Kematian Socrates
Kematian Socrates. Foto Pixabay/GDJ

Bidadari Jordan. Begitu tesisku tentangmu. Mungkin karena busuk mulut, atau memang kulit dan hidungmu seperti lukisan Monalisa, Ratu Jordan yang jenius menyulap tanah tandus menjadi kota segala kota. Di mana di banyak tembok wisatanya tertulis mural, “setiap kematian hanyalah jalan. Sedangkan kehidupan hanyalah waktu antara: stasiun bagi kereta; terminal bagi bus; bandara bagi pesawat dan pelabuhan bagi kapal. Momen kehadiran dan kehilangan hanyalah sejarah dan ketikan nasib dengan segala aspek kerelaan. Pahamilah takdir yang lain, agar kita tak menumbuhkan nafsu angkara.”

Maka, mungkin hanya perlu kemurungan dan kerinduan agar dijadikan penanda bahwa kita pernah melewati suatu masa untuk dijadikan kenangan kelak saat ajal tiba dan kita sudah tak bisa apa-apa. Sebab, terminal baru akan tiba, kita masuki entah dengan gentar ataupun suka cita. Tetapi, setidaknya kita punya kenangan soal “ugo-rampe” kehidupan.

Sebelum ajal menjemput dengan gairah baru, engkau memilih menjadi sufi daripada berkhianat pergi. Engkau memilih menyepi daripada ngapusi. Engkau memilih salafi daripada gila tak tahu diri. Engkau memilih sunyi daripada berkelahi. Memaafkan dengan air mata yang tak cukup sederas sungai Serayu. Maaf untuknya yang tak tahu diri.

Tentu saja, engkau manusia luar biyasa. Mengubah dendam menjadi waktu ibadah. Menundukkan nafsu menjadi doa. Membuang rindu diganti menangkap syorga. Mati sebelum mati. Suri sebelum jasadi. Seperti kuntilanak yang senyumnya semarak tak pernah mandi. Menjejar perih dan pedih di sepanjang gedung-gedung dan lembar-lembar daun pohon kurma. Terlihat sangat-sangat sengsara.

Maka, tesisku berikutnya adalah engkau tak punya kasih, kagum, kangen dan horni lagi. Dunia hanya gedebok bosok tak layak dirayakan, apalagi diperjual belikan. Engkaulah si Rabiah al-Adawiyah. Manusia suci yang hanya ingin mabuk di syorga dan orgasme bercinta dengan tuhannya.

Bagi Rabiah, budaya korupsi dan budaya miskin itu lebih berbahaya dari “korupsi dan kemiskinan” itu sendiri. Maka tak perlu dipeluk saat kita hidup. Budaya itulah yang diwariskan oleh penjahat kolonial dan “dipakai-ditradisikan” para pejabat Indonesia dari partai dan ideologi apapun. Itulah mengapa KKN tetap subur dan perilaku mengemis utang tak dianggap merendahkan martabat manusia Indonesia. Haduh. Sedih. Piye iki yo? Kita bertanya.

Hidup mungkin pada akhirnya bukan lagi sekedar kalah-menang, awal-akhir, juara-pecundang atau apapun sebutan manusia biasa. Sebab buatmu, “hanya orang yang rabun sejarah yang bertanya kapan perjuangan selesai.” Bukankah ketika Muhammad sudah di sorgapun, dia masih berjuang mohon padaNya agar Tuhan menyelamatkan umatnya yang tersisa, “begitu terus kalimatmu jika ditanya kaum sosialita.”

Sangat relevan tentu saja. Antara pikiranmu dan tesisku: bahwa orang-orang seperti kita tak layak mampir di Indonesia. Sebab, apa artinya Indonesia kini menurut kamus-kamus purba dan kitab-kitab suci yang masih abadi? Adalah taman yang artinya: “Tanah bancakan. Sorga kerakusan.” Andai saja bancakanku adalah gairah puisimu dan kerakusanmu adalah niatmu menabur bunga pada hatiku. Anda saja.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini