Dan Kroya itu. Tugu Kroya Cilacap
Dan Kroya itu. Tugu Kroya Cilacap. Foto Instagram @segelassendiri

Gerimis saat itu. Duit tak begitu laku. Halilintar bertalu-talu. Selepas ashar waktu. Sepertinya tak ada yang lebih mulia dari perasaan dan ingatan tentangmu.

Begitu reda, aku datang padamu saat kau terluka. Begitu gerimis pergi, kutemukan dirimu di antara rel kreta dan pasar berpendar kata. Di kota Kroya. Di istana kawanmu yang nantinya jadi menteri dan penjual jamu.

Engkau luka dengan sejuta kecewa. Bersetia tetapi tak mendapat apa-apa. Ia memang laknat. Mengambil rindu seperti donat. Mengunyahnya seperti permen. Tapi peraduan buat lain bidadari tetapi tetap perempuan.

Kota itu hempaskan tubuhmu, remukkan dadamu, binasakan mimpi-mimpimu. Sebab tubuh, dada dan mimpimu hanya untuknya. Tak ada mimpi lain sebab hidupmu ditakdir segitu: bukan perempuan pemintal peradaban.

Sore itu kau tahu lembut belainya hanya balutkan luka. Kau baru sadar kecup bibirnya tak berarti rindu, justru hanya muak.
Muak dengan sesatnya asmara, kangen dan pendeknya kota.

Dan. Akupun menemukanmu saat orang lain membuatku muntah lepaskan dendam. Aku membelikanmu bakso saat seluruh kuliner tak tersentuh. Sebab penyakit penyempitan pembuluh dompet sedang berlaku.

Namun hangat matamu redakan duka. Untuk sementara saja. Sebab selebihnya kisah mahaduka. Terpapar antara Srandil dan Baturaden. Terhuyung di kota Sokaraja. Berdenyit-denyit ribuan purnama. Engkau menjelma menjadi memedi sawah dan maklampir yang marah.

Saat marah kau berfirman, “kau harus memiliki mimpi setinggi langit memilikiku. Tetapi jangan pernah kecewa jika kau hanya sampai pada sinis senyumku. Atau bahkan hanya sampai memandang fotoku. Karena itu, kau harus tahu bahwa hidup tak sesimple yang diinginkan dan tak akan semua bisa kau miliki karena satu dan lain hal yang terjadi di luar kehendakmu. Pada tuhan, hantu dan hutanlah takdir-takdir itu diterjemahkan.”

Setelah firmanmu menjadi ayat suci, kau pergi. Dan, tak kembali. Persis pacarmu yang dulu pergi. Ya hidup kalian serupa tapi tak sama. Menertawa di antara orang paria. Gila di antara para anggota kabinet di istana.

Maafkanlah aku. Terus maafkan. Sebab aku tak seperti dirinya yang bisa seperti kau pinta. Pukullah aku yang sering acuhkan dirimu, tertawakan lukamu, siniskan mimpimu waktu pertama kali tersenyum padaku.

Dari rumah sakit Gombong aku berfatwa, “maafkanlah aku yang jejali dirimu dengan segala kisah sumpah serapah bak pelepah darah.” Tokh ini kisah tak sudah-sudah. Sebab tak ada kisah lebih indah kecuali kisah kasih di puncak sedih. Mungkin, aku merindukanmu seperti rindu lohor pada maghrib. Pada siang yang sama tetapi tak bisa disatukan dan dipertemukan. Dan, di kota Kroya semua bermula.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini