Ilustrasi neoliberalisme
Ilustrasi neoliberalisme. Foto Pixabay/Johnhain

Neoliberalisme adalah penyakit yang ditularkan via bank, utang dan kurs.

Tanpa memahami ini, para elite akan mengulangi penguasa-penguasa sebelumnya yang jahiliyah: para investor difasilitasi mencaplok perusahaan kecil (milik rakyat) dan perusahaan BUMN (milik negara).

Perusahaan kecil menguasai jaringan rakyat, sedang BUMN menguasai sektor publik yang sangat strategis, seperti telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi dan bandara.

Bisnis di sektor rakyat dan sektor strategis tentu sangat menjanjikan, karena tidak mungkin rugi. Terlebih disubsidi, dilindungi dan difasilitasi: oligopoli. Di sini, akumulasi kapital terjadi dan keuntungan dibagi-bagi antara pengusaha dan penguasa, tidak untuk menggemukan APBN.

Karena mimpi menggemukkan APBN makin sulit, kita cukup menumpuk utang dan menyukseskan impor. Lah kok bisa? Apa yang tak bisa bagi penguasa kita? Penguasa yang tak paham bahwa “semua bayi di Indonesia lahir dengan kecerdasan dahsyat dan karakter kuat. Para penguasalah yang membuat mereka bodoh dan cacat karakter di kehidupan selanjutnya.”

Karena itu, tak ada kejahatan lebih besar di dunia ini kecuali membuat bayi-bayi itu menjadi pengkhianat konstitusi. Dan, itu pekerjaan kolonial yang diulang-ulang penguasa republik (rasa kerajaan) ini. Subhanallah. Nasib rakyat kok elek men.

Karena mimpi jadi raya sudah tak mungkin, kita cukup deklarasi raja-raja palsu. Lah kok bisa? Apa yang tak bisa bagi penguasa kita? Penguasa yang tak paham bahwa “semua pengusaha di Indonesia hidup dengan kerja keras, kecerdasan dahsyat dan karakter kuat. Para penguasalah yang membuat mereka bodoh dan cacat mental di kehidupan kenegaraan dan kebangsaan.”

Karena kami berasal dari KNIL dan PETA. Secara geneologis, kami serdadu bayaran kolonial. Jadi kalau sama penjajah, kami sungkan dan takut. Tapi kalau sama warganegara dan teman sendiri, kami bisa sangat ganas. Kadang-kadang kami bahkan baku tembak antar kawan sendiri.

Jika harus mengusir teroris ekonomi macam Vriput dan EM-EN-CE, yang selama ini menyuap elite, ya kami mogok. Tapi kalau disuruh gusur rakyat yang tak punya serifikat tanah agar tanah itu jadi milik asing dan aseng, ya itu tugas suci. Kami memang penjaga begundal kolonial. Kalian mau apa hah?

Tentu, kalau baca buku “baku” maka sejarah serdadu dibentuk melalui perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari ancaman Belanda yang ingin kembali berkuasa menjajah Indonesia melalui kekerasan senjata.

TNI pada awalnya merupakan organisasi yang bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan selanjutnya diubah kembali menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Ilustrasi serdadu. Foto Pixabay/Arcaion

Pada masa mempertahankan kemerdekaan ini, banyak rakyat Indonesia membentuk laskar-laskar perjuangan sendiri atau badan perjuangan rakyat. Usaha pemerintah Indonesia untuk menyempurnakan tentara kebangsaan terus berjalan, sambil bertempur dan berjuang untuk menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Untuk mempersatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara regular dan badan-badan perjuangan rakyat, maka pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Soekarno mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara resmi.

Tetapi, kisah serdadu di negara postkolonial selalu tampil dalam dua wajah: pahlawan dan pengkhianat. Pahlawan misalnya Soedirman. Pengkhianat misalnya Soeharto. Studi-studi terhadap mereka juga punya dua style. Mendukung dan menolak. Ini memang simalakama.

Sayangnya, jenis pengkhianat lebih banyak. Hal ini karena pembinaan liberalisme Amerika lebih dulu daripada nasionalisme Ki Hadjar Dewantara. Konflik PKI versus AD adalah point awalnya. PKI pembela rakyat. AD penjajah rakyat. Lihat saja jendral-jendralnya yang hobinya golf dan mobil mewah. Jendral-jendral yang dimusuhi dan dibenci rakyat.

Sejarah serdadu hari ini makin solid menuju babak baru sebagai pelaksana shadow economics. Jika dulu hanya sebagai pelindung, kini makin akut sebagai pelaku. Betapa banyak kini serdadu yang menjadi centeng dari pembuat atau pelaku tindakan yang melanggar hukum. Club-club malam, tempat prostitusi, bahkan tempat berjudi justru mendapatkan perlindungan dan pelaku sekaligus.

Munculah penilaian negatif dari warga. Maka cara menutupinya dengan menyebut serdadu profesional. Apanya yang profesional? Mencari uang demi kantongnyakah? Ingat, profesi itu pekerjaan. Maka mereka nyari kerja. Bukan bela bangsa. Bukan bela negara. Apalagi rakyat miskin!

Padahal, fungsi serdadu itu mulia sekali jika kita baca di atas kertas: 1) Sebagai penangkal terhadap ancaman bagi kedaulatan, keutuhan, serta keselamatan bangsa Indonesia baik itu dalam bentuk ancaman militer maupun ancaman bersenjata yang berasal dari dalam dan luar negeri; 2) Sebagai penindak lanjut terkait ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan, keutuhan, serta keselamatan bangsa Indonesia baik dalam bentuk ancaman militer maupun bersenjata yang berasal dari dalam atau luar negeri; 3) Sebagai pemulih kondisi keamanan negara Republik Indonesia yang terganggu akibat adanya kekacauan yang mengganggu keamanan.

Sedang tugas pokok serdadu juga dahsyat. Minimal ada tiga: 1) Menegakkan kedaulatan negara; 2) Mempertahankan keutuhan wilayah negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945; 3) Melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dari segala ancaman atau gangguan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.

Kita tahu sesunngguhnya banyak serdadu yang baik dan idealis. Tapi mereka dirusak oleh satu dua orang jendral serakah. Coba lihat kawan Lohat (bekas Jendral bintang). Kerja sebagai menko maritim dibayar pakai APBN tapi ngurusi cagub di Pilkadal DKI? Begundal bukan?

Maka, menjadi serdadu di negaramu kini seperti proses membusukkan diri. Mirip ingatan yang tak pernah solid. Tak bisa stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Dus, mudah membela yang bayar.

Mereka seperti kertas, ketika menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah: mencari jati diri yang sering terbeli. Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau memerah. Tergantung yang menang. Tergantung yang modali. Asong tepatnya.

Singkatnya, serdadu kita kini persis neoliberalisme: penyakit modern yang kadang dipuja berlebihan tapi sesungguhnya rapuh dan lumpuh. Makin hari makin tak dimengerti oleh warganya sendiri.(*)

Yudhie Haryono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini