Ilustrasi demokrasi angpau
Ilustrasi demokrasi angpau. Foto Pexels/Robert Lens

Oleh Yudhie Haryono

Adakah seseorang terpilih jadi presiden tanpa uang yang berlimpah? Tak ada. Adakah seseorang terpilih jadi rektor tanpa uang? Tak ada. Adakah seseorang terpilih jadi ketua umum ormas keagamaan tanpa uang yang cukup? Tak ada. Adakah seseorang menjadi pejabat birokrasi tanpa uang sogok? Tak ada. Adakah seseorang terpilih jadi anggota DPR/D dan DPD tanpa uang (money politic)? Tak ada.

Jadi, adakah hal publik yang dihasilkan via idealisme, gagasan dan rekam jejak prestasi agensi? Praktis tak ada. Semua dibeli dengan uang dan uang: jadilah kini “keuangan yang maha kuasa.”

Pesannya jelas, “kalau tak punya uang, jangan coba-coba berebut jabatan publik.” Sebab, semua jabatan itu dibeli dengan uang. Kuasa uang ini disebut zaman edan (versi kuno), zaman jahiliyah (versi arab) dan zaman sinetron (versi modern). Artinya, “kini semua kehidupan hanya guyon dan profan tanpa nilai.” Jean Baudrillard menyebut dengan kalimat, “all that is real becomes simulation” (semua yang nyata kini menjadi simulasi).

Bagi Jean Baudrillard, cara terbaik untuk menggambarkan realitas politik dewasa ini adalah tertradisikannya “hiperrealitas dan nihilisme.” Tak ada subtansi, alpa nilai-nilai, nir kesucian.

Anehnya, zaman gila ini dipeluk ramai-ramai beberapa agamawan juga. Tentu, agamawan miskin yang tergila-gila dengan uang (pendapatan). Artinya, mereka beragama untuk mencari dan mengakumulasi uang. Jabatan dan profesi kyai, pastur, bikku atau romo hanya kamuflase saja.

Uang atau angpau inilah yang akhirnya membuat kebebebasan (freedom) menjadi ideologi di semua kehidupan kita. Manusia merasa memiliki kekuasan mutlak atas semuanya jika punya uang. Dan, orang tak lagi bertanya status asal uang tersebut (halal atau haram).

Akibat lanjutnya, manusia berlomba-lomba untuk mengeksploitasi semuanya demi kekayaan pribadi: dari uang, demi uang, oleh uang dan untuk uang. Akibatnya, zaman dekade keserakahan dengan ontologi uang tidak bisa dihindarkan lagi.

Di sinilah titik paling berbahaya dalam kehidupan bersama. Hidup bersama itu takdir. Tapi, takdir atas penguasaan wilayah publik yang didesain dengan uang hanya mengakibatkan pemiskinan secara sporadis bagi banyak pihak dan kaya untuk satu-dua pihak saja. Tak percaya? Lihat dan cermati saja peristiwa mutakhir di sekitar kita.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini