INISNU gelar Gerakan Santri Menulis. Foto INISNU
INISNU gelar Gerakan Santri Menulis. Foto INISNU

Hariansemarang.id – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bekerjasama dengan harian Suara Merdeka mengadakan kegiatan Gerakan Santri Menulis (GSM), Rabu 13 April 2022.

Hadir dalam acara ini, Bupati Temanggung yang diwakili Kabag Kesra Setda, Herman Santoso, Rektor INISNU, Muh Baehaqi, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) INISNU, Nur Makhsun, perwakilan pemimpin redaksi harian Suara Merdeka Agus Fachrudin Yusuf, tamu undangan, santri dan mahasiswa peserta GSM.

Dalam kesempatan itu, Rektor INISNU Muh. Baehaqi mengharapkan kegiatan semacam GSM akan dijadikan sebuah wahana untuk menjadikan mahasiswa dekat dengan literasi, karena dalam minggu-minggu pertengahan ini sudah ada dua kegiatan pelatihan jurnalistik yang menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV yang kebetulan Pjs Direktur Utamanya adalah Wakil Rektor I INISNU Hamidulloh Ibda.

Dalam sambutan Bupati Temanggung yang dibacakan Kabag Kesra Herman Santoso menegaskan tradisi budaya menulis di kalangan ulama, kyai, santri di pondok pesantren, dan juga mahasiswa, semakin luntur tergerus oleh situasi, ini sebuah situasi yang memprihatinkan, mengatasi masalah tersebut sangat dibutuhkan untuk membangunkan kembali semangat menulis.

“Menulis terkadang menimbulkan multi persepsi bagi pembacanya, menulis membutuhkan pengetahuan dan keahlian yang memadai, terlebih penulisan jurnalistik,” jelasnya.

Ketua BPP INISNU Nur Makhsun mengungkapkan, mengaji kitab itu hasil karya tulis, hasil literasi, sekalipun dekat dengan medsos harus dipergunakan untuk hal yang positif.

“Saya sangat mendukung kegiatan literasi ini, menulis, tradisi menulis ini adalah tradisi pesantren, gedung pasca sarjana yang baru kita bangun, akan kita lengkapi gedung perpustakaan, yang menyimpan manuskrip karya-karya agung dan pendiri NU, khususnya NU Temanggung. Karyanya Mbah Hadi Sofyan dan Mbah Mandur, NU itu modalnya optimis, dengan bekerja sama Suara Merdeka kita akan menggali mozaik NU, memberikan ghirah semangat menulis, mentradisikan karya tulis di kalangan santri, maka santri tidak hanya pandai berpidato, tapi juga pandai berliterasi menulis karya tulis yang bisa mempengaruhi masyarakat dengan positif,” ungkapnya.

Sementara Agus Fachrudin Yusuf menerangkan, ilmu jurnalistik mendapat tantangan dari media sosial, yang informasinya melupakan tabayun dan kroscek, berita hoak dan ujaran kebencian yang dihasilkan.

Inspirasi kegiatan ini dari KH Maemun Zubair dan KH Mustofa Bisri menyarankan Suara Merdeka, turun dan mengajarkan santri menulis dengan baik, dan hasilnya positif bagi masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini