Home Kolom Negara Autis

Negara Autis

44

Di mana negara saat warganya menderita? Kenapa negara hadir hanya saat menarik pajak? Apa sejatinya tugas pemerintahan saat ini? Yang pertama, jawabannya negara absen. Yang kedua, jawabannya negara autis. Yang ketiga, jawabannya negara khianat.

Absen, Autis dan Khianat. Inilah trilogi negara hasil terbaik dari anak haram reformasi. Satu pemerintahan yang mengisi negara tanpa tahu sejarahnya dan tak mengerti di mana negara mau dilabuhkan.

Lalu, mengapa kita banyak sekali kehilangan kesempatan (menjadi negara kaya, sejahtera dan bahagia)? Jawaban terbaiknya adalah karena elite hari ini tidak memilih menjadi agensi negara progresif tapi memilih menjadi pelaku negara autis.

Negara autis adalah pilihan tuna-waras karena rabun konstitusi dan alpa sejarah. Apa itu negara autis? Adalah negara yg mengalami kelainan perkembangan sistem ekopolsosbudhankam pada pikiran-tindakan aparatusnya yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor syaraf, otak dan kejiwaan.

Sesungguhnya, kelainan ini dapat dideteksi sejak awal. Deteksi dan terapi sedini mungkin akan menjadikan negara dapat menyesuaikan dirinya dengan negara normal. Tapi, tetapi harus dilakukan selamanya, walaupun ada banyak kecerdasan dan keberlimpahan dlm dirinya.

Karakteristik menonjol pada negara yang mengidap kelainan ini adalah kebanyakan pencuri, kelebihan perampok, banjir broker, surplus agamawan kentir dan over populasi penjahat. Wataknya pemarah, pendendam, pelupa dan individualistik sehingga sangat sulit berinteraksi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan wargenegaranya. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan mental dan karakter. Tapi, ia bukan penyakit kegilaan karena berupa gangguan yang terjadi pada otak sehingga tidak berfungsi normal.

Kondisi negara autis bisa dilihat pada keadaan: 1)Pemerintah sulit fokus secara kualitatif dalam program pembangunannya; 2)Pemerintah sulit fokus menangkap kehendak warganya; 3)Pemerintah fokus hidup dalam dunianya sendiri; 4)Pemerintah repetitif dalam urusan kejahiliyahan; 5)Pemerintah mengalami perkembangan yang terlambat atau tidak normal dalam segala hal-ikhwalnya (cita-cita bernegara dan konstitusi berbangsa).

Bendera Indonesia
Bendera Indonesia. Foto Teguh Setiawan/Pexels

Tentu saja, negara autis adalah produk politisi autis. Para politisi autis inilah hulu bagi bekerjanya autisme negara. Hilirnya, warga autis. Buahnya kekacauan semesta (oligarkis, feodalis, fundamentalis, kleptokratis, kartelis, predatoris).

Para politisi dan elite autis adalah aktor utama pengundang bencana, pencipta banjir utang, penggadai asset berharga, pengobral warisan nusantara, kreator ketimpangan antar wilayah dan generasi, penggila kemiskinan akut dan tertawa-tawa saat yang lain sengsara.

Apa solusinya? Trias Revolusi (Mental-Nalar-Konstitusional) berbasis Pancasila yang digerakan oleh manusia Atlantis.

Agensi dan manusia atlantis adalah manusia Indonesia yang memiliki dan menggunakan nalar sadar waktu demi ringkasnya kehidupan: lahir, jihad, syahid. Ia merdeka, mandiri, modern, martabatif karena berdaulat penuh atas ipoleksosbudhankam diri dan negaranya. Tentu, ia anti pengkhianatan dan pelacuran. Walaupun sesungguhnya, pelacur atau gigolo tua yang jual kelaminnya sendiri buat makan, masih jauh lebih berharga dan mulia daripada pejabat negara yang mengobral harta bangsanya serta ulama-ulama yang menjual ayat demi sepiring nasi.

Di atas segalanya, manusia atlantis yang melakukan trias revolusi selalu memerlukan kecerdasan melimpah untuk memahami kompleksitas agama. Ia juga memerlukan kejeniusan sistemik untuk memahami kebrutalan negara neoliberal. Sebab agama dan negara kita makin ilusif dan destruktif sejak dimanfaatkan para begundal lokal dan internasional.(*)

Yudhie Haryono

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here