Presiden Jokowi soal Rusia Ukraina
Presiden Jokowi soal Rusia Ukraina. Foto Instagram @jokowi

Hariansemarang.id – Rusia melancarkan serangan terhadap negara tetangganya yaitu Ukraina, Kamis 24 Februari 2022. Konflik Rusia-Ukraina telah menjadi perhatian global, banyak negara menentang tindakan Rusia namun ada juga yang mendukung. Lantas bagaimana dengan sikap Indonesia?.

Direktur Institute of National Resilience Watchdog (INRW), Ken Bimo Sultoni dalam acara diskusi online bertajuk “Menyikapi konflik Rusia-Ukraina dari Sudut Pandang Pertahanan Nasional” yang diselenggarkan HMI FISIP Undip, Kamis malam 3 Maret 2022 menyatakan sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia sejauh ini telah mengambil sikap yang tepat dalam menanggapi konflik yang terjadi.

“Statement presiden Jokowi yang menyatakan perang hanya akan menyengsarakan rakyat adalah sikap yang tepat untuk menunjukan sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,” kata Ken Bimo.

Akan tetapi ia juga menambahkan, dalam menanggapi konflik ini Indonesia juga harus dapat mengambil peran aktif sebagai penengah atau mediator konflik agar polarisasi konflik tidak makin meluas dan membuat efek bola salju yang lebih besar.

“Kontitusi UUD 1945 mengamanatkan bahwa Indonesia harus ikut serta  dan aktif dalam menjaga perdamaian dunia, maka sebagai pimpinan negara G20 Indonesia seharusnya dapat mendorong upaya penyelesaian konflik ini, salah satunya adalah dengan mengajukan diri untuk menjadi mediator perdamaian antara Rusia dan Ukraina,” kata dia.

Konflik Rusia-Ukraina ini harus dipandang secara bijak, pelajaran yang dapat diambil, konflik ini terjadi karena perpecahan internal di Ukraina, negara sisi barat menginginkan intergrasi dengan Uni Eropa, sedangkan wilayah timur dengan Rusia.

Tommy Rahadian Setiaji, Letnan Dua Corps Penerbangan TNI, sekaligus mahasiswa pascasarjana Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia menyatakan belajar dari konflik ini, Indonesia tidak boleh terpecah belah sebab mengacu pada apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa potensi konflik yang paling besar berasal dari internal bengsa sendiri.

“Indonesia harus semakin memperkuat pertahanan sendiri, karena potensi konflik dari negara sendiri jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan konflik dari luar, jika berseteru dengan negara lain kita pasti bersatu, namun ketika konflik dengan bangsa sendiri kita akan sulit membedakan musuh“ ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini