Logika ilogik Indonesia
Logika ilogik Indonesia. Foto Pixabay/Pasja1000

Kasih. Ini puisiku buatmu. Ini kisahku buatmu. Saat kamu sekarat, team ekonomi petruk di istana mengelola APBN dengan jual alokasi anggaran dengan fee 10-15% maka saat utang yang jumlah bisa 1.000T sampai 1.250T per tahun dengan selisih bunga 3% maka betotan awal di depan bisa 30T-32,5T per tahun. Makanya pandemi ini “blessings in disguise” bagi tukang utang. Karena utang makin membesar maka komisi makin besar.

APBN ini diujung penerimaan dibengkakkan dari bunga utang. Di ujung belanja disunat fee alokasi anggaran. Itulah alasan SMI dkk hobi utang terus karena dapat pasive income yang jauh lebih besar dari gaji sebagai menteri.

Mereka tidak ada urusan dengan koleteral, ilmu ekonomi baru maupun solusi berwibawanya bangsa. Yang penting mereka sebagai agen lulus dan kaya raya. Mereka itu kuntilanak bin gerandong penghisap darah rakyat kismin.

Dalam praktik ultimate debt, basis perputaran uang didasarkan pada aset utang. Bukan aset kolateral. Utang negara dianggap paling credible karena dirating oleh lembaga rating yang di-drive oleh para lander untuk membangun confidence market. Kalau rating utangnya AAA+ maka landing rate-nya 0,5 pct paling tinggi. Tapi kalau rating hanya BB maka bisa 7-8%. Tumpukan utang inilah yang jadi collateral printing money Bretton Wood dalam Washington Consensus.

Singkatnya, banyak elite terjebak di “odious debt” yang dibuat IMF, WB, ADB dan lain-lain. Karena itu mereka sangat berkepentingan sekali atas pilpres dan posisi-posisi menteri strategis. Padahal, itulah 5i: Invasi, Intervensi, Infiltrasi, Intimidasi, Inflasi.

Tapi, apa yang dikerjakan para sepuh dan elit silit dalam soal genting ini? Rapat sampai melarat dan sekarat si rakyat. Hanya peduli dirinya, keluarganya dan kelompok rakus di sekitarnya.

Dari tesis ini akan selalu dicari antek-antek yang akan dipasang untuk menjadi agen mereka untuk diimplant dalam sistem kekuasaan di negara manapun untuk menjalankan agenda global mereka. Menjaga hegemoni kepentingan mereka. Lanjutan masa merchantilisme, kolonialisme menuju kepada masa neo kolonialisme.

INI PERANG KECERDASAN YANG 20 TAHUN SEDANG TERJADI DAN KITA KALAH KO KARENA SEPUH DAN ELIT-SILITNYA DIKIBULI EKONOM BEGUNDAL LOKAL. Apa ceritamu untukku?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini