Bangkitnya ordo spiritualitas antitesa karakusan manusia
Bangkitnya ordo spiritualitas antitesa karakusan manusia. Foto Nusantara Centre

Hariansemarang.id – Nusantara Centre berencana membuat acara dialog bertema Bangkitnya Ordo Spiritualitas dengan model tatap muka.

Diundang khusus oleh panitia sejumlah 20 penikmat narasi dan diskursus ini, yaitu 5 wartawan terpilih, 5 mahasiswa/i terpilih, 5 orang umum terpilih, 5 dosen terpilih. Temu sukacita ini sebagai pola diseminasi di berbagai kalangan, terutama media agar jadi ombak dan pemantik. Tentu ini kampanye media sebelum kerja raksasa tour ke kampus agar calon pendengar bisa memahami pikiran-pikiran diskursus dan isu ini.

Kita akan mulai dialog itu dengan beberapa pertanyaan fundamental, “apa itu spiritualitas, bagaimana ia berfungsi sebagai petunjuk hidup dan bahkan negara kita, bagaimana mempelajarinya, bagaimana praktiknya, kenapa kini ia absen di sekolah kita, bagaimana ia digunakan sebagai antitesa kerakusan manusia? dan lain lain.”

Kami berharap, dengan 20 orang terpilih, isu kebangkitan spiritualitas sebagai modus operandi penyelamatan bangsa dari amok kolonialisme bisa terpahamkan. Deru dan gairahnya muncul di media, pamplet, mural, jurnal, buku-buku, potkes, video, film dan kemudian menjadi gelombang perubahan positif buat warga negara, buat negara dan pemerintahan serta buat bangsa ini. Tentu untuk menuju dan memastikan hadirnya peradaban yang kita cita-citakan bersama.

Sebagai pemantik, kita akan dengarkan dahulu paparan Bopo Sri Eko Sriyanto Galgendu. Beliau adalah pendiri Posko Negarawan dan pengurus Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI). Keduanya adalah lembaga yang konsen melakukan pendidikan perkaderan kenegaraan dan kepemimpinan.

Beliau lahir di Surakarta 18 Juli 1967. Menimba ilmu dan pengalaman hidup khususnya dengan para pemuka agama-agama dan para raja sultan di Nusantara. Kedekatannya dengan Alm Sinuwun Pakubuwana XII dan Alm Gusdur membawanya mengenal Ilmu Raja dan Ilmu Wali. Anugrah BhaHaSa BHuMi menjadikan memiliki doa dan syair ayat ayat BhuWaNa. Baginya “kepemimpinan adalah mahkota pengabdian, tanggung jawab dan perbuatan tanpa batas tepi,” sedangkan “kenegarawanan adalah usaha bersama mencapai sentosa.”

Ya. Kita diajarkan bahwa pada dasarnya seluruh makhluk hidup memancarkan medan magnetik sendiri-sendiri. Medan magnetik ini adalah energi, di mana ada energi bisa dipastikan bahwa di situ ada frekuensi. Di mana ada frekuensi di situ ada informasi. Medan magnetik ini saling berhubungan satu sama lain secara tidak kasat mata. Itulah sebabnya manusia bisa memahami medan informasi suatu hal yang sudah dan belum terjadi (futurologis).

Kita juga memahami, bahwa puncak-puncak peradaban besar selalu berlandaskan “iman” dan kokohnya spiritualitas penghuninya. Semoga ini menjadi jihad intelektual yang jenius dan serius.

Spiritualitas mendidik kita untuk memastikan bahwa bukan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, tapi kita hanya ingin lebih baik dari kita yang dulu. Sebab, kita tak sebaik yang kalian ucapkan, tapi juga tak seburuk yang terlintas di pikiran kalian.

Mari kita memberi kesempatan siapapun untuk berubah ke arah lebih baik. Dari satu terminal ke terminal berikutnya dalam lorong waktu yang panjang terbentang. Karenanya, jangan melihat masa lalu seseorang saja karena semua punya masa kini dan masa depan.

Bagi yang berminat bisa menghubungi panitia, Bikku Setiyo Wibowo, di +6282138929452. Waktu dan tempat masih tentatif. Akan dikabarkan secepatnya. Selamat bergabung dan cerah ceria bersama.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini