Benteng Willem 1 di Ambarawa. Foto Kemdikbud/Lengkong Sanggar Ginaris
Benteng Willem 1 di Ambarawa. Foto Kemdikbud/Lengkong Sanggar Ginaris

Gitanyali. Kami sedang membacanya bersama. Saat petir tiba-tiba datang tanpa diundang. Mungkin alam raya cemburu, pada kami yang diam saat setan-setan korupsi dari istana. Di atas pantat pacarku yang montok, kututup buku itu. Buku terjenius karya salah satu penulis yang kami kagumi, Rabindranath Tagore.

Doi, tentu saja salah satu penulis paling penting di abad ke-20 dalam kesusastraan India dan dunia. Karyanya yang berjudul “Gitanjali” dianggap sebagai salah satu prestasi terbesar, dan telah menjadi buku terlaris abadi sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1913.

Membacanya, kami berdua berharap dapat tuah penulisnya: hening, spiritualis dan semesta. Penulis berhasil melewati “pasangan partikel” takdir alam raya. Satu prestasi yang tak mudah didapatkan para salik, kecuali mereka yang dapat keistimewaan dari alam raya dan kerja cerdas tanpa kenal waktu.

Membaca pikiran-pikiran Tagore mengingatkanku pada sastrawan terjenius yang pernah hidup di tanah Jawa, Ronggowarsito. Perumus postulat “Zaman Gila,” dengan tanda dan petanda, “Akeh janji ora ditepati” (banyak janji tidak ditepati), “akeh wong wani nglanggar sumpah dhewe” (banyak orang berani melanggar sumpah sendiri), “manungsa padha seneng nyalah” (manusia saling lempar kesalahan), “akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit” (banyak orang hanya mementingkan uang), “ora ngendahake hukum Hyang Widhi (tidak peduli hukum Tuhan).”

Lalu, kami ke Ambarawa. Sebuah kota yang legenda. Tempat tentara kita dulu menjadi tentara sebenarnya: menumpas penjajah. Tentu bukan seperti tentara hari ini, yang sibuk golf dan korupsi.

Dulu, di Ambarawa, sebuah rawa yang amba (lebar) pernah dirumuskan soal negara integral. Ya. Dulu sekali, para dalang bicara negara integralistik dengan bersabda, “Ana ingsun marga sira. Ana sira marga ingsun. Manunggaling sira lan ingsun supoyo manunggaling sira lan gusti.”

Kini diubah, “ana ingsun sira dipun tuku, ana sira ingsun tuku. Kabeh saiki dol tinuku.” Dan, para tentara itu (terutama polisi) menikmati betul: membela yang bayar. Tak peduli korban makin banyak berjatuhan.

Dari kota mistis legendaris Ambarawa, kita diberitahu via iklan bahwa, presiden yang baik ternyata yang mengajak bangkrut bersama, miskin bersama, mati bersama dan menjadi pengkhianat bersama terhadap para pendiri negara Indonesia. Presiden yang mengajarkan pada kita seni menipu dan satire kecurangan yang akhirnya, kenihilan dan kehancuran sebagai hasil kenegaraan!

Bukan presiden yang melindungi, mencerdaskan, mengadilkan, menyejahterakan dan mengatur dunia berdasarkan Pancasila. Dan, sekali lagi: tentara diam saja bahkan tertawa bahagia menyaksikan presiden seperti petakilan di istana.

Padahal dari buku-buku sejarah, terkisahkan bahwa di dusun Ambarawa, pernah dirumuskan teori negara Pancasila yang menempatkan nasib warganegara di atas segalanya: 1) Warganegara terlindungi; 2) Warganegara tercerdaskan; 3) Warganegara teradilkan; 4) Warganegara tersejahterakan; 5) Warganegara termartabatkan di dunia. Sayang sudah 6 presiden berlalu, teori ini tinggal teori, tanpa bukti.

Benar kata Bung Hatta, “kita kedatangan zaman global dan peradaban besar tapi surplus presiden berjiwa kerdil.” Dan, sekali lagi: kekerdilan itu yang utama berasal dari tentara, yang melupakan Ambarawa.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini