Bendera Indonesia
Bendera Indonesia. Foto Teguh Setiawan/Pexels

Kita tidur dengan bantal yang sama, tapi dengan mimpi yang berbeda. Maka, tak ada yang lebih pedih daripada kehilangan mimpi-mimpi kalian. Kita tidur di kasur yang sama, tapi dengan cita-cita yang berbeda. Maka, tak ada yang lebih perih saat kasihku tak mungkin beralih.

Kita hidup di negeri yang sama, tapi dengan program yang berbeda. Maka, menyatu dalam waktu yang berjalan. Tetapi aku kini sendirian. Menatap negeri ini hanya bayangan. Lalu, aku bertanya.

Adakah pilihan lain selain revolusi? Tidak ada. Yang masuk akal kini cuma revolusi pancasila. Apa itu? Adalah gerakan nasional yang dikerjakan secara bergotong-royong oleh para patriot Pancasilais segala kalangan, guna merealisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia; dalam waktu segera dan sesingkat-singkatnya.

Siapa musuhnya? Semua begundal kolonial internasional dan lokal yang mengkhianati kita semua. Para pengkhianat yang mengkhianati dan mengganti nilai-nilai Pancasila. Maka, pertanyaan berikutnya, apa nilai utamanya.

Jika diperas, kata Bung Karno, “yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong. Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat semua.

Prinsip Gotong royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara Islam dan yang Kristen, antara yang Indonesia dan yang non-Indonesia. Inilah saudara-saudara, yang kuusulkan kepada saudara-saudara.”

Kini kita berjihad demi Pancasila demi Indonesia. Bagaimana ia bekerja? Filsafat Pancasila membantu setiap generasi bangsa-negara ini untuk menghadapi problemnya di masa kini dan masa depan. Studi Postkolonial menawarkan setrilyun pemecahan persoalan kolonialisme dan berbagai variannya (kapitalisme, liberalisme, komunisme dan neoliberalisme).

Filsafat pancasila dan studi postkolonial adalah dua metoda penjaga dan pewibawa Indonesia. Tentu peletak dasarnya Tuan Soekarno. Bapak bangsa yang kini dikhianati anak biologis dan anak pungutnya!

Kedua ilmu ini melarang berfikir dari segi keterbatasan. Sebaliknya mendorong berfikir dari segi kemungkinan. Metascient. Maha luas terbentang di semesta.

Karena itu, sekali lagi yah. Jika mengamalkan pancasila, adalah menyejahterakan indonesia maka tiba waktunya untuk bertarung. Menumpas angkara. Melawan musuh lama. Menggilas musuh masa kini. Mengantisipasi musuh masa depan. Merekalah setan-setan si ular penipu. Para penghasut dalam hati, pikiran dan perbuatan.

Jika mengamalkan pancasila, adalah tipu-tipu belaka maka itulah mereka: alumni dan penghuni istana kini. Sejak mereka berkuasa, buku tak dibaca, pengetahuan tak dibeli, hikmah tak ditradisi. Semua musnah dalam dua kata: pencitraan dan blusukan.(*)

Yudhie Haryono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini