Anies Baswedan. Foto Instagram @aniesbaswedan
Anies Baswedan. Foto Instagram @aniesbaswedan

Oleh Dani Satria  Peneliti di Forum Demokrasi Rakyat Madani (FDRM)

Anies Rasyid Baswedan merupakan nama yang lekat kaitannya dengan pembaruan dan gebrakan visioner di berbagai ragam bidang. Sosoknya cerdas, inovatif dan berani. Saat ini, Anies adalah salah satu figur yang paling kerap dibicarakan di Indonesia, terutama di media massa. Kisah karir dan inovasinya sangat memikat untuk ditelusuri. Mulai dari rektor Universitas Paramadina di usia yang masih muda yaitu 38 tahun, sampai sekarang saat menyandang sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Anies termasuk akademisi yang sukses. Keberhasilannya sebagai akademisi tidak hanya terlihat dari posisi tertingginya di suatu perguruan tinggi saja, melainkan dia juga menginisiasi gerakan ikonik berupa “Indonesia Mengajar” yang lahir pada dekade silam. Gerakan di ranah pendidikan ini tentunya sangat inspiratif dan powerful dengan dampaknya yang besar bagi pendidikan di daerah terpencil. Tak heran, banyak mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi yang sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Sampai saat ini, Indonesia Mengajar masih tetap eksis dan terus memfasilitasi para pengajar muda dalam mengabdikan dirinya untuk masyarakat terpencil.

Selain berkiprah di dunia pendidikan, Anies juga seorang konseptor dan penggerak massa yang handal. Pada tahun 2014, Anies merupakan juru bicara (jubir) dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dan memenangkan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) pada saat itu. Kemenangan pasangan ini juga atas andil besar dari strategi tim suksesnya, termasuk Anies sebagai ujung tombaknya. Setelah Pilpres usai, Anies ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kebudayaan). Selama menjabat, Anies mengeluarkan kebijakan yang cukup revolusioner dalam dunia pendidikan Indonesia kala itu. Beberapa kebijakan tersebut antara lain, nilai Ujian Nasional (UN) bukan sebagai indikator mutlak kelulusan siswa, memberangus perpeloncoan serta imbauan bagi orang tua agar bisa mengantar anak di hari pertama sekolah.

Pertemuan Personal

Saat munculnya kebijakan nilai UN bukan menjadi syarat kelulusan siswa, saya pun tertarik untuk mewawancarai beliau pada April 2015, saat masih menjadi jurnalis. Saya SMS beliau untuk meminta wawancara eksklusif guna keperluan liputan khusus dan mendalam. Beliau mengiyakan dan meminta saya langsung datang saja ke rumahnya pada hari sabtu pagi di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah beberapa kali naik busway dan mikrolet, akhirnya saya sampai di jalan yang mengarahkan ke rumah beliau yang bergaya arsitektur khas Joglo itu. Di ruangan tamu itu akhirnya kita berbincang-bincang. Dan beliau menekankan bahwa aspek yang terpenting bagi siswa adalah sikap yang mencerminkan integritas atau kejujuran. Beliau memang sangat peduli sekali dengan kejujuran.

Tidak hanya itu, UN kala itu juga merupakan yang pertama kalinya dilakukan berbasis komputer. Tujuannya adalah agar pemerintah dapat meningkatkan kejujuran para siswa, karena dapat meminimalisir kecurangan. Nantinya akan ada skor indeks integritas yang dirilis pemerintah bersamaan dengan pengumuman hasil UN tersebut. Semakin besar skor integritas siswanya, maka artinya akan semakin bagus juga prestasi sekolahnya. Di luar topik tersebut, kami juga ngobrol sambil sarapan pagi bersama tentang banyak hal, mulai dari Indonesia Mengajar, kesibukan di kementerian saat itu dan inovasi-inovasi baru yang akan diluncurkan. Setelah berbincang hampir dua jam tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah sosok yang penuh dengan inovasi dan gebrakan.

Setelah pertemuan di tahun 2015 tersebut, saya belum berkesempatan lagi untuk mewawancarai beliau. Hingga pada suatu kondisi di mana perkembangan politik membuat Anies harus mundur dari kursi Mendikbud pada tahun 2016. Banyak yang berspekulasi bahwa karir Anies telah usai. Namun pada saat itu, karir politiknya justru semakin menanjak, khususnya pada saat maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, bersama dengan Sandiaga Uno. Uniknya dari pasangan ini adalah, keduanya merupakan jubir dari masing-masing pasangan calon dari Pilpres 2014. Dan pada akhirnya pun, pasangan Anies-Sandi berhasil memenangkan kontestasi Pilkada DKI Jakarta di tahun 2017.

Semakin Cemerlang

Dari pengalaman Pilkada DKI lalu, Anies terbukti punya modal massa yang sangat besar. Pendukungnya begitu loyal kepada Anies. Bahkan bisa dikatakan, potensi figur alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu akan menarik berbagai partai politik untuk mengusungnya pada 2024 kelak. Sampai saat ini, nama Anies Baswedan selalu mencuat sebagai capres di berbagai lembaga survei. Dan kini sosoknya menjadi simbol perlawanan kepada rezim yang sedang berkuasa. Narasi yang selalu digulirkan oleh media massa dan diskusi publik selalu memuat makna: “Anies vs Rezim”. Tidak mudah dan butuh keberanian yang kuat untuk menjadi ‘oposisi’ dalam kondisi seperti ini. Namun, Anies mampu menjadi simbol ‘oposisi’ yang tangguh saat ini, karena kapabilitasnya di berbagai bidang.

Simbol perlawanan yang diwujudkan dalam sosok Anies Baswedan ini dapat disebut sebagai ‘Anies Baswedan Effect’. Anies adalah benchmark untuk para kepala daerah yang baru di Indonesia. Buktinya, Gubernur DKI ini mampu merealisasikan sebuah inovasi untuk kemajuan Ibu Kota dan mendapatkan penghargaan atasnya. Beberapa prestasi gemilang Anies yang pernah tercatat di tahun lalu antara lain 21 Heroes 2021 dari Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI). Kemudian ada Sustainable Transport Award 2021 dan DKI Jakarta berhasil memenangkan penghargaan tersebut. Selanjutnya ada KPPU Award 2021, IDC Future Enterprise Awards 2021, Top Digital Awards 2021 dan Top Leader on Digital Implementation 2021. Itulah sedikit dari banyak prestasi yang pernah diraih oleh Anies yang patut diapresiasi.

Selain itu, ‘Anies Baswedan Effect’ yang cukup menggemparkan di tahun lalu adalah ketika Anies berani mengambil resiko dan berbeda pandangan dengan pemerintah pusat terkait upayanya dalam menaikkan nilai upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta. Efek ini berbuntut panjang sampai membuat para buruh melakukan aksi unjuk rasa di daerah lain karena menginginkan kebijakan serupa. Dengan prestasi dan keberanian seperti ini, tidak heran apabila Anies selalu digadang-gadang untuk menjadi calon presiden di tahun 2024. Popularitasnya tinggi dengan efek atas kehadirannya yang luar biasa besar di negeri ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa Anies akan menjadi rival berat dan calon potensial di kontestasi politik tahun 2024. Orang hebat pastilah kontroversial. Orang hebat tentu saja memiliki efek yang besar bagi masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini