Anies Baswedan
Anies Baswedan. Foto Instagram @aniesbaswedan

Oleh Muhamad Syaiful Rifki Mahasiswa Jurusan Pertanian Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Anies Baswedan merupakan salah satu sosok akademisi dan politisi yang cerdas sekaligus kontroversial di mata masyarakat. Sosok politisi yang bertalar belakang akademisi di Indonesia memang sangat banyak, namun saya rasa tidak banyak yang seperti Anies.

Ketika dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo, masyarakat berharap wajah pendidikan di Indonesia dapat berubah. Ia diharapkan dapat membuat sebuah terbosoan dan kebijakan yang solutif serta inovatif untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Saat itu, kondisi pendidikan di Indonesia sangat miris. Banyak terdapat kasus perundungan dan perpeloncoan pada masa MOS di berbagai sekolah dan kampus yang mengakibatkan siswa atau mahasiswa baru mengalami tekanan mental dan fisik, bahkan hingga meninggal.

Selain itu, kesejahteraan guru di berbagai daerah juga belum merata ditambah banyak fasilitas pendidikan yang masih rusak utamanya di daerah perbatasan. Anies sebagai Mendikbud melakukan langkah pertama dengan mengubah MOS menjadi MPLS di mana di dalamnya guru berperan dominan untuk menghindari perpeloncoan.

Selain MOS, momok yang menjadi siswa pada saat itu adalah Ujian Nasional atau UN yang ditetapkan sebagai syarat mutlak kelulusan untuk menuju jenjang berikutnya. Para guru dan siswa berpendapat bahwa hal tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif. Anies meresponnya dengan mengeluarkan kebijakan bahwa syarat kelulusan siswa diambil 60% dari nilai sekolah dan 40% dari nilai UN yang dikerjakan. Slogan yang diusungnya saat itu adalah “lebih cepat lebih baik” untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia.

Namun, kecermelangan Anies sebagai Mendikbud tidak berlangsung lama. Masa jabatannya hanya bertahan selama 20 bulan. Ia merupakan salah satu menteri yang di-reshuffle oleh Presiden Jokowi pada 27 Juli 2016. Posisinya digantikan oleh Muhadjir Effendy. Kejadian tersebut juga menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Mengapa seorang menteri dengan kebijakan yang solutif tiba–tiba diganti. Meskipun tergolong singkat untuk mengemban amanah sebagai menteri yang membidangi sebuah sektor vital untuk menyiapkan generasi muda sebagai patriot-patriot bangsa, harus diakui Anies meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga.

Setidaknya ia berhasil menghapus sebuah tradisi yang sangat ditakuti oleh para siswa dan mahasiswa baru ketika memasuki sekolah dan kampus baru. Ia juga berperan dalam membatalkan pelaksanakan Kurikulum 2013 (K13) yang dianggapnya terlalu tergesa–gesa untuk diterapkan, sehingga menimbulkan kebingungan bagi para guru dan siswa.

Namun, sebuah kejutan yang sangat membuat masyarakat kaget adalah ketika dirinya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta 2017–2022 dengan menggandeng Sandiaga Uno. Koalisi Gerindra dan PKS merupakan kendaraan politik keduanya untuk mencapai posisi tersebut. Kapabilitas keduanya sangat diragukan karena dibanding dengan petahana saat itu yaitu Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, keduanya minim pengalaman untuk memimpin sebuah wilayah yang sangat multikultural dan multidimensional seperti Jakarta di mana masyarakatnya sangat beragam dengan berbagai budaya dan permasalahan yang turun temurun di dalamnya.

Setelah mengalami dua putaran pemilihan yang berjalan cukup ketat dengan berbagai intrik di dalamnya, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ditetapkan sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 oleh KPUD DKI Jakarta pada 5 Mei 2017, mengungguli pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat. Ia kembali dilantik oleh Presiden Jokowi, namun kali ini sebagai Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara pada 16 Oktober 2017.

Foto Instagram @sandiuno

Permasalahan Jakarta tentu tidak jauh dari tiga hal, yaitu banjir, macet, dan polusi udara. Latar belakang Anies sebagai akademisi diragukan oleh banyak pihak karena menurut masyarakat, pemimpin Jakarta harus seseorang yang solutif, karena penanganan banjir, macet, dan polusi udara tidak hanya dapat diselesaikan dari aspek teknis saja. Lebih dari itu, ketiga permasalahan tersebut membutuhkan kajian mendalam di berbagai aspek dengan melibatkan berbagai pihak agar dapat teratasi. Sebenarnya, jika ditilik dari persepsi publik, masalah banjir, macet, dan polusi udara di Jakarta sudah ada sejak gubernur sebelum Anies menjabat.

Oleh karena itu sangat tidak adil apabila hanya Anies yang disalahkan karena tidak dapat menyelesaikan permasalahan–permasalahan tersebut secara tuntas. Karena kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut bisa saja mengalami kekeliruan pada periode gubernur sebelumnya.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, Anies melanjutkan pembangunan beberapa proyek yang mangkrak pada pada periode gubernur sebelumnya. Misalnya saja untuk mengatasi banjir, ia melanjutkan proyek Waduk Pondok Ranggon, Sodetan Kali Ciliwung–Banjir Kanal Timur, dan sumur resapan di beberapa wilayah Jakarta.

Untuk mengatasi kemacetan, ia memberlakukan kebijakan ganjil–genap, melanjutkan proyek LRT dengan mengubah beberapa rute, dan memperbaiki tata kelola Trans Jakarta. Ia juga menjadi pelopor untuk menerapkan penggunaan kendaraan listrik di wilayah metropolitan untuk mengurangi emisi gas di atmosfer yang dapat menyebabkan pencemaran.

Sebagai bentuk branding Jakarta kepada dunia, ia mau mengambil resiko untuk menyelenggarakan Formula E yang berlokasi di Ancol. Meskipun mendapat tentangan dari berbagai pihak, ia memutuskan untuk melanjutkan proyek tersebut karena ia yakin perhelatan tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat Jakarta. Terakhir adalah selesainya pembangunan JIS atau Jakarta International Stadium sebagai stadion baru bagi Persija Jakarta. Proyek ini merupakan bentuk perwujudan Anies untuk mendukung pengembangan olahraga di Jakarta. Hingga tahun 2022, dirinya tercatat telah menerima 20 penghargaan dari berbagai pihak dalam membangun Jakarta.

Tahun 2022 merupakan tahun yang panas karena terjadi saling sikut antar elite politik untuk melenggang pada pemilihan presiden tahun 2024. KPU telah menetapkan bahwa pemungutan suara akan dilaksanakan pada bulan Februari 2024. Anies merupakan salah satu kandidat terkuat di antara berbagai tokoh seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Prabowo Subianto, Puan Maharani, Airlangga Hartanto, Agus Yudhoyono, dan tokoh politik nasional lainnya.

Elektabilitasnya selalu stabil meskipun menurut beberapa lembaga survei mengalami penurunan. Sosoknya seolah menjadi momok karena kepopulerannya di masyarakat. Banyak pihak yang menyerangnya dari berbagai sisi baik di daerah maupun secara nasional. Berbagai elemen masyarakat berharap dirinya mau maju menjadi calon presiden pada 2024, namun sampai detik ini, dirinya masih bungkam ketika ditanya mengenai pencalonannya sebagai presiden. Ia mengatakan ingin fokus membenahi berbagai permasalahan di Jakarta hingga akhir masa jabatannya.

Berbagai kebijakannyabaik sebagai Mendikbud maupun Gubernur Jakarta menimbulkan harapan terutama pada kaum – kaum milenial yang menginginkan perubahan di negeri ini. Sosoknya yang dingin dan terkesan “bodo amat” ketika diserang oleh musuh – musuhnya menjadi pertimbangan tersendiri di hati masyarakat. Pembangunan nasional maupun daerah perlu dipimpin oleh seorang yang memiliki prinsip dan tidak goyah ketika diintervensi oleh pihak – pihak lain yang ingin menghalangi tujuan pembangunan, yaitu menciptakan keadilan di masyarakat. Saya rasa, Anies Baswedan merupakan sosok yang tepat untuk itu. Idealisme dan intelektualitasnya menjadi modal berharga untuk mengawal impian besar yaitu bonus demografi Indonesia yang akan terjadi di tahun 2045. Kebungkamannya mengenai pencalonannya sebagai presiden pada pemilu 2024 masih menimbulkan teka – teki di masyarakat, mengingat masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta akan rampung pada bulan oktober mendatang. Apa langkah politik yang akan Ia tempuh selanjutnya?, menarik untuk kita tunggu bersama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini