Kematian Socrates
Kematian Socrates. Foto Pixabay/GDJ

Oleh M Yudhie Haryono

“Taukah kamu payung teduh?” Tanyamu sambil mengusap-usap telapak tanganku. “Aku ingin memberimu semua lagu dan kasetnya untukmu,” ia melanjutkan obrolannya. Aku, saat itu, cuma tertegun dan bisu. Aku, yang hariannya mendengar Ebiet, Iwan Fals, Sade, Enya, Andrea Bocelli, U2 dan Josh Groban tentu tak “ngeh” siapa itu payung teduh. Nama yang aneh, batinku.

Lalu, ia berdiri dan menyanyi merdu sekali, “Walau tidak tahu kapan. Mimpiku berjalan bersamamu dalam terik dan hujan. Berlarian ke sana ke mari dan tertawa. Membincang keceriaan. Melupa kesakitan dan kemiskinan. I love you.”

Aku terus duduk. Menikmati lagu-lagu yang kau nyanyikan. Lalu, menulis pendek. Cantikmu seperti mineral: digaruk di Indonesia, diperdagangkan di Singapura, dinikmati di Amerika dan Eropa. Dan, kami melihat, para elite menumpuk-numpuk komisi sambil tertawa saat rakyat makin jelata.

Saat bersamaan, sekolah-sekolah Indonesia bertanya apa yang kita ingat, bukan apa solusi bagi problem yang kita hadapi. Ini jenis kesesatan yang makin memiskinkan kita semua: buta peta, buram metoda. Maka, cintamu itu meresahkan. Sebab jika berlanjut, kita akan melahirkan generasi yang sekolah dan kenyataannya tak nyambung sama sekali.

Kamu merespon ketikanku sambil bernyanyi kembali. Soal ikhlas yang dinyanyikan dengan senyum termanis di senja itu. Lagi-lagi, ini lagu payung teduh.
Kita tak semestinya berpijak di antara/Ragu yang tak berbatas/Seperti berdiri di tengah kehampaan/Mencoba untuk membuat pertemuan cinta/Ketika surya tenggelam/Bersama kisah yang tak terungkapkan/Mungkin bukan waktunya/Berbagi pada nestapa/Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap.

Kujawab, kasihku yang maha syahdu. Negeri kita hari ini adalah negara yang lebih mementingkan kebodohan di atas kejeniusan; mengutamakan keburukan di atas kebaikan; mentradisikan penderitaan di atas kenikmatan; membiarkan kesenangan di atas kepariaan; memaksa rakyat sakit saat negara sakit (jiwa); mengagamakan KKN di atas kewarasan; mempertontonkan penipuan di atas kejujuran.

Kisah negeri ini terasa waktu begitu getir. Dari kisah ke cerita. Dari cita-cita ke angan-angan. Tuhan dan sekondan makin tak ketemu alamatnya. Seperti meninju udara kosong. Melompong.

Ya. Kita hanya menyaksikan para penipu berkeliaran dan berkuasa saja 20 tahun ini. Rasa-rasanya “ilmu negara dan pengetahuan bernegara” tidak pas lagi dipakai sebagai “alat analisa” karena Indonesia kini bukan negara Indonesia. Inilah zaman kalajaka yang nabinya Widada. Tetapi, sambil kita datangkan payung teduh, semoga bahagia selalu ada. Muwah. I love you.

Lalu katamu padaku, “Apakah yang engkau cari/Tak kau temukan di Indonesia kita/Apakah yang engkau inginkan/Tak dapat lagi dipenuhi bangsa ini/Tapi mari benahi. Mari gambar lagi. Lukis masa depan yang bukan mafia berkuasa.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini