Pusaka bangsa dan negara kita. Foto APPSI
Pusaka bangsa dan negara kita. Foto APPSI

Oleh Setiyo Wibowo – Pengajar Pada Program KKK Nusantara Centre

Ini konsensus. Bahwa Pancasila hanya milik bangsa dan negara Indonesia dari seluruh kehidupan di belahan bumi ini, sehingga dapat menjadi satu bangsa yang memiliki kehidupan serta penghidupan berbeda dan khas, baik tata kelola serta tata laksana pemerintahan sebagai satu lembaga yang menjadi pelaksana tersebut.

Bangsa yang dianugerahi sumber daya alam melimpah (SDA), sumber daya manusia melimpah (SDM) yang mewarisi budaya spiritual sudah selayaknya menjadi bangsa besar. Yaitu bangsa yang mampu mewujudkan cita-cita para pendahulunya dengan sistem tata kehidupan yang memiliki nilai berbeda dari bangsa-negara lainnya. Dus, pancasila bukan hanya sebagai falsafah hidup satu bangsa; bukan hanya sebagai pandangan hidup negara; namun juga sebagai sumber segala sumber hukum yang menjadi satu pedoman kehidupan berbangsa, bernegara serta berkerakyatan untuk mewujudkan kehidupan yang mulia serta bermartabat.

Dua pusaka (pancasila dan konstitusinya) itulah alat dan metoda merealisasikan “takdir” bangsa-negara kita. Dua pusaka sakti yang akan lebih berkelas jika penggunanya (rakyat dan pemerintahan) memiliki karakter dan mental yang keren, kuat dan merdeka.

Karena itu, soal kelas karakter konstitusi yang sedang kami kerjakan, penulis selalu ingat kalimat Billy Graham (1930), “ketika kamu kehilangan barang, sesungguhnya kamu tidak kehilangan apa-apa. Ketika kamu kehilangan kesehatan, kamu baru kehilangan sesuatu. Ketika kamu kehilangan karakter, kamu sudah kehilangan segalanya.” Karakter dan mental adalah kunci. Begitu juga kalimat dan tesis Oscar Wilde (1877), “keindahanlah yang menarik perhatianmu, tapi karakterlah yang menangkap hatimu.” Lagi-lagi, mental dan karakter menjadi kunci dan hal utama.

Tapi, yang juga tak kalah berdentum adalah kalimat, “kapital dan pengetahuan akan memberimu kekuatan, tetapi karakter-mentallah yang menghasilkan rasa hormat (Bruce Lee: 1960).” Sayangnya, kini kita memang telah kehilangan karakter bernegara, kehormatan berbangsa dan rasa hormat bersemesta. Karena pengetahuan itulah program KKK kita buat dan sebarkan di kota-kota lainnya.

Sebuah program yang menanamkan sikap bahwa kelahiran dan kematian merupakan siklus kehidupan. Kesalahan sebagai hikmat, derita sebagai proses belajar, serta kerusakan merupakan konsekwensi konflik kemanusiaan. Semua tinggal dinikmati, dihayati, dilakoni, dititeni, disyukuri.

Saudaraku, temanku dan keluargaku yang kukasihi. Salam hormat. Sungguh kita terus harus mengingat bahwa, “hilang harta bisa dicari, hilang pacar bisa diganti. Tapi hilang mental revolusi susah dibenahi.” Karena itu jangan sampai kehilangan mental merdeka, mandiri dan modern karena itu adalah kehilangan segalanya.

Kita harus terus waspada soal kehilangan mental dan kedaulatan ini sebab kinerja penjajah tak pernah berhenti. Minimal, menurut tesis Hatta Taliwang, kehancuran mental konstitusional itu berasal dari kegiatan amandeman yang berhasil membuat lima hal penting: 1)Diturunkannya derajat MPR RI dari Lembaga Tertinggi menjadi Lembaga Tinggi Negara; 2)Hilangnya GBHN sebagai dampak turunnya derajat MPR; 3)Ditetapkannya sistem Pilpres langsung yang banyak kelemahan dan keburukannya. Inti dari pilpres langsung itu menghilangkan sistem keterwakilan (utusan golongan dan daerah); 4)Masuknya azas kapitalisme dan liberalisme di pasal 33 UUD 45, yaitu efesiensi. Akibatnya, terjadi prifatisasi BUMN dan komersialisasi sektor pendidikan dan kesehatan; 5)Hilangnya hak khusus orang Indonesia Asli (pribumi) yang dulu dijajah dengan sebutan inlader untuk menjadi Presiden.

Tentu saja proses perang asimetrik itu selesai dengan suksesnya amandemen konstitusi di mana indonesian studies dan aliran pemikiran keindonesiaan (sistem sendiri) serta kajian nusantara dicabut dan diganti dengan pemikiran lainnya (kapitalisme-liberalisme). Maka, konstitusi kita kini merupakan dokumen resmi kekalahan bangsa dan negara Indonesia dari pengkhianat lokal yang bersetubuh dengan penjahat internasional.

Jadilah kini kita hidup di negara pancasila yang dikelola dengan mentalitas munafik dan serakah. Dari hal-hal yang kita sadari ini, program KKK menjadi urgen dan wajib terus digalakkan. Dari sini, dua pusaka itu akan kita gunakan kembali sebagai azimat yang berfungsi maksimal. Semoga mestakung.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini