Pancasila di Museum Juang 45. Foto istock
Pancasila di Museum Juang 45. Foto istock

Hariansemarang.id – Ini kelas ke-3 dari 5 temu kelas yang dirancang sebagai kawah candradimuka perkaderan agensi dan pasukan Pancasila. Akan berlangsung besok Sabtu 17 Juni 2023. Kelas dilaksanakan di Sekretariat Foko, hasil kolaborasi tiga lembaga, Nusantara Centre, Foko dan Pusaka Indonesia.

Besok pengantarnya adalah Romo Setyo Hajar Dewantoro. Penulis dan guru spiritual di Persaudaraan Matahari. Lembaga yang dipimpinnya sudah banyak bergerak mempraktikkan nilai-nilai pancasila: spiritualisme, kemanusiaan, persatuan, gotong-royong dan kehikmatan serta pencerahan iptek bagi kemajuan sesama.

Ia terus menarasikan bahwa, “Bangsa yang besar hidup dalam budaya yang sesuai jatidiri. Dus, jatidiri adalah realitas ketuhanan di dalam setiap pribadi, yang memberi bimbingan unik demi tercapainya harmoni antara setiap pribadi dengan dirinya, dengan manusia dan keberadaan lain, dengan jagad raya, dengan tanah airnya, dengan Bapa dan Ibu Semesta.”

Tentu ini kelas yang menarik karena nanti kita akan mendiskusikan “intisari” dari budaya bangsa kita. Intisari yang kita sebut Pancasila. Sejak masa kuna, berbagai suku yang membentuk bangsa ini telah hidup dalam kesadaran luhur. Berangkat dari kesadaran bahwa setiap pribadi berasal dari sumber yang sama, merupakan manifestasi dari realitas yang sama: Tuhan yang Maha Esa, dilingkupi dan dihidupi mahadaya yang sama, dan sedang menuju muara perjalanan jiwa yang sama, maka berkembanglah prinsip kemanusiaan yang universal, yang mengarahkan pada persatuan, gotong royong dan pencapaian kesejahteraan bersama yang berkeadilan.

Inilah intisari budaya yang dijalankan leluhur Nusantara sejak masa silam sehingga bisa membangun peradaban maju dan harmoni. Kita mengenalnya dari jejak yang ditinggalkan berbagai kerajaan besar mulai dari Matswapati, Mataram, Kahuripan hingga Majapahit.

Singkatnya, “kita menjadi bangsa yang penuh daya, bisa memadukan sains dan spiritualitas, karena mempraktikkan prinsip ketuhanan yang maha esa, yaitu kesadaran akan kesatuan dari segala yang ada dan bahwa Yang Maha Agung adalah esensi dari segala yang ada dan meliputi segala yang ada. Bangsa ini menjadi penuh mahadaya karena mengikuti alur evolusi untuk merealisasikan karakter ketuhanan yang benihnya ada di dalam setiap jiwa, bukan hidup terintimidasi karena menyembah ‘tuhan” yang rasialis, diskriminatif dan pemarah.”

Bung Karno dan para founding fathers-mothers Indonesia menggali nilai-nilai luhur ini dan merumuskannya sebagai Pancasila. Dus, di Indonesia, Pancasila adalah dasar negara, falsafah hidup bangsa Indonesia, jalan spiritual kita yang diidealkan terrhayati dalam keseharian setiap anak bangsa. Sehingga kita menjadi bangsa yang penuh daya cipta sekaligus harmoni. Cita-cita agungnya, dengan menghayati Pancasila bangsa ini kembali menjadi bangsa yang agung dengan peradaban luhur.

Kelas ini akan menegaskan bahwa sudah saatnya kita kembali pada Pancasila sebagai jalan spiritual Nusantara, dalam perspektif yang otentik, bukan dalam pola yang terkooptasi oleh pikiran-pikiran picik yang membuat kita lemah, terpecah belah dan tidak harmoni dengan Ibu Pertiwi.

Kelas ini mengajak seluruh anak bangsa untuk hidup dan hidupilah kembali Pancasila sebagai pusaka bangsa Nusantara. Dengannya kita cetak peradaban baru yang sentosa, tanpa hutang, penuh moral dan menerangi semesta.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini