Ilustrasi peta politik
Ilustrasi peta politik. Foto Cottonbro/Pexels

Apa produk ide terbaru dari rezim hari ini? Tak banyak. Setelah sebelumnya memproduksi ide blusukan, infrastruktur dan hutang (BIH), praktis gagasan terbaru dari dik Jokowie hanya ide dan gagasan “ketakutan.”

Dalam diskursus postkolonial, rasa takut hadir sebagai ekspresi rendah diri atau phobia. Rasa takut mengemuka karena kondisi yang mengancam keselamatannya (rizki, umur, jabatan dan nasib). Singkatnya, ketakutan ada yang wajar dan ada yang tidak wajar. Tetapi, ketakutan seringkali dilatarbelakangi oleh pengalaman tidak menyenangkan; mis alnya informasi; kebodohan dan kecemasan.

Sesungguhnya, rasa takut merupakan bagian alami dari pertumbuhan seseorang. Dus, semua orang pasti pernah mengalami rasa takut. Hurlock (1991) menyebut bahwa rasa takut akan memproduksi rasa malu, merasa kesulitan, melahirkan khawatir dan mengkondisikan kecemasan.

Yang agak lucu adalah hadirnya ketakutan tanpa alasan. Kini, rezim dik Jokowie sedang dalam puncak ketakutan luar biyasa. Tetapi, takut tanpa alasan. Lewat informasi palsu, kebodohan akut dan kesalahan manajemen kekuasaan, mesin ketakutan itu disebar dalam bentuk-bentuk yang lucu: mengancam, menuduh, menakuti, menggusur, mengusir, menangkapi bahkan membunuh warganegaranya sendiri.

Di tengah kegagalan rezim memproduksi keadilan, kesejahteraan, kemandirian, kedaulatan, kemartabatan, kemodernan dan kemerataan (7K), yang diproduksi hanya takut dan cemas. Rezim ini gagal paham problem bernegara. Rezim ini tak membaca masalah berbangsa. Tentu karena tidak mengerti problema masa lalu, tak menguasai problema hari ini, tak melihat problema masa depan.

Pertanyaan selanjutnya tentu, “mengapa dik Jokowie begitu ketakutan?” Mudah menjawabnya. Satu tahun berkuasa, rezim ini tidak percaya Pancasila, lalu mengkhianatinya sambil menelan bulat-bulat ide dan gagasan neoliberalisme. Satu madzab yang menyembah uang dan mengharamkan kemanusiaan. Tentu saja karena rezim ini dipimpin agensi jahil yang minus kejeniusan. Bernalar pendek dan defisit inovasi.

Maka, berneoliberal adalah pilihan. Satu madzab yang tidak mungkin kita bisa percaya pada mereka menjadi bagian dari komunitas kemanusiaan karena anti kemanusiaan. Mereka hidup dari ontologi homo homini lupus, dari epistemologi survival of the fittes, dari aksiolologi oligarki-kartel-kleptokrasi-predatoris yang bahagia di atas penderitaan sesama dan berduka di saat sesama bahagia.

Memang, pasukan neoliberalis selalu berjejaring kuat laksana kuda sembrani. Mengelilingi kekuasaan dan menyetubuhi keserakahan sambil mengkader agensi-agensi tercerdas yang kebingungan karena ketiadaan simbol moral dalam zamannya.

Neoliberalisme hidup dalam kecongkakan dan rasis sehingga menolak pemerataan sambil memupuk pertumbuhan. Menciptakan krisis ekonomi-finansial sambil membiayai budak-budak amoral jadi pilihan publik. Lahirlah ironi-ironi. Berjamurlah drama genosida bangsa dan merajalela perampokan yang dilindungi serdadu plus kejahatan yang dikurikulumkan sebagai agama baru.

Dengan agama baru ini, mafia migas, mafia alutista, mafia kontrak karya, mafia jual-beli budak, mafia narkoba, mafia perjudian dan prostitusi, mafia pajak, mafia undang-undang anti konstitusi menjadi produk-produk ekopol terbaik dari madzab neoliberal di Indonesia. Ngeri kalezz.

Neoliberal ini makin menuhan karena dik Jokowie juga membiarkan para pembohong dan pencuri berkuasa di sekitarnya, gedung DPR/MPR tangsi vulusi/verdadu plus di pengadilan-pengadilan kolonial.

Kini, dik Jokowie sedang bersabda, “aku takut maka aku ada.”(*)

Yudhie Haryono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini