Dorce Gamalama
Dorce Gamalama. Foto Youtube Denny SUmargo

Mendengar wafatnya artis Dorce Gamalama, saya teringat pesta sederhana ketika usia saya masih 10 tahun, di tahun 1973. Ini peristiwa hampir 50 tahun lalu. Saya baru saja pindah ke Jakarta. Orangtua saya menyewa rumah dan menyekolahkan saya di wilayah Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

Teman sekelas bernama Vera berulang tahun. “Denny jangan lupa datang ya, ke rumahku. Nanti ada temanku akan menyanyi di sana. Kamu pasti suka. Ia jago nyanyi. Jago ajojing. Jago melucu.”
Sayapun datang ke rumah vera, minggu sore hari. Rumahnya dekat dengan rumah saya. Kawan kawan SD ada sekitar 20 orang di sana. Ada Ayah, Ibu dan juga keluarga besar Vera.

Setelah tiup lilin, Vera mempekenalkan kawannya yang pintar menyanyi, pintar ajojing, dan juga pintar melucu. Umurnya sebaya. Namanya Dedi Yuliardi.

Saya dan teman- teman tertawa dan terhibur. Ini anak sama sama usia 10 tahun berani dan pintar melucu di depan banyak orang.
Ia menyanyi lagu Koes Plus yang lagi populer saat itu: Muda- Mudi, sambil badannya berjoget meliuk-liuk.

Ia melawak. Ia berjoget. Kita semua tertawa. Terhibur.
Yang khas pada Dedi, gayanya sangat kewanita- wanitaan. Ia yang lelaki itu juga kadang sengaja mengalunkan suara dan meliuk seperti wanita.

Sejak saat itu, beberapa kali Vera dan Dedi mampir ke rumah saya. Karena lucu, masih kecil dan lelaki yang meliuk seperti perempuan, Dedi acapkali mendapatkan perhatian ekstra tetangga saya. Rumah kami hanya berjarak 400-500 meter saja.

Pernah Ia main ke rumah, dan tetangga saya kumpul di teras. Ada sekitar 15-20 orang, tua dan muda. Dedi pun, bocah 10 tahun itu, dengan bersemangat menyanyi dan melawak di sana. Dedi senang menghibur orang.

Banyak yang suka dan tertawa. Ada pula anak- anak kecil memanggil ibunya sambil teriak: “Lihat buk, ada bencong di rumah Denny. Itu temannya Denny.”

-000-

Hanya 2 tahun saya tinggal di Sentiong, lalu pindah ke wilayah lain di Jakarta Timur. Saya tak lagi pernah jumpa Dedi atau Vera. Tak lagi saling dengar kabar berita.

Sekitar tahun 2005,2006, tiga puluh tahun kemudian, saya jumpa dengan teman dari wilayah Sentiong. Saat itu Dorce sudah naik daun.

Ketika kami bicara soal Dorce, teman ini nyeletuk. Ujar teman ini, “Den, Dorce itu si Dedi. Itu teman Denny yang sejak kecil. Yang pernah main ke rumah Denny.”

“Ha!” Sayapun kaget. “Yang benar? Dorce itu si Dedi? Ampuunn!!!!”

Tiga puluh tahun saya tak pernah jumpa lagi. Dedi yang lucu, pintar menyanyi ternyata sudah berubah menjadi Dorce yang terkenal.

Sekali saya pernah jumpa kebetulan di pesta pernikahan teman. Itu di tahun 2007 atau 2008.

Dorce atau Dedi masih mengenali saya. Ia memperkenalkan saya kepada temannya. “Ini sahabat dari sahabat gue waktu masih kecil.”

-000-

Saya mendengar berita soal Dorce dari jauh saja. Ia sempat operasi kelamin menjadi wanita di tahun 1983. Pengadilan sudah mengesahkannya sebagai wanita (1).
Walau terkesan ia populer, disukai banyak orang, ia sering luka. Dorce mengeluh banyak mengalami diskriminasi.

Tak jarang kehadirannya di televisi ditolak karena televisi itu tak ingin dihujat publik. Beberapa iklan tak ingin Dorce hadir di acara.

Ia pun tak henti menerima hujatan bahkan di handphone pribadi. Dorce dianggap negatif tak menerima kodrat. Ia dihakimi melawan hukum agama.

Walau kerjanya menghibur banyak orang, Dorce sering gusar. Saya teringat lukisan terkenal berjudul Joker. Tampak di kanvas, seorang penghibur melepas maskernya yang selalu tertawa. Di balik masker itu, nampak wajahnya yang berduka. Sedih. Getir.

Terakhir yang Dorce sedihkan soal kematiannya. Ia ingin dimakamkan sebagai wanita. Itu keinginannya sejak kecil: diakui sebagai wanita. Perempuan.

Kontroversi ahli agama pun saling silang. Ada yang menyatakan, Ia tak boleh dimakam sebagai perempuan karena ia lahir sebagai lelaki. Ini melanggar syariat agama.

Ada pula yang menyatakan ia boleh dimakam sebagai perempuan karena pengadilan sudah memutuskan jenis kelaminnya yang baru.

-000-

Mengenang wafatnya Dorce, saya juga terkenang Sarah McBride. Ia transgender pertama di Amerika Serikat yang terpilih sebagai senator, di tahun 2020.

Ia terpilih dari daerah Delaware. Sarah mengalahkan calon inkumben dari Partai Republik.

Sarah memang aktivis dari kelompok LGBT. Beruntung Sarah karena sebelumnya, ia sempat bekerja dan berpengalaman di Gedung Putih di bawah Obama. Pengalaman ini ikut menambah kredibilitasnya untuk bertarung dalam pemilu.

Ketika terpilih, Sarah membuat pernyataan yang kuat. “Malam ini menjadi saksi. Untuk mereka yang selama ini mengalami diskriminasi karena LGBT, ketahuilah: zaman sudah berubah.”

“Saya kini terpilih. Mereka yang memilih saya. Publik luas yang memilih saya. Ketahuilah! Demokrasi kita cukup luas bagi anak anak LGBT.”

Jika di dunia belum kau alami diterima apa adanya, semoga di akherat sana, kau tak lagi kecewa. Selamat jalan Dorce. Selamat jalan temanku masa kecil. ***

Denny JA – 16 Februari 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini