Elegi kematian
Elegi kematian. Foto Pixabay/volfdrag

Oleh Yudhie Haryono

Ini hanya terminal. Antara satu zaman dengan zaman lainnya. Tak perlu dihindari. Tak perlu dirayakan. Padanya melekat enigma-enigma. Mati. Aku merindukanmu seperti rinduku pada Tuhan. Aku mencintaimu seperti cintaku pada kehidupan. Tak banyak yang bersahabat denganmu. Kalian pasti mengerti bahwa “dilahirkan bukan kehendak kita. Kematian juga bukan pilihan kita.”

Kematian seperti penjual roti di pagi hari di perumahan kami. Datang tanpa diundang. Tanpa tanda-tanda. Pergi tak pamit. Tanpa sesal dan asa. Jika ada yang membeli. Engkau berhenti sebentar saja. Sedikit senyum. Lalu bergegas mencari mangsa lainnya. Tak perduli mereka bayar cash atau bagaimana. Penjual roti bukan siapa-siapa. Ia mengambil roti di pabriknya. Menjualnya dari satu pintu ke pintu lainnya.

Kematian juga datang dari satu orang ke satu orang berikutnya. Kadang-kadang rombongan jika lihat sudah bosan mengantri mahluk hidupnya. Mati. Ada seninya. Ada lagunya. Kalian mau tahu? Putarlah lagu-lagu Andrea Bocelli dan Kitaro. Mati adalah travelling to imperiality. Betapa sederhananya mati. Semua mendapatkannya: mau raja atau rakyat, mau idealis atau bajingan, mau miskin atau kaya. Yang luar biasa adalah yang teriakannya tetap kencang walau jasadnya telah dikuburkan; yang namanya dikenang walau tubuhnya sudah ribuan tahun dikuburkan.

Kawan, katakan padaku kalian mau mati kapan dan bagaimana? Ingin dikenang sebagai apa?

Kalian tahu? Banyak orang menghabiskan waktu dengan korupsi. Banyak kawan menghabiskan waktu dengan ibadah. Banyak manusia menghabiskan waktu dengan berkuasa dan berzina. Sedang aku, hanya ingin menghabiskan waktu dengan anakku: membaca, menulis, mengajar dan menggerakkan kaki menemukan cita-cita dan cinta Indonesia. Tapi itupun Tuhan tak restu, kalian juga bisu dan terus membisu. Kini, anak-anakku dirampoknya.

Aku pulang ke depok. Sendirian. Hanya bersama malaikat dan syetan. Perumahan sepi. Aku buat jus: jambu dan durian. Juga buat kopi. Malam ini mau lihat bola. Kesepian dan kesendirian ini memagutku penuh seluruh. Andai saja kau ada. Kuajak tadarus dan dialog psiko-hermeneutika. Lalu, main catur dan tertawa. Mencicipi jus buatanku yang paling enak sedunia.

Besok. Kuucap selamat menjumput pagi. Mencincang kopi. Meremukkan mendoan. Dari senyapnya gubukku di Depok, kuingat dirimu. Seorang kawan. Yang kini entah di mana. Yang pernah bicara bahwa perkawanan adalah ketika suratku datang dari kotaku atau tempat di mana aku bersemayam. Atau ketika kita saling mendoakan teman yang sakit serta mengenang yang telah pergi. Sepenuh hati. Seikhlas jiwa. Sebening akal pikiran.

Sayangnya, seorang kawan saja kini kutakpunya. Semua kini sibuk bersinetron dunia: tak berkirim surat apalagi berdoa dan mengenang yang tiada. Semua tergesa memburu dunia. Seakan tak ada esok yang tersisa. Sunyi sesunyi-sunyinya.

Kawan. Telah lama bangsa ini mengkayakan bangsa lain, sambil memiskinkan bangsa sendiri. Telah lama negara ini memuliakan pendatang, sambil melecehkan penduduk asli. Telah lama warganegara ini menyembah warganegara lain, sambil melecehkan kawan dan teman sendiri.

Maka, kini kita sedang melihat kalimat “a settled home for white and asenk settlers.” Kondominium dan reklamasi dijadikan model pemukiman. Tax amnesty dijadikan andalan. Blusukan dijadikan pencitraan. Tipu menipu jadi andalan.

Maka, kini kita sedang menikmati sekolah asing, kurikulum asing, agama asing, bahasa asing, uang asing, etika asing, aturan asing, undang-undang asing dan pelacur-pelacur asing membanjiri seluruh pelosok kebijakan publik.

Ingatan kita akan kedaulatan, punah. Pertemanan kita akan kemerdekaan, absen. Cita-cita kita akan kemandirian, hilang. Harapan kita akan kemodernan, menguap tak tentu arah. Semua tertelan monoterisme dan ekonometrika.

Tak ada lagi, kurikulum postkolonial yang mengajarkan remembering, revitalizing, rewriting, representing, reindependenting dalam seluruh sejarah kehadiran Indonesia di muka bumi.

Maka kini, betapa sedih melihat kawan Joko Widodo menerjemahkan kekuasaannya menjadi, “democracy Indonesia is government off the people, buy the people and force the people.” Inilah mengapa Joko Widodo yakin kebebasan demokrasi harus dimaknai sebagai pelumas bagi “ketidakadilan semesta” demi memastikan kesenjangan akut dengan satu model pembangunan: mengusir si miskin, bukan menggusur kemiskinan; mengampuni para koruptor besar, bukan menggantungnya; menjual cepat aset negara, bukan mengembangkannya; menyetor cepat modal utangnya, bukan menasionalisasi; termangu dalam utang-utang baru, bukan efesiensi dan rekapitalisasi.

Jagad Dewa Batara, maafkan hamba. Kusadari akhirnya kerapuhan imanku. Telah membawa jiwa dan ragaku. Ke dalam dunia yang tak tentu arah. Kusadari akhirnya. Kau tiada duanya. Tempat memohon beraneka pinta. Tempat berlindung dari segala mara bahaya. Oh Tuhan, mohon ampun. Atas dosa dan dosa selama ini. Aku tak menjalankan perintah-Mu. Tak perdulikan nama-Mu. Tenggelam melupakan diri-Mu. Oh Tuhan mohon ampun. Atas dosa dan dosa. Sempatkanlah aku bertobat. Hidup di jalan-Mu. Tuk penuhi kewajibanku. Sebelum tutup usia. Kembali pada-Mu.

Sambil mengingat mati kuingat Pramoedya menitipkan pesan, “Yudhie, jadilah manusia yang memusuhi ketidakadilan, penindasan, kebodohan, kemalasan dan penjajahan.” Baik guru. Akan selalu kujalankan. Karena itu di tengah defisit asa, aku kini baru bisa berbagi beasiswa, kegiatan dan buku (sambil membariskan pasukan merebut kuasa dari neoliberal) di rumah kejeniusan.

Tuhan, bimbing kami dalam revolusi!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini