Surat terbuka untuk Soekarno
Surat terbuka untuk Soekarno. Foto Pixabay

Oleh Yudhie Haryono – Presidium Forum Negarawan

Di masa genting, tuan pernah pidato, “Jangan pernah berharap bahwa jalan hidup negara kita akan seperti jalan hidup negara lain. Perjalanan hidup yang negara ini miliki merupakan sesuatu yang unik, tidak akan sama dan jangan dibuat sama dengan negara lain.” Ini jelas, karena bangsa yang tidak percaya pada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Dus, itu bangsa yang tak berdaulat. Padahal, bangsa dan negara tanpa kedaulatan itu isinya marketing, tukang utang plus pemalak pendapatan warganegara. Mereka menjual tanah, air dan udara negara sambil tertawa. Ini sebuah kondisi yang mengkhianati cita-cita pendidikan merdeka yang ditetapkan para pendiri Indonesia.

Tuan sudah tuliskan refleksi dan proyeksi kehidupan dalam terang kata “Di Bawah Bendera Revolusi,” hal mana kini tertulis di dinding-dinding tembok hati pejabat orde reformasi menjadi “Mari Kita Khianati Revolusi itu Sampai Mati.”

Tuan juga selalu bilang, “kita bangsa besar, bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini, syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tetapi budak.” Sayangnya negeri warisan tuan kini bangga jadi negeri pengemis dan orgasme karena investasi asing yang mencekik.

Syukurnya, tepat di jantung para pemuja tuan, masih tertulis jelas tafsir teologis agama budi, “orang kaya adalah mereka yang mau berbagi dalam keterbatasannya. Sebaliknya, orang miskin adalah mereka yang tidak mau berbagi dengan kekayaannya.”

Juga tertulis, “orang jenius adalah mereka walau tidak berkuasa tetapi berbagi dengan pengetahuannya. Sebaliknya, orang culas adalah mereka yang bodoh tetapi berkuasa dan menggunakannya untuk KKN.”

Bung Karno Yth. Memang, kita adalah apa yang kita kerjakan secara berulang-ulang. Kita adalah komunitas tradisi yang mewarisi heritage. Oleh karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan melainkan suatu kebiasaan. Demikian pula soal KKN, itu cuma soal kebiasaan yang buruk tapi belum kita tinggalkan.

Sambil membaca kembali gagasan-gagasan jenius tuan, kami di kelas genealogi pikiran pendiri republik menemukan nujum yang luwar biyasa. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ya. Kini kami berjuang menegakkan warisan konstitusi yang asli tetapi dimusuhi penguasa yang kini kaya raya karena jadi antek oligarki nasional dan global.

Saat bersamaan, para pemimpin kini mimpi duduk selama mungkin di kursinya sambil mengambil segalanya, serta lupa bahwa tuan pernah berpesan, “Jadikanlah deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan, di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Lihatlah anak-anak biologis dan ideologis tuan kini. Lihat dengan telanjang mereka terus berkhotbah pertumbuhan, alpa pemerataan. Lupa kaum miskin, bangga mewakili kaum kaya. Melindungi oligarki, bangga memalaki kaum sudra uang yang meratap tak punya daya beli. Padahal, tuan sudah berpesan, “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama ada ratap tangis di gubug-gubug, pekerjaan kita belumlah sukses; tak tuntas.”

Ya. Betapa nista hidup negara ini jika elitenya percaya diri, berbangga dan menguasai segala perangkat kekuasaan tapi semua dibangun di atas penipuan dan kebohongan. Lalu, para pengikutnya bersorak gembira. Seakan-akan mereka sudah di syorga.

Ya. Mereka menikmati indahnya fatamorgana, abadinya pelangi, nyamannya kuasa. Padahal kehinaan berada di balik kedigdayaan mereka. Kegelisahan dan kegaduhan akan menyergap hati dan pikiran mereka. Akan tiba saatnya, kehinaan, kegelisahan dan ketakutan itu membuat jiwa mereka tersiksa.

Tetapi, kapan pertobatan nasional itu tiba? Di atas pusara tuan, kami geguritan dan mengadu; menangis tapi optimis. Semoga, kerinduan ini bukan hanya tinggal kerinduan. Melainkan modal kritis melawan untuk sampaikan proklamasi kedua agar kami menjadi generasi emas yang berbakti.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini