamu yang kemungkinan berinteraksi dengan Freddy Budiman.

“Kami juga langsung melihat kamarnya Pak Freddy Budiman berikut CCTV yang katanya diprotes,” kata pakar komunikasi Universitas Indonesia itu.

Menurut dia, kamera CCTV tersebut masih terpasang dan berfungsi dengan baik.

Ia mengatakan pihaknya juga dapat memastikan siapa saja yang hadir dalam pertemuan antara Freddy Budiman dan Haris Azhar, salah satunya John Key yang merupakan terpidana kasus pembunuhan.

“Data-data tambahan juga diperoleh tapi harus dikonfirmasi lagi kepada Pak Haris Azhar,” tegasnya.

Ia mengatakan dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga berupaya menggali informasi terkait video yang dikabarkan dibuat menjelang pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap Freddy Budiman.

Dalam penelusuran yang dilakukan TPF Gabungan, kata dia, diketahui ada dua pihak yang membuat video tersebut, yakni keluarga Freddy Budiman serta petugas Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Menurut dia, video tersebut dibuat pada tanggal 28 Juli 2016 sekitar pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Sementara itu, Direktur Setara Institute Hendardi mengatakan saat mendatangi Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih, pihaknya berupaya mengecek materi pembicaraan dalam pertemuan Haris Azhar dan Freddy Budiman termasuk saksi-saksi yang hadir
Dari hasil pengecekan itu, kata dia, secara umum materi pembicaraan maupun saksi-saksi yang hadir sesuai dengan yang disampaikan Haris Azhar.

“Kami juga mencoba melakukan wawancara, bukan saja dengan petugas lapas tetapi juga dengan orang-orang di sekitar Lapas Nusakambangan yang mungkin ada informasi berkaitan dengan Freddy Budiman, berbicara dengan Freddy Budiman, atau semacam itu, kami usahakan bertemu. Soal hasilnya, belum bisa kami sampaikan,” katanya.

Lebih lanjut, Hendardi mengatakan sebelum ke Nusakambangan, pihaknya telah berusaha menyapih berbagai informasi yang berkaitan dengan Freddy Budiman, baik yang menyangkut perkaranya, kehidupan sosial, dan sebagainya.

Dia mengakui fakta-fakta yang disampaikan Freddy Budiman melalui Haris Azhar masih sumir sehingga tim harus bekerja keras untuk menyapih berbagai informasi dari berbagai pihak termasuk masyarakat.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengundang masyarakat untuk memberikan informasi yang relevan sehingga tim lebih mudah dalam bekerja.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya oknum aparat yang terlibat dalam bisnis narkoba yang dijalankan Freddy Budiman seperti yang disampaikan melalui Haris Azhar, dia mengatakan hal itu yang sedang dicari.

“Tim ini memang bertujuan mencari itu (keterlibatan oknum, red.). Arahnya memang ke situ, apakah betul ada petinggi Mabes Polri yang katanya menerima uang sekian miliar atau yang berkaitan dengan bisnis Freddy Budiman,” katanya.

Mendiang Freddy Budiman saat masih mendekam di Lapas Batu dikabarkan memberikan testimoni melalui Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar terkait aliran dana hingga ratusan miliar rupiah kepada sejumlah petugas guna memperlancar bisnis narkoba.

Akan tetapi testimoni tersebut baru mencuat setelah Freddy Budiman menjalani eksekusi hukuman mati pada tanggal 29 Juli 2016. (Red-HJ99/ant).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini