Merindukan Indonesia
Merindukan Indonesia. Foto Pixabay/sferrario1968

Mungkin. Ya mungkin. Sejarah indonesia adalah sejarah kerakusan, penjajahan dan kemiskinan. Ilmu indonesia adalah ilmu jejadian, penyesatan dan pengaburan. Ekonomi indonesia adalah ekonomi penistaan, ilusi dan sok ilmiah. Warga indonesia adalah warga budak, kesusahan dan kepahitan. Elite indonesia adl elite kebajinganan, kerakusan dan kekufuran. Agama indonesia adalah agama fundamentalisme, kepasrahan dan eskatologisme.

Tanpa dentuman raksasa, takdir manusia Indonesia mati di lumbung demokrasi liberal: modal bacot dan dollar. Irama lagunya tipu sana kentit sini.

Ya. Ini jenis indonesia lama. Paket lengkap jahiliyah. Frustasi tiada henti. Jahiliyah purba. Yang akan berganti baru jika kita yang berkuasa. Kuasa yang crank dan menyempal. Karena memuja intelektualisme, spiritualisme, muktikulturalisme dan humanisme berbasis mutualisme dan resiprokal antara theo-antro-ecocentrisme.

Karenanya, dalam skema postulat mentalitas purba dan kolonial, manusia Indonesia ada empat model:

1) Bermental raja, berperilaku raja. Orang ini besar dan mengubah zaman. Sejuta satu. Membanggakan sekitar. Jenis ini paling langka di Indonesia. Tan, Karno, Hatta, Dirman, Pram dan Madjid adalah beberapa contohnya.

2) Bermental raja, berperilaku jelata. Mirip indonesia: kaya SDA tapi miskin kuasa. Antara posisi dan kenyataan tak seirama. Memalukan sekitarnya. Syahrir, Harto, Malik dan Durahman adalah beberapa contohnya.

3) Bermental jelata, berperilaku raja. Boros dan tidak tahu diri. Hidup dalam alam ilusi. Membingungkan sekitarnya. Elite kebanyakan kini seperti Susek dan Kowi adalah beberapa contohnya.

4) Bermental jelata, berperilaku jelata. Jujur dan apa adanya. Sekehendak takdir dan seirama global. Sekrup peradaban. Ini yang paling banyak. Para pedagang kaki lima adalah contoh kongkritnya.

Dari golongan yang pertama lahirlah Indonesia Raya. Apa yang raya? Sebagai sebuah gagasan, indonesia adalah republik yang anti feodalisme (siapa ortumu); anti fasisme (apa ijasahmu); anti fundamentalisme (apa agamamu); anti kapitalisme (berapa dolarmu); anti suara dominan (mayorokrasi); anti suara tunggal (minorokrasi).

Sebab itu, yang ditanyakan adalah “apa gagasanmu dan apa prestasimu.” Karena itu, indonesia lahir sebagai karnal (menyimpang dari keumuman) yang hibrida; terbuka, toleran, genuin, moralis, bersih dan nalar publik.

Sayangnya kini kita banjir neoliberalisme; idenya berapa duitmu dan mana hasil rampokanmu. Indonesia jadi sangat menjijikkan buat kita dan bagi generasi yang mencintai Pancasila. Muntah-muntah kita dibuatnya. Sebab banjir lendir dan sinetron basi di mana-mana.

Maka, bagi kaum idealis, negeri ini tempat untuk “bisa” memahami (saja). Bagi kaum pengkhianat, negeri ini tempat untuk “banyak” mencuri. Bagi para aktifis, negeri ini tempat untuk “tahu” onani. Bagi para pahlawan, negeri ini tempat “berperang yang never ending stories.”

Kini, “jika indonesia adalah menara Pancasila, Soekarnolah yang membuat pondasinya. Pramoedyalah yang membangun temboknya. Dan, akulah yang akan memastikan terpasang atapnya agar tugas presiden berikutnya tinggal membawa kejayaan-kemakmuran-keadilan di dunia.”

Berperang-perang dahulu, singkirkan begundal kemudian. Menikam mati neolib dahulu, untuk membangun kesejahteraan yang tak gaib. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas. Semua pengkhianat harus lenyap, agar pahlawan-pahlawan baru segera tunas.

Kalian mau bersamaku atau bersama para begundal lokal yang berbahagia di atas derita sesama? Kalian bersamaku atau mau putus asa? Kalian memaknai Indonesia sebagai apa? Ayok tentukan sikap kalian, segera.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini