Ilustrasi tadarus. Foto Pixabay/hashem
Ilustrasi tadarus. Foto Pixabay/hashem

Oleh Nurul Ichwan – Mahasiswa Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo

Sudah jamak dipahami jika di bulan Ramadhan ayat-ayat al-Qur’an lebih sering lantang diperdengarkan. Melalui pengeras suara masjid dan surau ia dikumandangkan. Para pemuda di masjid dan surau biasa secara bergantian membacanya selepas tarawih ditunaikan. Kita biasa menyebutnya dengan istilah tadarusan.

Malam itu, selepas tarawih saya tidak ikut tadarusan di surau. Karena sebagaimana tarawih yang tidak wajib, begitu juga tadarus bersama. Sehingga untuk keduanya sesekali saya mengerjakannya sendiri di rumah.

“Kamu jangan seperti anak TK yang sedang belajar membaca,” tegur kakek tiba-tiba, memecah konsentrasiku ketika membaca al-Qur’an di teras rumah dengan iringan gerimis yang tak kunjung reda.

“Maaf, maksudnya bagaimana, Kek? Apakah ada yang salah dari makhraj atau tajwidnya, Kek?” jawabku sekenanya.

Tidak seperti biasanya, beliau tiba-tiba menegur dengan nada yang agak tinggi. Pasti ada hal yang serius. Curigaku.

“Anak TK yang masih belajar membaca kalau menemukan tulisan dimanapun pasti dibaca, dan pasti juga tidak paham apa yang dibaca,” jawab beliau yang semakin mengerutkan keningku.

“Maaf, Kek. Ini saya sedang membaca ayat,” jawabku dengan linglung karena masih mencoba menerka maksud dari ajakan dilaog beliau.

“Kamu tahu arti membaca? Iqro’! Bacalah…” Semakin menekan beliau menegaskan maksud pertanyaannya.

“Coba kamu ingat-ingat lagi arti kata qara’a. Jangan sembrono kalau membaca Al-Qur’an!” Kali ini meski dengan nada yang rendah, namun terasa lebih menusuk. Sejenak aku mengingat pelajaran yang pernah aku terima. Akupun menjawab.

Qara’a artinya mengumpulkan, Kek. Membaca berarti mengumpulkan huruf yang tersusun menjadi sebuah kata. Kata qara’a juga digunakan seperti dalam kalimat “qara’tu al-maa’a fi al-haudhi”, aku mengumpulkan air dalam sebuah wadah.”

“Baguslah kalau kamu ingat. Tapi coba kamu pahami maksudnya!” perintah beliau.

“Mohon kakek berkenan menjelaskan maksudnya,” pintaku agar aku tidak semakin keliru dalam memahami maksud pertanyaan beliau

“Jika membaca adalah mengumpulkan, maka ketika kamu membaca sesuatu, kamu harus mengumpulkan apa yang ada pada sesuatu itu. Contoh, jika kamu membaca “kursi” maka kamu harus paham tentang apa yang terkumpul dari sebuah kursi. Mulai dari bahan, bentuk dan fungsinya. Itu namanya membaca jika kamu paham makna “qara’a“.

Aku yang masih duduk dan menunduk semakin berkecamuk rasaku, memahami maksud penjelasan beliau.

“Kamu sebagai yang membaca juga mengumpulkan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasa dari bacaanmu. Lha kalau kamu tidak melakukan itu bagaimana kamu bisa paham apa yang kamu baca untuk bisa menggunakannya?”

“Jika kamu mau membuat kursi pasti kamu juga membaca; mengumpulkan bahan dan cara pembuatannya. Jika kamu tidak membaca pasti kursimu tiada berguna sebagaimana layaknya kursi,” terang beliau dengan tegas.

Pandanganku semakin tertunduk. Menggerataki mushaf yang masih dalam genggamanku yang terasa semakin berat.

“Nah, kalau kamu membaca al-Qur’an tetapi tidak untuk digunakan, maka itu namanya kamu belum menjalankan iqra’, ayat pertama kali yang diturunkan…” pungkas beliau dengan lembut sembari menepuk pundakku.

Mushaf yang masih di tangan terasa semakin berat. Perasaanku yang semakin lunglai, menyadari bahwa yang saya pegang adalah pedoman hidup. Ibarat petunjuk arah, aku akan sampai pada arah yang kutuju jika aku mau melangkah, menjalankan apa yang tertulis dalam petunjuk. Dan aku tidak akan sampai jika hanya dengan membacanya saja.

Astaghfirullaha min qaulin bilaa ‘amalin…” gumamku memohon ampun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini