Peta jalur rempah dunia
Peta jalur rempah dunia. Foto Kemendikbud

….yang mereka lakukan hanya mencontek dengan lebih jahat, destruktif dan tak malu….

Entah sejak kapan. Sungguh, “menjadi revolusioner adalah kutukan alam raya untuk segera menjadi pahlawan. Sebaliknya, menjadi elite Indonesia adalah kutukan menjadi pengkhianat bangsa.”

Beberapa pengkhianat itulah yang kini sedang berkuasa dan KKN di mana saja dan kapan saja.

Mereka menghapus ingatan sejarah besar peradaban Nusantara; dunia Atlantik; sorga di Timur; negeri Atas Angin.

Dengan sengaja, mereka menggiring sejarah Indonesia sebagai bagian kecil dari sejarah dunia (we part of them).

Para pemimpin kita pasca Bung Karno dan Pak Harto berlagak seperti para tetua pikun. Bukan kaum tua suci yang mengerti bahwa Nusantara adalah arus besar yang mereplika dunia.

Padahal, jalur-jalur perdagangan dan pelayaran dunia adalah jalur nenek moyang kita. Saat dunia lain belajar merangkak, kita sudah berlari mengajarkan modal emas sebagai model mengelola perekonomian dunia dan negara.

Saat dunia lain belajar memasak, kita sudah mengekspor ramuan rempah-herbal sebagai cara menikmati dunia. Saat negara lain belajar membuat pintu rumah, kita sudah ajarkan membuat keajaiban dunia; tempat bertemunya rumah ibadah, pariwisata, kuliner, fashion dan olahraga. Itulah candi-candi yang tersebar di seantero nusantara.

Dan, bukankah kuil-kuil negara lain hanya kopi candi-candi Nusantara? Siapa bisa menyangkalnya.

Tapi kini mengapa kita jalan merangkak dan menjadi tukang cuci sempak-sempak mereka?

Sebab di tangan pengkhianat dan ceculun begundal itulah kita langgeng jadi budak. Budaknya bangsa-bangsa yang kerjanya tertawa mengekspor babu tiap waktu untuk diperkosa.

Mereka merubah “jalur emas, jalur rempah dan jalur pengetahuan” menjadi “jalur sutra, jalur segitiga setan (WTO, WB, IMF) dan jalur pasar neoliberal.”

Mari kita lihat. Tahun 2014 saja kita menghasilkan 105 ton emas. Sebab Indonesia saat ini memiliki cadangan emas sebanyak 9.000 ton, terbesar di dunia walau dikuasai asing. Berikut peta seantero tambang emas Indonesia: 1. Mimika (Papua), 2. Cikotok (Jawa Barat), 3. Bengkalis (Riau), 4. Tanggamus (Lampung), 5. Bombana (Sulawesi Tenggara), 6. Rejang Lebong (Bengkulu), 7. Bolaang Mangondow (Sulawesi Utara), 8. Logas (Riau), 9. Sarolangun (Jambi), 10. Merangin (Jambi), 11. Meuleboh (Aceh), 12. Monterado (Kalimantan Barat), 13. Malinau (Kalimantan Timur), 14. Kotabaru (Kalimantan Selatan), 15. Kapuas (Kalimantan Tengah), 16. Banyuwangi (Jawa Timur).

Dari beberapa tempat penghasil emas tersebut, Grasberg atau PT Freeport adalah salah satu pertambangan emas terbesar di dunia. Mereka punya cadangan emas hampir 150 juta troy ounces.

Kalau dirupiahkan, cadangan emas ini nilainya setara Rp 11.200 triliun. Mereka memproduksi hampir 1,440 juta troy ounces dan 2,35 miliar ton material bijih pertahun.

Jadi, jika ada berita emas di Amerika dan negara-negara Eropa, sesungguhnya itu emas dari rampokan Nusantara.

Sayang, saat emas-emas itu mengalami asingisasi maka rempah mengalami asengisasi. Padahal manusia Cina, Eropa dan dunia tak bisa jadi manusia kecuali mereka mengkonsumsi cengkeh, pala, barus, manisan, mrica, kopra dan lain-lain sejak 1700 SM.

Jalur rempah (spice route) hari ini dirubah dengan drastis jadi jalur sutra (silk road) ala Cina.

Padahal, praktis ada lebih dari 19 kota dan 190 kapal yang disumbangkan Indonesia ke dunia. Lebih dari 200.000 Triliun yang sudah kita sumbangkan ke dunia.

Inilah drama tragis kolonialisme yang kini dihapus dengan isu ecek-ecak di semua media, kampus dan rumah ibadah.

Lewat jalur segitiga setan, kini model, modal dan modul pembangunan kita bertumpu pada pertumbuhan, urban, utang dan anti kebijakan dan kebijaksanaan lokal.

Lewat jalur pasar neoliberal, kini istana hanya berisi orang-orang berpikir ekonometrika serta para penyembah kurs bebas dan kantong bolong.

Singkatnya, metoda Atlantis terhapuskan. Manusia nusantara absen. Kurikulum pancasila mati dan mental merdeka sudah tak ada. Arus balik dari pembuat jalur-jalur dunia menjadi pembebek dunia terjadi secara akut. Emas habis. Rempah punah. Manusia membudak binasa.

Wahai generasi atlantik, bangkitlah. Sebab menjadi revolusioner adalah menulis sejarah sendiri. Bukan pikun apalagi mati. Kinilah saatnya kita menegakkan sallus populi suprema lex esto.

Sebab tanpa sejahtera, apa artinya merdeka? Inilah saatnya kita berkata “they part of us” seperti buku-buku para pendiri republik yang sudah kuwakafkan pada kalian.

Kawan, tahukah kenapa ayat pertama memerintahkan manusia membaca? “Sebab kemiskinan, kebodohan dan kekalahan harus diobati dengan ilmu pengetahuan luas dan dalam, bukan hanya iman.”

Betapa banyak orang beriman tetap miskin, bodoh dan kalah adalah karena ia tak berilmu. Iman tanpa ilmu adalah kegelapan: miskin, bodoh dan kalah.”

Nah, kalau itu digunakan sebagai “analisa” maka akan ketahuan di mana posisi kita. Apakah hanya punya iman, punya ilmu atau punya keduanya.

Bacalah. Tulislah. Sebab tulisan mampu menembus sejuta kepala dan melampai zaman. Revolusilah. Rebut jalur rempah dunia. Martabatkan nusantara. Jadilah manusia atlantik, insan pancasila dan Indonesia seutuhnya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini