Ilustrasi Tuan Putri yang Terus di Tepi Sejarah Hati
Ilustrasi Tuan Putri yang Terus di Tepi Sejarah Hati. Foto ImaArtist/Pixabay

Demi pohon bambu dan sungai serayu. Aku menemukanmu di semak reruntuhan hati dan banjir air mata kesedihan bergalon-galon. Saat kamu meletakkan hati di atas hatinya tetapi ia meletakkan hatinya untuk hati yang bukan hatimu.

Saat itu. Berlari menjauh di pinggir-pinggir sejarah, kamu membangun peradaban beku. Hatimu pilu. Sebab niatmu memang hanya jadi ibu. Itu pula mengapa sarjanamu tak redam dan sampai ujung waktu. Saat senja, kamu nikmati dengan haru biru. Tetapi yang mungkin kamu lupa, hidup hanyalah sejarah kata-kata.

Katanya, zaman edan ini lahir dari medsos: tanpa kepastian masa depan, tanpa keyakinan pada masa lalu dan tanpa kejelasan masa kini. Zig-zag dan tak beraturan. Banyak penjahat jadi pejabat. Banyak pejabat bangga jadi penjahat.

Kasih, semoga kau ingat fatwaku. Terkadang kesejatian dan kebahagiaan justru didapat pada saat pergantian “kekasih harapan” ke “lelaki candangan.” Seperti sepakbola yang sering kita lihat: kemenangannya karena gol pemain pengganti.

Kekasih hati. Demi hujan dan gerimis pagi. Saat tahajud dan subuh diri. Antara air mata dan doa. Isak dan mimpi-mimpi. Kegentaran dan kegentingan. Arupadatu. Harap dan keentahan.

Kini. Mencium bibirmu saat terpejam jiwaku seperti hal terakhir yang menghubungkan nalarku dengan peradaban terbaru. Terasa riil dan mengguncang walau kutahu kau tak pernah terangsang: tak sudi jatuh hati: tak produksi cinta. Tak pernah ingin menikmati lelaki tua yang tak berniat hidup lama.

Rindu dan kangen ini membuatku menangis di pagi buta di antara hujan dan sujud subuh serta gerimis sejarah. Hujan kangen dan kasih yang tak berbalas.

Sedih. Sunyi. Mati. Karenanya, keajaiban dunia cuma dua: Prambanan dan Kamu. Cuma kok kamu seperti Tuhan. Membisu ketika diseru. Menuli ketika disembah. Membuta ketika dirindu. Murkanya kirim banjir bandang. Bukan rizki yang mudah dilepeh. Apalagi diperoleh sebagai oleh-oleh.

Setelah itu, kiyamat hanya ilusi kaum yang berjalan sendirian. Sebab berjalan berdua atau bergerombol adalah kebahagiaan penunda kiyamat dan kesepian (Kitab Kebahagiaan/2:78). Ingat. Sejarah hanya kata-kata. Jika dirangkai, itu kalimat belaka.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini