Negerimu Negara Mafia. Foto pixabay/bilik
Negerimu Negara Mafia. Foto pixabay/bilik

Oleh Yudhie Haryono

Otak volume kecil. Ini sejenis kutukan dirgantara. Ini semacam takdir manusia nusantara. Ini secarik kisah penghuni atlantik. Mereka pada umumnya memiliki volume otak yang kecil. Apalagi dibandingkan dengan volume otak para penjajah.

Otak yang volume kecil ini berakibat pada kesukaan ngerumpi yang remeh temeh dan ecek-ecek, tak suka cari solusi dari masalah yang dihadapi dan fundamentalis bin teroris.

Lebih parah lagi saat mereka berkuasa. Mereka lupa dan tak tahu fungsinya. Mereka lapar. Mereka dahaga. Tak tahu malu dan kolu. Tetapi, mau bagaimana. Tokh ini kita sedang alami dan lewati. Hasil dari konstitusi palsu.

Hilirnya problem kemiskinan tak bertitik terang. Kantong kempes. APBN minus. Tetapi, turunannya banyak. Aku mencatatnya ada enam hal: 1) Darurat politik. Semua ilmuwan politik menyepakati bahwa politik kita sangat liberal bin mahal plus boros. 2) Darurat ekonomi. Banyak ekonom waras setuju bahwa ekonomi kita sangat neoliberal, predatorian bin oligarkis. 3) Darurat kebudayaan. Sebagian besar budayawan besar setuju bahwa budaya kita kini sangat amoral, anti nalar publik plus amis.

4) Darurat agensi. Para alim di berbagai bidang yakin sekali bahwa tokoh-tokoh nasional dan lokal kita sangat individualis dan fasis. 5) Darurat agama. Para spiritualis dan pelaksana multikultural berkeyakinan bahwa kita kini terjangkiti penyakit fundamentalis dan fasis plus feodalis. 6) Darurat mental. Semua warganegara kini yakin bahwa mental semua pemimpin kita rusak dan bermental kolonial, bengis bin menindas.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Ternyata mudah di ide, tetapi sulit di praktek. Idenya adalah merealisasikan negara pancasila. Negara yang dalam prakteknya menjadi law governed state. Negara yang praksisnya mengerjakan enam hal:

1) Nasionalisasi seluruh aset strategis. Yaitu mengambilalih semua aset nasional yang telah dirampok para perampok. Tanpa itu, negara kita belum berdaulat. Dalam praktek nasionalisasi ini tak ada konglomerasi, yang ada koperasi.

2) Melakukan transformasi shadow economic. Selama ini, bisnis shadow hanya diharamkan tanpa solusi. Maka, kita kita harus membuat UU-nya. Sebab kita belum punya UU Narkoba, UU Prostitusi, UU Perjudian, dan lain lain. UU itu akan merubah bisnis ilegal yang bersekutu dengan bedil menjadi legal dan bayar pajak secara adil.

3) Merekapitalisasi BUMN. Yaitu membuat holding yang profesional, progresif, terstruktur dan masif. Inilah pilar ketiga yang dahsyat karena menjadi bagian integral dari revolusi nalar dan revolusi mental. Dalam praktek ini tak ada asengisasi dan asingisasi. Yang ada trias-ekonomika, pribumisasi bin nusantaraisme.

4) Merealisasikan pajak super progresif. Makna pajak progresif di sini adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase yang sangat tajam naiknya dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak. Kenaikan persentase untuk setiap jumlah kekayaanya per satuan menjadi seratus prosen.

5) Mempraktekkan gagasan strong state. Yaitu praktek negara yang harus dipimpin manusia crank (menyempal) karena anti duit, anti lawan jenis dan anti kemapanan (kursi dan waktu). Ia harus zuhud, spiritualis dan “miskin” tapi jenius. Dalam strong state tak ada main hakim sendiri, yang ada konsensus.

6) Merealisasikan negara multikultural. Yaitu praktek negara yang melindungi, mencerdaskan, menyejahterakan dan membariskan seluruh warga menjadi warganegara. Dalam negara multikultural ini mentalnya adalah mental pancasila: merdeka, mandiri, modern dan martabatif.

6 problema dengan 6 solusi. Mudah dituliskan, betapa sulit dipraktekkan. Dus, kita butuh kesabaran revolusioner yang berdentum keras. Butuh kalian yang mengerti, memahami dan mempraktekkan negara pancasila. Sebuah negara gotong-royong yang dinamis dan bersendikan hukum.

Tetapi, hukum negara pancasila harus tampil akomodatif, adaptif dan progresif. Akomodatif artinya mampu menyerap, menampung dan merealisasikan keinginan seluruh warga negara yang multikultural. Makna hukum seperti ini menggambarkan fungsinya sebagai pengayom, pelindung dan penjaga.

Adaptif, artinya mampu menyesuaikan dinamika perkembangan jaman, sehingga tidak pernah usang. Makna hukum seperti ini menggambarkan anti fasis, anti fundamentalis dan anti feodalis.

Progresif, artinya selalu berorientasi kemajuan, perspektif masa depan. Makna hukum seperti ini menggambarkan kemampuan hukum nasional untuk tampil dalam praktiknya mencairkan kebekuan-kebekuan dogmatika. Hukum harus menciptakan kebenaran yang berkeadilan bagi setiap warganegara.

Tentu saja gagasan negara pancasila tidak mungkin dikerjakan oleh penguasa hari ini. Sebab solusi mereka hanya utang, gadai, obral, tipu sana, tipu sini dan bengong.

Inilah ketikan dari tesis negara pancasila. Mudah bukan menuliskannya? Ayok kita realisasikan dengan mulai bagi ke jaringan jika kalian suka.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini