Oleh Yudhie Haryono 

Untuk sebuah nama. Ya namamu. Saat nama lain terdelet. Dan, seribu pantai terlewati. Rinduku tak pernah pudar. Terutama saat mendaki. Sejuta gunung dan semilyar ngarai. Tigaribu kali kumimpi. Tiga musim kucari. Di mana dia kini. Tak serupa di guru-guru TK. Tak beranjak dari dambaan hati.

Dalam terbukanya gonggong para drakula. Biarlah hanya di kertas-kertas buku. Tajam fatwa terkorek. Kita saling melepaskan kejeniusan. Gerlap gemintang tertantang. Kucumbui khayalan nalar dirimu. Setiap saat. Setiap waktu. Sebab, kau kini satu segalanya bagiku. Di antara berpuluh yang menciumiku rakus. Mereka memperkosaku. Tetapi, aku malah mengejarmu. Lugu dan bodohnya aku. Drama tuhan tak berkesudahan. Sinetron hantu tak habis-habis. Film hutan jadi rebutan.

Di sini. Di ngarai Kings Canyon Watarrka Northern Territory, Australia. Aku ingin sematkan kalung batu akik buatmu. Agar lehermu tak sepi. Agar ada representasi aku dalam jiwamu.

Di sana. Di samping Air Terjun Dua Warna Sibolangit Deli Serdang, Sumatera Utara, kuingin pasang cincin mutiara di jari manismu. Kau pasti tahu bahwa kasihku akan terus mengalir, bahkan walau tak ada satu kesempatanpun yang menyambutnya darimu. Sebab aku terlahir sebagai orang yang menang dan mati sebagai orang gembira. Meskipun jeniusku tak sanggup mendapatkanmu.

Taukah engkau negeri di awan? Ada astral astria di Dieng Wonosobo. Ya di situ. Aku mau pasang anting buat dua kuping cantikmu. Aku sebal kau tutup karunia ilahi dengan jilbab arabi. Kau kufur nikmat. Biarlah tetap alami. Dengan dua anting permata yang kubeli di India.

Jangan takut dan cemas. Setelah kusematkan kalung, anting dan cincin itu, aku mati. Sebab tak ada lagi yang kucari. Terlebih ciumanku tak pernah kau terima. Apalagi lamaran dan kematianku.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini