Oleh M Yudhie Haryono

Ia kini menepi. Setelah ia setebuhi semua kursi. Dari dosen, peneliti, menteri, bankir, wapres dan profesor. Apa yang ia tak nikmati? Tak ada. Semuanya sudah. Lalu, apa hasil warisannya? Pancasila punah dan ekonomi kita berprestasi utang, gadai dan obral.

Mengapa begitu? Jelas karena ia neolib. Penyembah pasar. Pengiman kontestasi, pelaksana pertumbuhan, pentradisi ekonometrika. Padahal, awal mulanya matematika dilahirkan ke dunia untuk memudahkan hidup manusia. Asal mula pemikiran matematika terletak di dalam konsep bilangan atau angka, besaran; tambah; kali, dan bangun; bagi, jumlah.

Matematika ini kemudian bersetubuh dengan banyak ilmu lainnya melahirkan anak-anak ilmu berikutnya. Cabang-cabanya banyak sekali. Tetapi, intinya satu: membantu manusia memahami semesta dan Tuhannya. Dalam sejarahnya, matematika disusun dengan tiga landasan: logikalisme, formalisme dan konstruktivisme.

Logikalisme adalah teori yang menganggap matematika murni sebagai satu bagian dari logika. Formalisme adalah pandangan bahwa matematika adalah permainan yang dimainkan di atas kertas yang mengikuti aturan. Konstruktivisme adalah usaha rekonstruksi pengetahuan matematika dan mereformasi praktek matematika.

Ketiga teori tersebut mencoba untuk memberi dasar yang kuat untuk kebenaran matematika, dengan mangambil bukti matematis dari suatu realita kebenaran riil.

Lalu, siapakah kita (dalam ekonometrika)? Kita adalah apa yang kita konsumsi (we are what we eat). So, konsumsi juga merupakan penentu fundamental dalam menetapkan kesejahteraan dan tingkat kemiskinan seseorang bahkan suatu negara.

Ekonometrika adalah cabang ilmu ekonomi yang menerapkan metodologi statistik dan alat inferensi statistik untuk implementasi empiris model kegiatan ekonomi yang didalilkan oleh teori ekonomi. Singkatnya, ini adalah ilmu kuantitatif dari pemodelan ekonomi.

Memang, model ekonometrik membantu menganalisis data ekonomi, misalnya untuk menjelaskan hubungan kuantitatif antara variabel ekonomi dan memprediksi output yang dihasilkan. Ekonometrika dipelopori oleh Ragnar Frisch, Lawrence Klein, dan Simon Kuznets.

Dari mereka, neoliberalisme tumbuh subur karena menemukan pondasinya untuk menggenggam dunia. Maka, dalam buku dan kitab-kitab yang terkurikulumkan, termaktub bahwa basis neoliberalisme itu: individualisme, keinginan, ketamakan, dominasi dan ketimpangan.

Sedangkan basis pancasilaisme itu: kebersamaan, kebutuhan, keselarasan, gotong-royong, kemerataan. Mestinya keduanya bertempur. Saling tikam. Tetapi, di indonesiah keduanya berkolaborasi merampok anak negeri.

Karena itu, hampir di semua negara postkolonial yang beriman pada demokrasi liberal, kelahiran rezim baru via pemilu, sesungguhnya hanya proxy dan kulit domba baru dari srigala yang sama; seringkali lebih ganas karena mereka memperluas dan memperdalam tekanan kuasa imperialnya; mengangkangi via regulasi; merusak kurikulum budaya dan agama, menghapus local wisdom, menyuburkan KKN, memperlebar kesenjangan, menyuguhkan pemimpin culun dan birokrasi pencekik serta pebisnis predatoris.

Maka, menunggu revolusi kini bagai menunggu mati yang tak kunjung datang. Menunggu kalian yang tak kunjung berontak. Menunggu takdir yang tak kunjung revolusi. Menunggu cintamu yang tak mungkin bersemi.

Padahal, dalam duka yang tak bertepi, aku mengingatmu. Dalam sepi yang tak berujung, aku merindukanmu. Dalam sempoyongan masa depan, aku mencintaimu. Aku selalu ingin mengusap pipi dan memijat kakimu. Menguatkan hati dan pikiranmu bahwa cita-cita dan hidupmu akan hadir dalam kebahagiaan bersama. Hay. Kamu. Ayok kita mandi bersama dan tuntaskan masalah-masalah di depan mata. Problema kita semua: kaum miskin kota dan desa. Ketimpangan tiada daya. Minus sentosa.

Di sana, kaum muda, dengan segala kekurangannya adalah pahlawan terakhir yang bisa diharapkan. Walau hari ini, kaum muda itu lebih jumud dari harapan-harapan konstitusi kita; impian dan mimpi-mimpi pendiri republik.

Kawan, buku berjudul Ekonomi Indonesia ini mengulas perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, sejak masa pra-VOC hingga pembahasan pilihan-pilihan ekonomi politik di masa krisis, dengan fokus masa setelah kemerdekaan sampai sekarang. Ditulis oleh ekonom hitman Budiono yang berkecimpung langsung dalam pengambilan kebijakan selama puluhan tahun. Diterbitkan oleh Mizan Bandung, ISBN 9789794339473. Buku ini berukuran 15X24cm, seberat 370 gram dan setebal 310 halaman.

Bagiku, dengan membaca karya dan jejak Pak Bud di peta ekonomi kita maka tak ada masa depan. Tak ada harapan. Yang ada hanya masa gelap dan tajamnya kejahiliyahan. Kecuali jika kita yang masih waras dan pancasilais sesungguhnya, bangkit melawan.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini