Logika ilogik Indonesia
Logika ilogik Indonesia. Foto Pixabay/Pasja1000

Oleh Yudhie Haryono

Berulang dan berulang berkali-kali. Berputar dan berputar dalam kubangan yang sama. Begitulah takdir kita menghadapi krisis kemanusiaan yang datang berkali-kali. Tanpa progres, tanpa solusi yang jenius. Tragedi finansial, tragedi kebudayaan dan tragedi kemanusiaan selalu didiagnosa partikular sehingga menghasilkan obat yang tidak tak menyembuhkan.

Padahal, ada pepatah lama bilang, “jika seseorang sakit, periksa diri dulu. Apa yang terjadi dan makan apa sehingga dirinya sakit. Lawanlah penyakit itu dengan diri sendiri dulu. Kalau tak kuasa, baru datang ke dokter untuk membantu memulihkan sakitnya. Tetapi, subjeknya tetap, dirinya sendiri.”

Indonesia ini terbalik. Setiap sakit selalu meminta dokter intervensi. Tak menggali dirinya dahulu untuk melumpuhkan penyakit itu. Tak percaya bahwa di dalam tubuhnya ada mekanisme kekebalan tubuh. Tak beriman ada “imunitas lokal” yang akan jadi perisai bagi kesehatan bahkan kebugaran tubuhnya.

Ke dokter itu baik. Tetapi tanpa keinginan kuat “dari dalam” untuk sembuh, semua akan kecanduan dengan “eksternalisme.” Yaitu perasaan bahwa sakitnya tak bisa disembuhkan kecuali oleh orang lain. Oleh obat kimia. Oleh alat-alat dan kawan-kawannya.

IMF dan WB itu bagai dokter. Krisis itu sakit. Apa dayanya Indonesia melawan penyakit krisis? Selalu panggil-panggil IMF dan WB. Cuma itu. Selalu begitu. Belum ada program lain.

Sembuhkah sakitnya? Tidak. Atau hanya para elite yang tahu, sok sembuh. Padahal jelas, sakit kita tak pernah benar-benar sembuh. Apalagi lebih bugar dari sebelumnya.

Logika elite ini menarik karena ilogik. Tak masuk akal. Tak waras. Mengapa? Karena krisis adalah cara para kapitalis merekapitalisasi kapitalnya berlipat ganda melewati ambang batas waras. Jadi, tak bisa krisis diobati oleh “pembuat krisis” dan semua obat plus diagnosanya.

Dus, begini kisah lainnya. “Kau tahu pangkal krisis? Tanya Prof Paul Krugman suatu kali pada mahasiswanya.”

Adalah, “iman pada pasar yang berlebihan.” Terutama pasar finansial di mana IMF dan WB sebagai biangnya. Padahal, mereka (kita bisa menyebutnya neoliberalisme) itu penyakit kanker. Ia makin lama makin resisten terhadap vaksin sehingga ketika bertamu, kita butuh dosis yang makin tinggi untuk mengusirnya.

Tetapi, saat bertamu kembali, dampak kerusakan ekonomi negara yang terlalu beriman makin dahsyat. Mirip obat yang harus naik terus dosisnya untuk menghadapi penyakit yang makin canggih saktinya.

Singkatnya, “neoliberalism is unstable because it is a financial and accumulating system with yesterday, today n tomorrows (last, now n next) with greedy. They make instability like a normal result. Maka, jangan ilogik jika ingin logik dalam hal penyakit krisis ini. Masih bingung? Ya sudahlah. Memang nasib.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini