Anies Baswedan. Foto Instagram @aniesbaswedan
Anies Baswedan. Foto Instagram @aniesbaswedan

Oleh Erwin

Pilpres masih jauh, tetapi bakal calon terus mendekat. Inilah nasib tinggal di Indonesia. Kita terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memimpin lalu kita melupakan apa yang dilakukan ketika memimpin. Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin masih menjabat, bung.

Alangkah lebih baiknya kalau kita fokus ke janji dan program kerja rezim yang sedang dijalankan, yang baik diapresiasi dan yang buruk dikritisi, itu lebih adil. Tetapi ya sudahlah, kita sudah terlanjur terjebak di wacana Pilpres 2024, wabilkhusus siapa yang menjadi Capres dan Cawapres.

Kalau kita harus jujur ada satu nama tokoh yang terus dibahas dan selalu masuk dalam daftar calon presiden alternatif. Namanya selalu muncul bukan hanya untuk 2024 yang akan datang malahan untuk tahun 2014 dan yang sempat ramai tahun 2019 yang lalu, dialah Anies Rasyid Baswedan yang saat ini sedang menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Berdasarkan hasil survei baik Indikator politik Indonesia, Litbang Kompas dan SMRC, ketiga lembaga survei itu sama-sama mengumumkan bahwa Anies Baswedan selalu masuk dalam 3 besar bakal calon presiden 2024 dengan elektabilitas tertinggi, selain Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Mengapa tokoh seperti Anies yang selalu di-bully justru namanya tetap melambung tinggi?

Kesediaannya menjadi Calon Gubernur DKI pada tahun 2016 membuat Anies semakin menjadi sorotan nasional, ada yang positif namun disorot juga dengan persepsi negatif seakan-akan dia warga negara yang penuh kelemahan.

Walaupun Anies sudah jauh-jauh hari terlibat dalam kegiatan politik, pernah menjadi Moderator Debat Capres dan Cawapres tahun 2009, Peserta Konvensi Capres Partai Demokrat tahun 2013, hingga ditunjuk menjadi Juru Bicara Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Jusuf Kalla di Pilpres 2014 dan menjadi Deputi Tim (Kantor) Transisi setelah pasangan itu terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Namun dia justru baru mulai panen persepsi negatif (bully) di tahun 2016 gara-gara maju jadi Calon Gubernur DKI Jakarta dan tahun-tahun setelahnya, karena menduduki jabatan itu.

Persepsi negatif ini tidak terlepas dari kerja-kerja politik dari tim sukses dan buzzer-buzzer politik di media sosial yang mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lainnya yang ikut dalam kontestasi politik tersebut.

Di Pilkada DKI itu, dia seperti dikepung dari berbagai penjuru, dituduh poligami dan korupsi, dituduh menggunakan politik identitas dengan bekerja sama dengan kelompok intoleran dan memanfaatkan sentimen agama untuk mendulang suara di Pilkada. Demikian nasib Anies Baswedan sejak memutuskan masuk rimba raya politik praktis sebagai pemain langsung.

Sejauh ini, sejumlah serangan yang pernah ditujukan kepada Anies untuk mencoreng kepemimpinannya mulai dari pemasangan pohon-pohon imitasi yang berbahan plastik yang menimbulkan bully di media sosial, dianggap gagal dalam penanganan banjir, realisasi dari program kerja hunian terjangkau dan DP Nol rupiah yang dianggap tidak sesuai harapan. Disamping itu juga terjadi tindak pidana korupsi dari sisi pengadaan lahan.

Anies juga dianggap mengingkari janji kampanyenya karena mengubah syarat warga dengan batas penghasilan awalnya 7 juta rupiah menjadi 14,8 juta rupiah untuk memperoleh hunian tersebut. Revitalisasi Monumen Nasional dengan cara menebang pohon, jumlah Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang melonjak jumlahnya di era Anies, kebijakan soal PSBB total untuk mengendalikan penyebaran Covid, hingga rencana beliau menyelenggarakan (tuan rumah) ajang balap mobil listrik Formula E yang diserang habis-habisan oleh para pengkritiknya.

Bila diperhatikan dengan jeli media mainstream, dan utamanya para buzzer politik lebih banyak menyorot (durasi pembahasan lama) kelemahan-kelemahannya selama menjabat sebagai Gubernur, ketimbang membahas prestasi selama memimpin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Deretan prestasi itu misalnya sebagai Pahlawan 21 heroes oleh Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI), Sustainable Transport Award 2021, IDC Future Enterprise Awards 2021, serta sejumlah prestasi lainnya yang tidak usah disebut satu persatu.

Tentu saja tokoh ini memiliki kelemahan, tetapi terlepas dari kelemahan-kelemahan itu Anies Baswedan tetap menjadi jagoan yang diharapkan akan ikut berlaga di Pilpres 2024 nanti. Survei sudah membuktikan.

Bila kita menggunakan analisis Pierre Bourdieu seorang Sosiolog Prancis, maka persyaratan untuk bisa terlibat dalam kontestasi politik di Indonesia, minimal orang itu mempunyai 4 modal.

Empat modal itu telah dimiliki oleh Anies Baswedan. Pertama, modal sosial. Anies adalah orang yang sudah lama membangun jejaring sosialnya sejak kecil, berkat kecerdasan serta kepandaiannya dalam bergaul, saat masih menjadi siswa pernah menjadi Ketua OSIS se-Indonesia 1985, saat mahasiswa menjadi Ketua Senat UGM 1992. Sehabis menyelesaikan semua jenjang pendidikannya, dia terlibat di beberapa lembaga yang memungkinkannya bertemu dengan beragam orang dari seluruh penjuru tanah air. Paling menarik perhatian luas ketika dia menggagas Gerakan Indonesia Mengajar sebagai bukti kepeduliannya terhadap Pendidikan dan Generasi Muda di tanah air.

Anies Baswedan saat mahasiswa UGM. Foto Instagram @aniesbaswedan

Kedua, modal kultural. Bidang pendidikan adalah dunianya, dia orang yang brilian, itu bisa dilihat dari riwayat pendidikannya. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dia sempat menjadi peserta program pertukaran pelajar selama setahun di kota Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Dia mengambil studi S1-nya di Universitas Gadjah Mada, salah satu universitas terbaik di Indonesia.

Sebelum lulus kuliah dia sempat mendapatkan beasiswa, program musim panas di Sophia University, Jepang. Untuk studi S2 dan S3 di negara adikuasa, Amerika Serikat tepatnya di University of Maryland dan Northern Illinois University, kedua studinya itu bisa ia peroleh lagi-lagi melalui beasiswa. Kembali ke tanah air menjadi akademisi dan peneliti hingga terpilih menjadi Rektor Termuda yang dilantik untuk memimpin Universitas Paramadina dan paling strategis dia pernah menempati posisi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah atau yang lebih kita kenal dengan nama Kemendikbud untuk Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla Periode 2014-2016.

Ketiga, modal ekonomi. Meskipun bukan salah satu orang terkaya di Indonesia, Anies bisa dibilang sudah mapan secara ekonomi dia sudah bekerja puluhan tahun demi bisa menafkahi keluarganya dengan baik. Mana mungkin Anies mau bersedia mencalonkan diri di Pilkada dan terpilih bersama Sandiaga Uno jika dia masih sibuk mengurus ekonomi keluarganya, bukankah biaya politik di Indonesia mahal bukan?

Keempat, modal simbolik. Anies Baswedan merupakan sosok yang memiliki karisma tersendiri, dan itu adalah hasil dari kombinasi modal sosial dan kulturalnya. Dia bukanlah orang yang hanya mengandalkan silsilah keluarganya. Memang ayahnya mantan Wakil Rektor UII dan ibunya seorang guru besar di UNY, kedua orang tuanya merupakan pendidik dan ditambah lagi dia adalah cucu dari seorang Pahlawan Indonesia Abdurrahman Baswedan. Namun dia memilih memulai semuanya dari bawah seperti kebanyakan orang. Dia tidak terlena dengan nama besar keluarganya, dia giat dalam studi, giat dalam berorganisasi dan giat dalam berdedikasi.

Politisi independen sekaliber Anies Baswedan yang menduduki jabatan Gubernur DKI Jakarta sangatlah langka kita temukan di Indonesia.
Kita terkadang terlalu sibuk mencari kelemahan orang lain dan menutup mata akan semua kelebihannya dan melupakan begitu banyaknya kelemahan pada diri kita sendiri. Saat bangsa lain sudah mengakui kehebatannya, orang yang namanya dimasukkan dalam Daftar 100 Intelektual Dunia (Majalah Foreign Policy), 20 Orang yang akan Mengubah Dunia (Majalah Foresight), Young Global Leaders 2009 (The World Economic Forum), serta masuk dalam Daftar 500 Muslim Berpengaruh Dunia (Royal Islamic Strategic Centre, Yordania).

Hanya karena alasan kebencian dan kepentingan kita menyerang saudara kita sesama anak bangsa demi menjegal yang bersangkutan untuk “Melunasi Janji Kemerdekaan”. Tidak cukupkah Integritas dan Kapabilitas itu ? untuk membuka mata hati kita. Kita mesti turun tangan demi masa depan Indonesia, dan itu dimulai dengan menentukan pilihan untuk tahun 2024.. URAA…!!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini