Hasan Hanafi
Hasan Hanafi. Foto see.news

Melanjutkan kisah pemikiran tokoh-tokoh dunia sebelumnya, Ramadan ini, kami di Nusantara Centre membahas juga ide-ide Hasan Hanafi yang memiliki perhatian begitu besar terhadap persoalan-persoalan riil negara postkolonial, seperti kebodohan, ketidakadilan, penindasan, penjajahan dan ketimpangan.

Hasan Hanafi adalah ideolog besar sekaligus pemikir serius yang menghasilkan buku-buku besar, berat, kritis dan progresif. Sedikitnya 20 buku dan puluhan makalah ilmiah diproduksinya. Karyanya yang populer di Indonesia antara lain Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam), Min al-Aqidah ila al-Thawrah (Dari Teologi ke Revolusi), Turath wa Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan), Islam in The Modern World (1995).

Deretan karya itu membuat Hasan Hanafi bukan sekedar pemikir revolusioner, tapi juga reformis tradisi intelektual Islam klasik. Apa buktinya? Ia dalam strategi kebudayaan politik mengajukan proyek dialektika modernisasi tradisi. Ada tiga agenda utama dalam projek itu: 1) Sikap kita terhadap tradisi; 2) Sikap kita terhadap tradisi penjajah-barat, dan 3) Sikap kita terhadap realitas.

Ketiga agenda tersebut merupakan dialektika ego dengan dirinya, yakni warisan masa lalu dan dialektika dengan peradaban lain, dalam sebuah medium waktu tertentu (masa lalu dan kekinian).

Tiga agenda tersebut adalah tindakan bukan sekedar ekspresi intelektual, tetapi ditunjukan sebagai perubahan nyata dalam dunia postkolonial. Itulah praksis dari akidah ke revolusi. Dan, inilah yang dibutuhkan indonesia kini: dari takfiri ke revolusi.

Beberapa karyanya berdentum. Secara serius, ia merekomendasi cara membuat tafsir kitab suci sebagai cara utama merekonstruksi ummat: menghadirkan revolusi. Karakteristik ketikannya soal metoda dan hasil tafsir adalah, 1) Tafsir harus menghasilkan tema dan ulasan yang spesifik (at-tafsir al-juz’i); 2) Kita bisa menyebutnya tafsir tematik (at-tafsir al-maudhu’i); 3) Tafsirnya bersifat temporal (at-tafsir az-zamani), karena harus selalu diperbarui;

4) Tafsirnya dalam keadaan realistik (at-tafsir al-waqi’i), mengungkap hal yang harus dikerjakan; 5)Tafsirnya dimulai dari problematika yang dialami oleh kaum muslim; 6) Tafsirnya harus beroeientasi pada makna tertentu dan bukan merupakan perbincangan teoritik tentang huruf dan kata saja sehingga kering dan dangkal; 7) Tafsirnya bersifat experimental, karenanya tafsir ini merupakan tafsir yang sesuai dengan kehidupan dan pengalaman hidup mufassir; 8) Tafsirnya harus perhatian terhadap problem kontemporer serta usaha pencarian solusinya.

Mengapa ia menyarankan hermeneutika kritis? Sebab hanya metoda itu yang bisa mengatasi ketertinggalan ummat. Tentu, itu semua karena problem utama kemanusiaan yang abadi adalah kemiskinan, kebodohan, dan penindasan yang terus berlangsung di negara-negara postkolonial.

Dus, Islam sebagai agama kemanusiaan harus menuntaskan masalah purba, laten dan kekinian yang selalu ada. Menghadapi realitas seperti ini, menurutnya Islam diberikan dua pilihan, 1) Menjadi seperti yang Marx katakan, candu dan membawa umat untuk bersabar dan ikhlas dengan kondisi ketertindasan yang ada sehingga melanggengkan status quo yang tak berkesudahan.

Atau yang ke-2) Menjawabnya dengan menempatkan Islam sebagai agama pembebasan, agama yang menggali dan mewujudkan makna revolusioner dan berkonsekuensi untuk memihak kepada rakyat miskin, lemah, tertindas dan terjajah.

Menjadi agama revolusioner yang anti penjajahan demi tercapainya kemerdekaan, keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Karena itu, teologi lama harus ditulis ulang. Sebab teologi lama sudah ketinggalan zaman. Kita perlu rekonstruksi serius di bidang teologi untuk menjadi id yang kongkrit. Menurutnya, untuk melakukan rekonstruksi teologi kita memiliki tiga alasan:

Pertama, kebutuhan hadirnya idiologi yang jelas dan melawan di tengah-tengah pertarungan global antara berbagai Idiologi. Pertarungan antara terjajah melawan penjajah.

Kedua, pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya, melainkan juga terletak kepada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan idiologi sebagai gerakan dalam sejarah. Dan, salah satu kepentingan praksis ideologi Islam (dalam teologi) adalah memecahkan kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan di negara-negara muslim akibat penjajahan yang tak ada ujung.

Ketiga, kepentingan teologi yang bersifat praksis dan realistis. Sebuah ideologi dan teologi yang nyata bisa diwujudkan dalam realitas melalui realisasi tauhid di dunia ini.

Dus, rekonstruksi teologi merupakan salah satu cara yang harus ditempuh jika mengharapkan teologi dapat memberikan sumbangan konkrit bagi kehidupan dan peradaban manusia. Oleh karena itu perlu menjadikan teologi sebagai wacana tentang kemanusiaan, baik secara eksistensialis, kognitif, maupun kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Untuk melakukan projek itu, Hanafi menawarkan dua hal agar memperoleh kesempurnaan teori ilmu dalam teologi Islam, yaitu analisa bahasa dan analisa realitas.

Dengan ide-ide revolusi itulah Hasan Hanafi mengajar di beberapa Universitas. Pernah menjadi Profesor tamu di beberapa negara seperti Perancis (1969), Belgia (1970-1971) Amerika Serikat (1971-1975), Kuwait (1976-1977), Maroko (1978-1980).

Pada tahun 1984-1985 ia diangkat sebagai guru besar tamu di Universitas Tokyo, dan menjadi penasihat program di Universitas PBB di Jepang pada tahun 1985-1987. Inilah pemikir-pelaku dan pelaku-pemikir yang jenius dan berdentum keras.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini