Home Pendidikan Merdeka Belajar Perspektif Tamansiswa

Merdeka Belajar Perspektif Tamansiswa

13
Webinar PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bahas merdeka belajar
Webinar PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bahas merdeka belajar. Foto Dokumen Tamansiswa

Hariansemarang.id – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Merdeka Belajar dalam Pendidikan Tamansiswa untuk Mewujudkan Generasi Adaptif di Abad 21” pada Sabtu 24 April 2022. Kegiatan ini diikuti mahasiswa, dosen dan masyarakat umum secara virtual.

Dalam sambutannya, Kaprodi PGSD UST, C. Indah Nartani mengatakan Merdeka Belajar adalah filosofi yang mendasari proses sekaligus tujuan jangka panjang pendidikan yang ada di Indonesia.

“Sejalan itu Bapak Pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara juga menegaskan pernyataan bahwa kemerdekaan adalah tujuan pendidikan itu sendiri oleh seluruh pemangku kepentingan terutama tentu di bidang pendidikan, yang utama dari kemerdekaan itu hidup dengan kekuatan sendiri ke arah tertib damai serta selamat dan bahagia berdasarkan kesusilaan hidup manusia,” katanya dikutip dari rilis.

Makna merdeka menurut Ki Hajar Dewantara bukan sekadar semata-mata kebebasan.

“Tetapi menurut KHD kemerdekaan itu memiliki 3 sifat yaitu: berdiri diri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, dapat mengatur dirinya sendiri. Maka dengan inilah generasi muda perlu dibekali dengan pendidikan karakter dan kemampuan adaptif untuk penyesuaian diri terhadap berbagai perkembangan teknologi informasi,” jelasnya.

Ketua Himpunan Dosen PGSD Indonesia, Widya Karmilasari Achmad, dalam materinya mengatakan makna Merdeka Belajar memiliki konsep kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran.

“Konsep Merdeka Belajar berdasarkan perspektif John Dewey : life and career skill, learning & Innovation skills, information, media, & technology professional development guru perlu di tingkatkan dengan penguasaan teknologi,” kata dia.

Narsumber dari Universitas Negeri Yogyakarta, Wuri Wuryandani mengatakan profil Pelajar Pancasila atau Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Selain itu, Profil Pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.

“Ada enam dimensi lunci Profil Pelajar Pancasila. Pertama, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. (ahlak agama, ahlak pribadi, ahlak kepada manusia, ahlak kepada alam dan negara). Kedua, berkebinekaan global. Ketiga, bergotong-royong. Keempat, mandiri. Kelima, bernalar kritis. Keenam, kreatif,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber Rosidah Aliim Hidayat mengelaborasi terkait Sifat Bentuk Isi Irama atau SBII yaitu adat yang menggambarkan sifat yang selalu tetap sepanjang zaman, sedangkan bentuk isi dan irama selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan alam dan zamannya.

“Sifat yang tetap sepanjang zaman: Kodrat alam, merdeka batin, merdeka pikiran dan merdeka tangannya. Menjalin kemitraan, pemertaan pendidikan, berdikari hemat, dan menghamba kepada sang anak. “Bentuk isi dan irama bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here