Pancasila kenapa mesti dinyalakan apinya
Pancasila kenapa mesti dinyalakan apinya

Oleh Setyo Hajar Dewantoro, Ketua Umum Pusaka Indonesia

Redup. Hampir padam. Hal itu wajar saja karena banyak yang tak lagi peduli Pancasila. Mengapa wajar? Karena banyak pihak yang mestinya merawat Pancasila tapi malah mengkhianatinya.

Jelas wajar anak-anak muda mempertanyakan relevansi Pancasila, ketika mereka yang getol bicara Pancasila justru adalah pelaku korupsi yang masif, praktisi money politic, pembabat hutan tropis, penjual kedaulatan negara, dan seterusnya.

Lebih susah lagi, saat Pancasila memandatkan pembangunan jiwa dan raga, pendidikan dari tingkat dasar hingga tertinggi justru membuat manusia lupa akan jiwanya, lupa akan keilahian di dalam dirinya.

Meski susah, menyalakan api Pancasila, mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus jalan spiritual bangsa adalah perjuangan agung. Kerja raksasa.

Tapi setidaknya masa depan negeri ini, tergantung pada hadir tidaknya Pancasilais sejati.

Generasi itu lahir jika menjalani ajaran dan laku spiritual yang dipraktikkan dan ajarkan sebagai spiritualitas murni dan dikembangkan lewat latihan yang terus menerus. Tentu saja, tak banyak yang tertarik, tak siap dan sanggup melakoninya.

Ini sebenarnya adalah jalan sunyi, gak banyak temannya, jika diperbandingkan dengan populasi manusia di Indonesia dan dunia. Menekuni jalan ini punya resiko besar: oleh kaum relijius dianggap sesat karena tak sesuai kitab suci. Sedang bagi pemeluk “spiritualitas lokal” juga dianggap salah karena tak selaras dengan pakem, paugeran, yang telah dilembagakan sebagai adat dan tradisi.

Lebih dari itu, pembawaan pengajarnya juga bisa dikategorikan spiritualis: sementara banyak orang yang ngajari spiritual tidak mau mengaku sebagai guru spiritual. Dalam metode ini malah proklamasi “saya guru spiritual keren.”

Saat orang lain gak berani bilang dirinya tercerahkan, karena memang gak tercerahkan, pengajarnya dengan lugas bilang, “saya telah tercerahkan.” Saat banyak berpegangan pada ilusi semacam “tak boleh menilai, tak boleh marah, dan sebagainya,” yang sebenarnya pada praktiknya mereka langgar sendiri, pengajarnya justru mengajarkan, “nilailah semuanya dengan adil dan akurat”, serta “marahlah jika memang dibutuhkan dengan kesadaran penuh.”

Saat banyak sesepuh berpegang pada norma, moralitas, lalu mengatur sikapnya agar terkesan sepuh dan beradab, pengajarnya memilih apa adanya, bahkan seringkali, “suka-suka aku, kalau tidak suka ya menjauh jangan dekat-dekat denganku.”

Tentu, pilihan sikap pengajar terlalu absurd bagi kumpulan orang yang suka pura-pura dan senang kemunafikan.

Tapi pengajar jelas sadar, bahwa dirinya maupun jaringan pancasilais terlalu berharga untuk direcehkan dan dikemas mengikuti selera pasar.

Tidak bisa mereka mengemas diri agar banyak orang senang tapi mereka tidak jadi versi terbaik.

Dalam bahasa marketing, mereka itu segmen pasarnya memang ceruk yang kecil, niche marketing: hanya orang yang siap dibombardir egonya, hanya yang belajar spiritual dengan tujuan terluhur, dan siap pula melepas apa yang harus dilepas, siap dianggap gila oleh yang memang sulit mengerti apa itu kebenaran sejati.

Mereka memang guru-guru yang mahal. Jika dianalogikan dengan mobil, mereka ini luxury car. Hanya yang mau memberikan hatinya yang bisa jadi pasukannya.

Gak masalah mereka punya murid sedikit tapi keren, daripada banyak tapi pada tukang ngayal tidak mau berproses membereskan sisi gelapnya.

Inilah mengapa, jalan pancasila, jalan spiritual bangsa harus terus dinyalakan apinya: kontinyu dan tak menyerah kalah oleh apapun.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini