Untuk yang Mendaras Luka
Untuk yang Mendaras Luka. Foto Pixabay/Nature_Shots

Sepulang takziah. Keperihan tetap keperihan. Engkau pergi saat ingin aku sapa sekejap. Tetapi engkau sirna lebih dulu sebelum curhatku terlontar jauh melebihi cerpen Jokowi. Kisah kita seperti ditelan bianglala.

Ada trilyunan takdir. Terpapar purnama. Dan, getar batang pinus gelombang samudra mendidih perih. Sebab, pada siapa kuharus berkeluh. Teguhkan hatiku, nalarku dan bibirku sebut namanya.

Luka ini terus terhitung maju. Tak terhenti oleh waktu. Terdengar derap langkah serentak: baris dan bergerombol. Tak terhenti sambil menyimak lirih bisikan kalbuku. Oh hutan. Di mana ia yang mau jadi pasukan.

Di sisa usianya, ada yang selalu tertinggal. Yaitu senyumku. Senyum pemintal luka. Dan, di hatinya, ada yang hilang. Yaitu jiwaku. Jiwa perkasa penenun duka. Aku memang begitu kelam dan sedih sangat dalam. Menyintaimu tanpa kenangan plus minus goresan.

Kapankah kita terbaring bersama? Menghadap tuhan sambil bercinta.(*)

Yudhie Haryono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini