Defisit mental peradaban kita
Defisit mental peradaban kita

Oleh Yudhie Haryono – Direktur Eksekutif Nusantara Centte

Bangsa bermartabat, negara berdaulat. Itulah ultima proklamasi kita. Kedaulatan dalam bahasa latin adalah “supermus.” Bahasa inggrisnya, “sovereignly” yang berarti “tertinggi.” Kedaulatan secara maknawi ialah wewenang dalam kesatuan politik untuk menentukan arah publik. Dus, ia kekuasaan tertinggi dalam suatu negara atau kesatuan yang tidak terletak di bawah kekuasaan lainnya.

Karena itu kedaulatan mestinya punya sifat pokok yang melekat: 1)Tidak terbatas, yang berarti kekuasaan tersebut tidak dibatasi oleh kekuasaan lainnya; 2)Permanen, yang berarti kekuasaan tersebut akan tetap berdiri walaupun pemerintah berulang kali berganti; 3)Tunggal, yang berarti kekuasan tersebut adalah satu-satunya kekuasaan tertinggi dalam suatu negara yang tidak bisa diserahkan atau dibagi-bagikan kepada suatu badan ataupun lembaga lainnya; 4)Asli, yang berarti bahwa kekuasaan tersebut diperoleh secara sah dan dapat dipergunakan dengan cepat, tepat dan efesien.

4 sifat pokok ini mestinya menghasilkan mental daulat dan karakter merdeka. Apa capaian berikutnya? Terealisasikannya agensi bermental pancasila di mana-mana. Bagaimana postulatnya?

Orang bermental pancasila itu selalu mendahulukan kepentingan umum. Dalam semesta kebahagiaannya, ia tidak menumpuk harta/kekuasaan/materi untuk dirinya sendiri.

Ia selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tidak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia sayangi mampu mengkhianatinya. Ia ikhlas dan tak punya kemelekatan.

Ia punya banyak kesempatan tapi lebih banyak membaginya. Ia tak perlu membela dirinya walau sering dihina, ia senyum tulus karena bukan ia yang mulai berperkara.

Orang bermental pancasila tidak ingin membagi kesedihan, kecuali untuk ibrah. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu saat semesta akan mengganti kesedihannya dengan kebahagiaan sejati dan kasih murni. Dus, ia selalu memandang bahwa di atas semua, tuhanlah hakikatnya. Harmoni semestalah ujungnya.

Jika semesta mengarahkan gerak-gerik hidupnya, bagaimana ia akan melawan kehendak-Nya. Itulah sebabnya orang bermental pancasila tidak memiliki dendam, sikap munafik, tindakan angkara murka, ilusi kebenaran dan kuasa kegelapan dalam kehidupannya.

Begitu berat mencetak mentalitas itu pada semua warganegara, maka kita bisa mulai dengan lengkah-langkah stratejik:

Ajarkanlah pancasila kepada anak-anakmu agar mereka berani melawan ketidakadilan. Ajarkanlah pancasila pada anak-anakmu agar mereka berani menegakkan kebenaran. Ajarkanlah pancasila pada anak-anakmu agar jiwa-jiwa mereka merdeka, mandiri, modern dan martabatif. Ajarkanlah pancasila kepada anak-anakmu sebab pancasila akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.

Dengan alat ukur mental pancasila maka ilmuwan di Indonesia cuma ada tiga: 1)Ilmuwan pencari uang; 2)Ilmuwan pembela orang; 3)Ilmuwan peneguh nilai.

Jika ingin tahu jenis ilmuwan apa yang kita kagumi, lihat apa yang ia cari; yang ia bela dan yang ia pegang teguh. Yang terbanyak kini ilmuwan kita mencari uang dan membela orang. Bukan meneguhkan nilai-nilai membela idealitas, keadilan dan kesentosaan.

Jika tradisi tersebut belum hadir, itu artinya, “kita mengkhianati mental Pancasila; defisit mental daulat.” Yang ada adalah agensi yang sibuk dengan lima K: Kebingungan, Kesibukan, Kebutuhan, Keinginan dan Kebimbangan. Atau bagaimana menurut kalian? Kutunggu komentar kritisnya sekarang juga.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini