Kaya raya tua dan putus asa
Kaya raya tua dan putus asa. Foto Pixabay/Daniel_Nebreda

“Aku ingin saat matanya terpejam menjemput tidur, akulah yang dilihatnya. Aku ingin saat matanya membuka untuk memeluk siang, akulah yang dilihatnya.”

Begitulah pengakuan kakek tua yg kutemui di gubuk pertanian mewah di suatu senja. Aku datang tak sengaja. Awalnya mencari hotel yang tenang buat menyelesaikan dua bab terakhir dalam buku baru yang harus kuedit. Tetapi, kawan baikku membawaku ke kakek tua tersebut. Orang kaya yang masih kekar dan bercita-cita besar. Orang yang membuat pura, musalla dan istana buat kekasihnya yang sudah tak bisa apa-apa.

“Kami menikah dan kemudian sibuk mencari harta. Tak sempat menenun bersama. Tak sempat bersenda gurau. Punya anak juga lupa kapan hari ulang tahunnya. Ringkasnya kami jadi kaya raya. Sampai kemudian kami sama-sama tua. Istriku stroke. Aku stress.”

Demikianlah lanjutan pengakuan dosanya. Sambil berkaca-kaca beliau menasihatiku untuk tidak putus-asa. “Jangan kau tinggalkan republik ini tersesat dan kesepian karena engkau putuskan hidupnya,” demikian petuah yang menghujam jantungku. Makjleb.

“Tentu saja sulit bagiku menerima ini semua di awalnya. Penyesalan selalu berada di akhir cerita, ketika semua telah menjadi nyata. Tiada kesempatan bagiku untuk mengulang kembali apa yang telah terjadi. Semua telah berlalu dan hanya meninggalkan perih di hati. Mungkin setelah bertemu kalian, aku bisa berbagi cerita mengenai arti sebuah kesetiaan cinta yang tak bisa dinilai dengan apapun di dunia yang fana ini. Kefanaan yang harus disikapi dengan biasa.”

Itu lanjutan kisah kakek tua. Kisah yang membuatku menangis dan bertanya. Mengapa ada penderitaan dan kesetiaan? Mengapa ada sakit dan kesepian? Mengapa tuhan membiarkan kesakitan? Jika tuhan mahakuasa, pengasih, bijaksana, dan adil, mengapa dunia ini begitu penuh dengan kebencian dan ketidakadilan? Kini, aku sendiri menanyakan hal-hal itu. Sebab, cerita kakek itu membuat tanyaku tak terperi.

Apa itu hidup? Bagaimana memaknainya? Mengapa kita harus setia? Kapan kita boleh mati? Adalah beberapa pertanyaan yang kini hinggap kembali saat aku mulai merindukan kematian. Yah. Kematian.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini