Mahasiswa Unwahas korban pembacokan, Naufal (kiri) dan Darul (kanan)
Mahasiswa Unwahas korban pembacokan, Naufal (kiri) dan Darul (kanan). Foto dokumen pribadi

Semarang, Hariansemarang.id – Dua mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) korban pembacokan, Naufal Arkan Al Farisy (20) dan Darul Husni (20) tidak puas dengan pembelaan Jaksa Penuntut Umum kepada mereka. JPU kasus pembacokan nggak maksimal bela korban.

Naufal dan Darul merasa, JPU kurang total dalam membela dan menuntut keadilan bagi keduanya sebagai korban pembacokan.

Kedua mahasiswa itu mengatakan komunikasi JPU terhambat, hubungan dengan JPU berjarak dan malah JPU beberapa kali emosi saat ditanyai soal perkembangan kasusnya.

“Saat kami tanya ke JPU kami, Bu Winda soal perkembangan persidangan, dia malah marah. Saya nggak ngerti, kami kan tanya hasil putusan (sidang pada 2 Februari) eh dia malah bilang sidang ditunda dengan nada emosi,” ujar Naufal mengeluh kepada Harian Semarang, Minggu 6 Februari 2022.

Naufal heran bukan kepalang, JPU kan penuntut yang mewakili korban kok malah responsnya begitu sih.

JPU ketawa-tawa dengan terdakwa

Belum lagi, Naufal dan Darul memergoki JPU mereka malah akrab dengan keluarga terdakwa pembacok DRX yang berusia 16 tahun.

Jadi pada persiangan 2 Februari lalu, Naufal dan Darul kecewa kok JPU malah asyik akrab dengan pihak terdakwa pembacokan yang di bawah umur tersebut.

Naufal, mahasiswa Unwahas korban pembacokan. Foto dokumen pribadi

“Kami lihat pelaku dan keluarganya itu malah kayak ketawa senang, kayak ada goal yang tercapai. Saya lihat itu ketawa-tawa, itu pihak keluara dan pelaku, itu jalan bareng dengan JPU, akrab tertawa gitu. Kok kayak mereka itu berpihak ke pelaku gitu, tidak ke korban,” ujar Naufal yang masih merasa sakit bahunya dibacok pada penghujung Desember 2021 lalu.

Baca juga: Kronologi Lengkap Pembacokan 2 Mahasiswa Unwahas

Naufal, mahasiswa Unwahas asal Bekasi, Jawa Barat ini bingung kok JPU malah akrab dekat dengan terdakwa, tapi giliran dengan dia dan Darul malah dicuekin.

“JPU harusnya kan bersikap (berpihak) ke korban dengan menuntut seadil-adilnya untuk korban itu, tidak terkesan ada gap antara korban dan JPU,” kata dia.

JPU kasus pembacokan kurang berpihak

Darul mengamini soal JPU yang kurang berpihak dan terbuka dengan korban dalam proses persidangan.

Bukti lainnya, saat Darul dan Naufal berkonsultasi soal perkiraan pengenaan pasal kepada terdakwa, eh JPU malah enggan menjawab. Paling tidak kan, kata Darul dan Naufal, mereka ingin mendapatkan analisis dari JPU, tapi nyatanya JPU berdalih itu adalah ranahnya hakim.

Selain itu, Darul bilang waktu dia minta nomor WA ke JPU saja enggan diberikan lho. “Nggak dikasih, nggak boleh kata dia,” ujar Darul.

“Apa susahnya sih disampaikan, perkiraan (terdakwa) kena penjara berapa tahun, kan perkiraan bisa salah bisa benar,” ujar Naufal.

Mahasiswa Unwahas korban pembacokan
Mahasiswa Unwahas korban pembacokan. Foto Dokumen mahasiswa Unwahas

Darul dan Naufal dibacok oleh celurit di Jalan Menoreh X, Kota Semarang pada 30 Desember 2021. Belakangan Polrestabes Semarang membekuk ketiga terduga pembacok, yaitu DRX (16 tahun), Dolly Sputra (20) dan Nurudin (19).

Penyidikan menunjukkan Nurudin adalah otak pembacokan yang menyuruh dua temannya itu jadi eksekutor pembacokan Darul dan Naufal. Akibat insiden pembacokan ini, Naufal dan Darul dilarikan ke rumah sakit. Naufal mendapatkan 11 jahitan dan satu saraf putus, sedangkan Darul mendapatkan 23 jahitan dengan dua saraf putus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini