Tembakau tanaman warisan Temanggung. Foto Dokumen Fitria Soefiyani
Tembakau tanaman warisan Temanggung. Foto Dokumen Fitria Soefiyani

Oleh Fitria Soefiyani Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

Pada bulan Agustus 2021 saya dan teman-teman mendapat kesempatan berkunjung ke Temanggung untuk menyaksikan panen raya tembakau dan kopi khas daerah tersebut. Sebuah pengalaman langka bagi kami. Ya, lahan perkebunannya berada di bawah kaki Gunung Sumbing Desa Tlahab, Kecamatan Kledung. Sesampainya di sana kami disambut dengan hawa yang sejuk dan langit biru cerah. Rombongan kami diarahkan oleh seorang pemandu wisata untuk menyusuri jalan pemukiman warga alias rumah para petani tembakau. Nama pemandu kami ini bernama Sofiyanto, namun entah mengapa dia lebih akrab dipanggil “Cengos” di komunitasnya. “Panggil Mas Cengos aja,” ucapnya saat memperkenalkan diri.

Sembari berjalan, dengan kemampuan olah katanya Mas Cengos menjelaskan sedikit demi sedikit kepada kami tentang tembakau sambil menunjuk ke ladang. Di depan rumah warga pun beberapa nampak sedang menjemur tembakau di atas papan. Papan berukuran sekitar 2,5×1 meter itu juga berjejer memenuhi setengah lebih dari lapangan yang ada di pemukiman itu. Mas Cengos memberi tahu bahwa dulu erosi terbesar berasal dari tembakau yang tidak bisa menyerap air. “Akhirnya ditanamlah kopi yang dapat menyerap air dengan sistem tumpang sari,” imbuhnya.

Tumpang sari ini adalah cara menanam tembakau dan kopi dalam satu ladang kebun yang sama. Sehingga keduanya menjadi tanaman simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Pohon kopi yang menahan tembakau dari erosi dan pohon tembakau yang membuat cita rasa kopi khas Temanggung ini berbeda dengan kopi yang lain. Yakni aroma kopi bercampur dengan aroma tembakau, kalau tidak percaya boleh buktikan sendiri hehe..

Di desa yang terdiri dari 21 RT itu tak hanya menanam tembakau saja di depan rumahnya. Pohon tembakau ini berdampingan dengan pohon cabai, daun bawang, seledri, bawang merah, dan tentunya pohon kopi. Para petani tembakau ini juga membentuk kerjasama dengan kelompok tani, pemerintah desa, pemuda desa, serta organisasi setempat.

Ibu Lihin (51) misalnya. Salah seorang petani tembakau yang saya temui di halaman depan rumahnya. Ibu Lihin dan suaminya adalah orang Temanggung asli. Tentu saja mereka sudah menjadi petani tembakau selama puluhan tahun. “Jadi petani sudah turun temurun Mbak, dari keluarga,” kata dia.

Terlihat dari beliau yang sedang memilah tembakau bersama seorang putrinya dengan sangat ulet. Tembakau itu baru saja beliau panen dari kebun.Sang suamilah yang membawakannya dari kebun menggunakan motor miliknya. Ya, kebunnya lumayan jauh dari rumah. Ada di daerah Posong.

Tembakau yang beliau panen adalah jenis tembakau Kemloko. Saya melihat langsung bagaimana beliau memisahkan tembakau antara yang berwarna hijau dan kuning. Tak lupa beliau kenakan sarung tangan yang mulanya berwarna abu-abu telah berubah menjadi hitam legam. “Hati-hati Mbak, nanti tangannya hitam!” kata ibu Lihin mengingatkan saya yang ingin memegang daun tembakaunya. Kata ibu Lihin, setelah daun tembakau dipisahkan, daun akan dirajang menggunakan mesin. Proses selanjutnya ialah dijemur. Waktu penjemurannya itu kalau bisa ya sehari kering. “Kalau dua hari nanti murah harganya,” jelas beliau dengan nada lembut.

Lain cerita dengan petani tembakau yang satu ini, Pak Dwi namanya. Pak Dwi juga menjadi bendahara dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Desa Tlahab. Namun, Pak Dwi belum terlalu lama menjadi petani tembakau seperti ibu Lihin. “Kalau saya baru sekitar lima tahun, Mbak”. Beliau juga beralih menjadi petani tembakau lima tahun lalu dengan tujuan membantu keluarganya.

Saya dan teman-teman menemuinya di gudang tembakau samping rumahnya. Di dalam gudang berukuran sekitar 4×6 meter persegi itu juga ada istri dan ibunya. Beliau beserta keluarganya pun sedang mengolah tembakau hasil panen. Tutur beliau, sekali panen dalam 1 hektar kebun dapat menghasilkan sekitar 40 keranjang. Lantas saya tanya, satu keranjang itu berapa kilo?

“Ya, kalau daun kering itu satu keranjang bisa sampai 30 kg,” jawab pak Dwi sembari memegang daun tembakau. Sepatu boot dan topi miliknya selalu melekat pada dirinya saat mengolah daun tembakau. Daun tembakau yang sedang diolah pak Dwi adalah hasil panen hari kemarin. Menurut beliau, daun yang telah dipanen didiamkan telebih dahulu selama tiga hari sebelum proses rajang.

Tembakau yang beliau panen adalah tembakau Kemloko yang ditanam pada bulan Maret dan baru bisa dipanen pada bulan Agustus ini. Sebenarnya, selain tembakau Kemloko, di Temanggung ada jenis tembakau lainnya, seperti tembakau Madura, Boyolali, dan Srintil. Paling banyak ditanam yaitu tembakau Kemloko. Sedangkan tembakau Srintil sulit didapat meskipun memiliki kualitas yang bagus. Tembakau Srintil ini hanya diambil bagian pucuknya saja, bukan daunnya.

Di Temanggung, para petani tembakau biasanya menjual tembakau milik mereka ke pengepul. Bukan mereka yang datang ke pengepul, melainkan sudah ada orang yang bertugas mengambil ke rumah masing-masing petani untuk mengambil hasil panen. Lahan yang mereka gunakan untuk menanam, itu ada yang milik perorangan dan juga lahan sewa. Mereka mendapat modal dari Perseroan Terbatas (PT) bidang rokok yang sudah menjalin kerja sama dengan para petani.

Tingkatan dari tembakau terdiri dari tingkatan paling bawah dengan warna hijau hingga pada tingkatan yang paling bagus kualitasnya dengan warna coklat kehitaman. Dari tiap tingkatan ini memiliki harga yang berbeda-beda pula. Kata Pak Dwi, harga tembakau tahun kemarin sempat mengalami penurunan, yaitu lima puluh ribu per kilo. “Dengar-dengar untuk tahun ini harganya bisa mencapai 50-75 ribu per kilo,” ucap Pak Dwi dengan ragu karena beliau sendiri belum menjualnya untuk panen kali ini. Paling tinggi harga tembakau bisa mencapai 100 ribu rupiah per kilo.

Saat ditanya manfaat tembakau selain untuk bahan rokok, beliau juga belum mengetahuinya secara pasti. Menurut beberapa artikel yang ada, tembakau sedang dikembangkan menjadi bahan obat dan kosmetik. “Semoga ada inovasi lain Mbak, sebelumnya cuma kita kirim ke rokok saja,”. Begitulah salah satu harapan pak Dwi selaku petani tembakau yang ada di Desa Tlahab agar bisa meningkatkan ekonomi setempat, sekaligus menutup pembicaraan kami siang itu. Tembakau adalah tanaman warisan yang dimiliki oleh Temanggung, salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini