Oleh M Yudhie Haryono

Aku sedang membaca buku berat ini. Berat sekali. 1.5 kg loh. Tebal sekali. Setebal seribu halaman. Ini buku serius sekali. Paling serius di Indonesia, setahu saya. Seserius temanya yang sempat menghentak-hentak jagad intelektual kita. Buku berjudul Polemik Ekonomi Pancasila ini ditulis Tarli Nugroho, seorang ekonom cum ilmuwan muda yang sinarnya melebihi zamannya. Membacanya terasa nikmat dan dipijat kepalanya karena sudah berat.

Ya. Buku ini diterbitkan oleh Magnum Pustaka Utama, Jogja, tahun: 2016, berkuran 15,5 x 24cm. Buku ini mengumpulkan, mengkliping, mengkompilasi dan dirunutkan dengan sangat bagus oleh penyusunnya. Terlebih, pengantarnya juga ciamik, Dawam Rahardjo yang reputasi intelektualnya tidak diragukan. Ia salah seorang begawan ilmuwan sosial yang sangat solid.

Kita tahu, salah satu problema ilmuwan kita adalah “mengalami kesulitan dalam menerapkan ilmu-ilmu yang ditimba dari universitas-universitas di dunia Barat untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi bangsa dan negaranya.” Alih-alih menemukan solusi, mereka kemudian memaksakan ilmu itu ke dalam tubuh negara ini sehingga sering “tak berhasil” seperti di negara asalnya.

Padahal, secara aksiologis seluruh iptek di kita itu perlu ditegaskan sebagai usaha yang bertujuan untuk mengentaskan warganegara dari kemiskinan dan menghilangkan ketimpangan, kesenjangan, ekspoitasi dan ketergantungan, melalui partisipasi mereka dalam kegiatan pembangunan.

Dus, dalam konteks ekonomi juga begitu. Ilmu yang mestinya membuat tercapainya suatu kondisi negara yang sentosa adil dan makmur berdasarkan tata nilai negara tersebut. Dalam konteks Indonesia ya berdasar Pancasila. Karena itu rumusan normatif mengenai Ekonomi Pancasila perlu disusun agar sebagaimana dikatakan oleh Bung Hatta, “kita harus selalu ingat kepada pedoman normatif dalam kegiatan ekonomi, yaitu Pancasila yang perlu ditafsirkan secara sosial-ekonomi agar menghasilkan demokrasi ekonomi yang menyejahterakan semuanya.”

Tarli dengan sangat sabar dan teliti mendokumentasikan kembali sejarah narasi ekopol pancasila, polemik akbar dengan tema-tema binerisnya dan beberapa agensinya, lengkap dengan latar belakangnya yang merentang sejak 1965 hingga sejumlah riaknya yang berlangsung hingga 1985. Sungguh kerja raksasa yang perlu diapresiasi dan didukung penuh. Kerja sepi yang di kita sering membuat frustasi.

Sayangnya, negara kita sulit belajar dari masa lalu. Akibatnya, bukan membaik tapi menurun dalam hal ekopol jika dibandingkan negara-negara tetangga. Akhirnya, semua berjalan makin tak bermakna. Tak bernilai. Makin hewani. Tanpa akal waras dan hati tulus. Kekuasaan makin tumpul tapi korup. Agama makin beringas tapi memelas. Cinta makin dangkal tapi tak berakal. Ekopolsusbudhankam stagnan tapi selfie. Olahraga bukan menyehatkan tapi membunuh. Pengusaha dan konglomerasi serta mason hobinya ngeprank. Pejabatnya penjahat. Kini warganegara melapuk dan membusuk. Menyedihkan sekali.

Kita sadari, sejarah peradaban Atlantik hancur karena amoralisme. Nusantara hancur karena feodalisme. Hindia Belanda hancur karena fasisme, korupsi, kolusi dan nepotis. Indonesia lama hancur karena fundamentalisme. Indonesia baru hancur karena neoliberalisme. Saat bersamaan, penghuni kaum tuanya defisit nalar waris, kaum mudanya surplus inlander. Sempurna sudah kita dalam pelukan neoliberalisme, khianat pancasilaisme.

Padahal, sejahat-jahat perbuatan adalah perbuatan neoliberalisme. Sebab, neoliberalisme adalah penyakit yang ditularkan via bank, utang, krisis dan kurs yang sangat rakus. Buku ini sebenarnya menampar kesadaran nasionalisme kita agar gotong-royong dan anti gotong-nyolong, anti neoliberalisme yang fasis, rakus dan kemlintus.

Karena itu, perang terbesar, kata para tetua adalah membunuh “kerakusan-kemlintusan” pada diri kita. Juga pada penjajah. Sebab, kerakusan (hawa nafsu, greedy) adalah landasan hidup neoliberalisme. “Aku rakus maka aku ada. Begitulah ontologinya. Aku ada maka aku menjajah. Begitulah epistemologinya. Aku menjajah maka aku kaya. Begitulah aksiologinya.”

Singkatnya, individualisme (aku), kerakusan (sifat), menjajah (sikap) dan kekayaan (posisi) itulah madzab bangsa-bangsa Barat (terutama USA) kini. Merekalah dajjalnya dunia yang menternak begundalnya di mana saja, termasuk di Indonesia.

Buku ini jadi bukti ilmiah tidak terbantahkan bahwa perang kecerdasan terus berlangsung sejak pra kemerdekaan sampai kini. Semoga hari-hari ke depan kita bukan hanya menang, tapi juga bisa jadi teladan: bahwa berpancasila itu bisa, jaya, benar dan pener.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini