Akhirnya engkau tak menjelma. Foto Pexels/Vladimir Konoplev
Akhirnya engkau tak menjelma. Foto Pexels/Vladimir Konoplev

Oleh Yudhie Haryono

Aku positif. Berbaik sangka. Dan, dari jendela di balik kaca ini, aku membaca buku sambil menulis untukmu saat kulihat kau masih berdiri. Tidak berlari. Sebab di situ, saat kubayangkan tanganku mengkepang rambutmu yang terurai syahdu.

Hujan tak menghentikan lambaian tanganmu dan akhirnya membuat diriku, lara bin paria. Sisa hidup ini tumpukan dua itu tak bosan-bosan menghampiri, menggumuli diriku.

Purwokerto. Kediri. Jogjakarta. Jakarta. Adalah kota-kota yang mengada. Di semua terbitlah bayang-bayang jiwa. Antara ada dan tiada. Senyum manismu membelenggu. Tipis-tipis kudengar suara tangis. Rasa bertambah resah. Tegar-tegar kumaki diriku. Bila ingat akan cintamu hanya untukku lewat sumpah serapahmu.

Sampai kini. Bukan kamu tak cinta padaku. Tapi jiwamu seakan ilusi yang mendebu di buku-buku. Detik ini. Bukan kamu tak sayang diriku. Tapi harummu habis terbawa ombak setinggi ketakutan-ketakutan. Maka engkau tak menjelma kesungguhan dan kenyataan.

Kasih. Jika di negaramu sudah dikirim virus, bencana, kehancuran moral dan kenajisan elite tetapi tidak ada tobat nasional; tidak ada revolusi; tidak ada kudeta dan rakyat tak anarkhis karena KKN jadi tradisi maka kiamatlah yang akan menghentikannya.

Kasih yang tak menjelma. Apa iya Indonesia masih tanah air beta? Negeri yang dulu menjadi pusaka abadi nan jaya. Apa iya Indonesia sejak dulu kala masih tetap dipuja-puja bangsa lain? Bukankah menjadi produsen budaknya budak bangsa-bangsa imperial dunia?

Apa iya di sana tempat lahir beta? Negeri di mana kami dibuai dibesarkan bunda. Apa iya negeri itu masih tempat berlindung di hari tua? Rasanya kok makin gelap-gulita bersama penjajah lokal yang kencing di istana. Apa iya masih tempat akhir menutup mata kami yang dipalak elite setiap masa? Bukankah jargon saya indonesia saya pancasila hanya bualan saja? Aku rindu yang sebaliknya.

Kasih yang entah di mana. Tanpamu aku berzina dengan buku. Tanpamu aku menyetubuhi perpustakaan. Menangis berbantalkan skripsi, tesis dan disertasi. Tanpamu aku memeluk jurnal-jurnal.

Ya. Ini soal perasaan. Soal keberpihakan. Bersama para begundal, kamu ceria. Jalan berdampingan. Mesra mengutil dana rakyat; memalak warganegara. Indonesia kini terpuruk tak pernah ada tujuan kecuali menternak kebiadaban kaum kaya.

Senyumku untukmu ini berisi analisa dan cara menikam mereka. Yang bukan hanya membelah malam; menguliti cara mereka mencuri; mengungkap cara mereka menipu kita semua. Tentu agar mendung yang selalu datang tak membuat banjir kepedihan; memelihara penghianatan dan keculasan.

Ini puisiku tentangmu. Kekasih yang ada tapi tak menjelma. Kalimatku tak berpengaruh/Selalu diacuh/Keruh/Berpaling wajah/Serapah/Goresan penaku bagimu biasah/Tak ada artinyah/Sebatas tintah/Sia-sia sajah/Kini jiwa terasa pasrah/Merindukanmu tanpa lelah/Untukmu yang selalu memberiku janji/Namun tak pernah kamu tepati/Semua itu nyaris kau ingkari/Cobalah sejenak tatap aku di sini/Semua mimpiku bersamamu terpaksa mati/Sebab perlahan, kau buat semua itu pergi/Terimakasih atas luka yang menyadarkanku/Terimakasih atas luka yang menampar pengharapanku/Aku berusaha untuk bersyukur, meski hatiku hancur lebur.

Engkau yang kini bersenggama di istana. Tuhan dan semesta begitu keren ujiannya: untukmu dan untuk bangsa Indonesia. Inilah zaman kalasuba.(*)

Cek berita dan artikel Harian Semarang lainnya di Google News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here