Perempuan berkalung sorban. Foto Pixabay/6335159
Perempuan berkalung sorban. Foto Pixabay/6335159

Oleh Bustan Dwipantara

Membongkar prasangka itu tak mudah. Bahkan sulit. Terlebih jika sudah terlembaga dan diterima sebagai norma. Untuk mendobraknya, orang membutuhkan keberanian ganda.

Misalnya, anggapan purba bahwa perempuan tak lebih sebagai pelengkap. Objek, dan secara struktural ia subordinat, di bawah laki-laki.

Seringkali, priyayi Jawa menyebutnya dengan; “dapur, sumur & kasur”. Artinya, porsinya hanya menyiapkan makanan di dapur, membersihkan pakaian, perabotan dan setiap saat dapat “ditindih dan disetubuhi dengan berbagai selera “gaya”.

Ternyata, tak hanya di kalangan Jawa saja. Nyaris menyeluruh, perempuan ada pada posisi itu. Terlebih dalam komoditas produk, ia dijadikan maskot dan penopang marketing. Begitu pula dalam politik. Untuk memastikan keberhasilan loby-loby ia dihadirkan untuk “ditelanjangi” dan di “dogy”. Tragisnya, jauh sebelum Islam hadir, kelahiran anak perempuan hanya akan menjadi aib bagi keluarga.

Dengan narasi Fenomena itu, ingatan kita tertuju pada sosok : FATIMA MERNISSI, AMINA WADOOD & LEILA AHMED. Ketiganya adalah filsuf Muslim, dan tokoh gerakan feminisme Liberal. Talentanya sangat diperhitungkan di kalangan ilmuan sosial dan keagamaan.

Alih-alih kehadiran Islam mengangkat derajat perempuan. Pada gilirannya, polemik atas interpretasi kitab suci dan hadits pun terjadi. Hal itu disebabkan oleh pembaca yang menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Mereka menempatkan kodifikasi dalam sekam diskriminasi. Sehingga berdampak misoginis terhadap perempuan.

Dari sanalah, kemiripan ketiga tokoh pejuang Feminis ini berangkat dalam kredo gugatan kesetaraan gender.

Sebagai contoh, beberapa karya Mernissi dalam a.). Women and Islam an Historical and Theological Enquiry 1991, b). The Veil and Male Elit 1997, c). The Forgotten Queens of Islam 1994, d). Islam and Democracy fear of the Modern World 1994.

Menyusul Amina Wadood, terobosan fiqih terapan nya “beyond” normatif-tekstual. Kita bisa merujuknya dalam a). Qur’an and Women, 1992, b). Inside the Gender Jihad, 2008.

Dan Leila Ahmed, a). Women&Gender in Islam; Historical roots of a Modern Debate, 1992, b). A Border Passage; from Afrika to America- a Womens Journey,1999, c). The Veil’s Resurgence, frok the Middle East to America; A Quiet Revoluition, 2011.

Semua karya itu menunjukan gugatanya terhadap inferioritas perempuan dalam relasi sosial. Dari mulai leadership, ikon berpakaian dan ruang-ruang kesetaraan serta kesempatan dalam interaksi sosial, politik&kebudayaan.

Sebagai bagian dari “jihad gender” mereka mencari sesuatu yang ia namakan ‘hermeneutics of care’ untuk menginjeksi analisis perempuan dalam menafsir ulang ajaran kitab suci.

Mereka membuka ruang untuk mengawinkan hermeneutika Al-Qur’an dari perspektif gender. Membongkar wacana fundamental yang menjadi basis paradigmatik pengertian Islam dan muslim.

Dari perempuan menjadi Imam Sholat, Hijab dan Kepemimpinan, yang mana itu sangat tabu untuk diperdebatkan. Terutama di timur tengah. Kecaman itu muncul dari berbagai kalangan. Tak sedikit pula yang mencibir.

Ini mengingatkan saat Aisyah, istri Rasullullah menaiki Unta dan memimpin perang. Civil War antar ummat Islam. Antara Aisyah dan Ali bin Abi Tholib usai Ustman bin Affan terbunuh. Semoga kutipan ini tak berlebihan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini