Ilustrasi kitab kesesatan
Ilustrasi kitab kesesatan. Foto Pixabay/Tama66

Mestinya, hidup bisa dirayakan. Tanpa kecemasan. Sambil meniup hujan. Di kaki langit baturaden. Agar sadar bahwa tak semua harapan didapatkan. Itulah kuasanya semesta. Tuhan, tentu saja maha tak adil. Sebab, kalau dia adil menurut manusia, aku pasti sudah jadi raja. Mungkin raja uang yang beagama seperti di bawah ini:

Pada uang, kami mengabdi. Pada uang, kami berbakti. Kapankah aku bisa mentransfermu satu juta dollar? Bukan mentransfer satu juta rupiah seperti yang baru kulakulan. Ini mimpiku dari pengabdian dan perbaktianku pada uang dan padamu.

Tentu agar kamu bisa ke salon, beli baju bagus, cuci muka agar cling, makan di resto terbaik dan operasi perut yang makin terlanjur gendut.

Kamu pasti tak paham. Hidup di negara ini, kutemukan manusia-manusia getir tetapi begitu optimis menjalani hidup. Akibatnya, mereka bekerja apa saja. Seperti aku yang tak dapat kesempatan sekulah sarjana. Dengan penghasilan tak seberapa tentunya. Maka, hiburan satu-satunya hanya mengkhayal: mentransfermu sejuta dollar, misalnya.

Tentu. Mentransfermu satu juta dollar agar mulutmu tak berbusa-busa merengek-rengek tiap Rabu dan Sabtu. Sebab, kamu juga tak tahu bahwa kebahagiaan itu bagaikan bayangan, semakin dikejar semakin menjauh: sejauh-jauhnya. Kamu juga tak tahu bahwa kasih sayang itu bagaikan sinar, semakin dirasakan semakin pudar: sepudar-pudarnya.

Maka, bahagia dan kasih sayang itu enigma. Teka-teki yang tak mudah dicerna. Walau cernanya pakai dollar sekalipun. Dus, menulis keduanya seperti menggambar angkasa. Jauh, luas dan tak bertepi. Seperti serangga ungu yang kesiangan mengentup bunga-bunga.

Kamu juga tak tahu. Sebab memang banyak yang kamu tak tahu. Bahwa, karena hidup tanpa kejeniusan, manusia Indonesia ribut soal pakaian. Akhirnya, beradaban bertakdir muram jika hidupnya hanya mikir baju, jidat dan huruf.

Aku harus jujur. Walau belum bisa mentransfermu satu juta dollar, tetapi saat terbangun aku mencarimu. Begitu seterusnya sampai kutahu kamu telah tiada. Lalu, sering kutulis gugat: siapa kini pahlawan hamba yang setia menemani dalam duka dan suka? Mungkin setelah transfer satu juta dollar kulakukan untukmu. Hanya untukmu.

Sebelum rapat kampus, aku ingat hal penting. Kuketik khusus buatmu sebagai tambahan transfer satu juta rupiah. Bahwa, tuhan tak punya sejarah tunggal. Sedangkan, agama punya beragam sejarah yang sangat luwas. Sebaliknya, Indonesia memiliki sejarahnya sendiri yang khas. Tetapi, tuhan, agama dan Indonesia ditautkan dalam satu kalimat enigmatis, “keuangan yang maha aseng” dalam vansusila.

Kamu ingin tahu kredo baru? Kredo dari kitab-kitab babon tua untuk warga negara. Kalau kalian tidak berontak, kalian bukan mahasiswa. Kalau kalian tidak kudeta, kalian bukan tentara. Itulah kredo kepemimpinan Indonesia.

Sayangnya, kini tak ada lagi mahasiswa; tak ada lagi tentara. Mereka telah beralih rupa. Jadi intelektual tukang dan budak orang kaya. Maka, kepemimpinan Indonesia kini diisi kegaduhan dan pelacuran saja. Tak lebih. Tak kurang.

Maka, sudah tiga tahun sejak kamu berkuasa, aku bertanya apa makna pulang: ke mana dan buat siapa? Juga makna pergi: buat apa dan apa manfaatnya?

Karenanya, yang kudapat saat pulang dan saat pergi adalah kehilangan sejuta sunyi, sesunyi-sunyinya. Mirip nyanyi bisu si lelaki senyap tak bertepi yang duduk di kursi tetapi tak tahu itu kursi, sekursi-kursinya. Paria.(*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini