Home Agama Ramadhan Wahid dan Kesetimbangan

Wahid dan Kesetimbangan

12
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Kesetimbangan
Wahid dan Kesetimbangan. Foto Instagram @ulama.nusantara

Oleh Yudhie Haryono

Perlu beberapa dekade untuk menemukan tokoh seperti Abdurahman Wahid. Terutama di NU. Baik sanad, darah, prestasi, tesis dan gokilnya, beliau tidak tak tertandingi di zamannya. Di luar NU struktural, mungkin Cak Nun yang bisa mengimbanginya.

Wahid, tepatnya Abdurrahman Wahid (Jombang, 7 September 1940–30 Desember 2009) adalah tragedi terbesar kisah pembaharuan pemikiran Islam. Bersama Ahmad Wahib, ceritanya hampir mirip. Dan, bersama Nurcholish Madjid plus Djohan Efendi, mereka adalah kwartet neomodenisme Islam dalam bahasa Greg Barton.

Tentu saja, menulis tragedi itu berat. Sering kita membacanya tak kuat. Salah-salah bisa dikutuk para pengikutnya dan dihukum terlaknat.

Tetapi, mendiskusikan idenya di ujung Ramadan menjadi penting. Kami di Nusantara Centre mencoba meletakkan pikiran-pikiran Wahid sebagai upaya refleksi dan proyeksi ummat di Indonesia.

Wahid, adalah sufi terbesar di republik kita. Pengetahuannya tak lahir dari perpus semata. Melainkan dari dialektika burhani, laduni dan isyraqi yang dalam. Kemampuannya menangkap fakta secara definitif didasarkan atas upaya logis untuk mencipta narasi baru. Di sini hebatnya. Narasi ciptaannya menjadi pelecut emosi yang tidak tak terbantahkan.

Waktunya habis untuk melayani. Tenaganya habis untuk ceramah. Karena itu, ia tak pernah serius menulis buku. Ide dan pikirannya hanya dalam bentuk kolom dan artikel. Beberapa dijilid oleh komunitas pendengar dan pembacanya. Misalnya kumpulan karangan berjudul, “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (1997); Membangun Demokrasi (2000); Pancasila sebagai Ideologi dalam Kaitannya dengan Kehidupan Beragama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (1991); Prisma Pemikiran Gus Dur (1999); Tuhan Tidak Perlu Dibela (1999); Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita (2006); Islam Kosmopolitan (2007).”

Seluruh ide dan pemikiran plus tindakannya dapat dirangkum dalam satu kata: kesetimbangan. Tak ada tindakan Wahid yang tak dilandasi teori kesetimbangan. Pembelaan pada wong cilik, kaum marjinal dan warga tersisihkan adalah aksiologi dari mizan yang ia yakini. Tentu tak selamanya benar. Karena itu, ia buat narasinya agar beyond the fact.

Tidak ada ide dominan yang berpengaruh membentuk pribadi dan pikiran Wahid. Semuanya melakukan dialog dalam dirinya. Inilah sebabnya mengapa Wahid selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir-bertindak dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas Indonesia.

Karena luas, pemikirannya tentang pluralisme, toleransi, pribumisasi, dialog, negara-bangsa Pancasila, pesantren, humanitarinisme universal, antropologi kiai dan postradisionalis menjadi kunci untuk mendekatinya. Terlebih, ia sangat eklektik dan dinamis dalam semua ketikan dan tindakan.

Sebagai pewaris tradisi timur, penguasa diskursus islam, penikmat pengetahuan barat, Wahid kemudian mengembangkan satu pola yang bisa disingkat menjadi post-tradisionalisme Islam.

Postra ini menjadikan tradisi (kultur) sebagai basis epistimologinya. Ia kemudian ditransformasikan dengan meloncat guna membentuk tradisi baru yang berakar pada tradisi miliknya dengan jangkauan yang sangat jauh untuk memperoleh etos progresif dalam transformasinya.

Bagi Wahid, hidup dalam “islam” adalah konsensus, kemerdekaan, progresif, nyata, kedaulatan, serta kemandirian. Tetapi, kebanyakan kaum muslim di indonesia bangga sebagai arabis yang mendaku islam. Karena itu mereka layak disebut “mahjubul ummah” (kaum yang tertutup akalnya: buta, tuli dan bisu).

Lalu, di mana kini “islam”? Mereka tak ada di televisi dan tak ada di pemerintahan bahkan juga tak ada di masjid-masjid. Mereka punah dan mati tersapu arabisme: cungkring, jilbabos, berdoa, jual ayat, jenggotan, selebritis, poligamet dan koruptif.

Tentu saja, pada akhirnya sejarah agama adalah sejarah pemberontakan: bukan ritual apalagi identitas sosial. Sayangnya, yang dikurikulumkan adalah yang karitatif dan pinggiran.

Dalam logika postkolonial, agama tersebut jatuh menjadi brooker dari old colonialism: membungkuk pada penjajah, mentradisikan neofundamentalis yang bersekutu dengan neofasis. Dua setan berwajah manusia duafa.

Bagi agamawan pemberontak, sangat menakjubkan jika jarinya mulai menulis. Sangat menggairahkan jika mulutnya mulai menyapa. Sangat menentramkan jika senyumnya mulai tersungging. Sangat menggentarkan jika hatinya mulai berpaling. Sangat merindukan jika jiwanya mulai membaca puisi. Sangat memukau jika pidatonya mulai berhipotesa perlawanan.

Kapankah kalian duduk dan berlari memberontak bersama? Runtuhkan tiran yang menyekutukan Tuhan. Pastikan hancurnya elite yang menyembah setan. Kuingin tak hanya zaman yang mampu menjawabnya. Sebab kurasa hati, perkataan, nalar dan tindakan kalian yang mencintai masa lalu: adalah amis dan luka.

Sungguh. Kita harus yakin bahwa tugas agama adalah menjawab problem manusia hari ini dan ke depan. Dan, jawaban itu bukan sekedar dari masa lalu. Menjawab problem hari ini dengan masa lalu (semata) selalu dihindari para nabi. Sebab jika itu metodanya, romantisme dan bibliolatry sebutannya. Menundukkan nalar di bawah teks. Dan, itu segenggam kejumudan semata.

Wahid tak mau jadi jumud. Wahid tak ingin Indonesia defisit nalar. Sebaliknya, Wahid ingin ummat dan Indonesia maju, makmur, berdaulat, kuat dan bermartabat.(*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here