Ki Hadjar dan Hilangnya Rumah Pengajaran
Ki Hadjar dan Hilangnya Rumah Pengajaran

Oleh Yudhie Haryono – Rektor Universitas Nusantara

“Dari masa lalu kita warisi feodalisme, dari masa kini (masa kolonialisme) kita warisi fasisme. Inilah problema utama kita yang harus dimusnahkan segera jika Indonesia ingin merdeka,” demikian tesis Ki Hadjar Dewantara. Dan, cara melenyapkan kedua warisan buruk peradaban itu hanya lewat pendidikan dan pengajaran yang berkebudayaan.

Mengapa hanya pendidikan dan pengajaran? Sebab itu metoda terbaik untuk membunuh penjajahan selain perang. Atau, keduanya sama derajatnya dengan jihad (angkat senjata) dan bahkan saling melengkapi. Dalam tradisi islam misalnya, dijelaskan dalam QS At-Taubah/122, “tidak sepatutnya orang-orang itu semuanya ke medan perang. Hendaknya sebagian dari mereka pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar dapat memberi peringatan apabila yang jihad telah kembali.”

Lalu, bagaimana konsep pendidikan dan pengajaran yang berkebudayaan itu? Konsepnya menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan-pengajaran-pembudayaan yang holistik, di mana murid atau peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa dan olah raga melalui proses pembelajaran dan lainnya yang berpusat pada murid dan dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, kritis serta menyenangkan.

Konsep ini seiring dengan empat pilar pendidikan menurut Unesco yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Konsep ini kemudian merambah banyak hal. Di wilayah perusahaan dan bahkan pemerintahan. Bahwa semua badan publik itu menjadi arena pembelajaran bersama untuk tujuan bersama.

Tentu saja, Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan makna pendidikan dan pengajaran, walaupun keduanya harus dihadirkan. Pendidikan (opvoeding) adalah memberi tuntutan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seseorang maupun sebagai anggota masyarakat dan pejabat negara.

Sedangkan pengajaran merupakan proses tuntunan dalam memberi ilmu pengetahuan dan keteladanan untuk kecakapan hidup anak secara lahir-batin. Sehingga jika digabung menjadi usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat bernegara yang berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.

Dalam keadaan yang plural, tidak mudah kita merumuskan persatuan; tidak mudah membuat barisan. Padahal, persatuan, kesatuan dan barisan itu prasyarat kuatnya perlawanan perjuangan kemerdekaan. Dengan melihat realitas tersebut Ki Hadjar Dewantara dalam buku “Pusara” (1940) menyatakan, “jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan, perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi. Tetapi ajarkan dan beri tauladan untuk bergotong royong jika menghadapi musuh di depan.”

Saat menghadapi kualitas anak didik yang beragam, Ki Hadjar berfatwa, “biarkan anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, karena tak mungkin pendidik ‘mengubah padi menjadi jagung’ atau sebaliknya.” Hal ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kita harus menyesuaikannya dengan kemampuan, bakat dan minat murid atau kebutuhan murid.

Singkatnya, pokok-pokok pikiran Ki Hadjar dapat dituliskan menjadi, “Ing Ngarso Sung Tulodo (menjadi pemimpin harus mampu memberikan keteladanan); Ing Madyo Mbangun Karso (di tengah kesibukannya harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat); Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan moral dan semangat kerja serta contoh keikhlasan).”

Dari pokok pikiran itulah lahir hakikat kemerdekaan. Ia bukan semata-mata kebebasan individu dari aturan dan kekuasaan lain, melainkan kemampuan untuk mandiri dan modern serta martabatif karena tidak menggantungkan diri terhadap uluran tangan orang lain. Dan, dari manusia merdeka, lahirlah negara merdeka. Dengan negara merdeka kita menjaga kemanusiaan semesta menjadi peradaban adil bagi semua.

Sayangnya kini rumah-rumah kebudayaan dan pendidikan kita minus keindonesiaan. Mereka juga alpa pancasila, defisit diskursus nusantara, gelap pengetahuan atlantik. Padahal, kebudayaan itu ontologi, pendidikan itu epistemologi dan pembelajaran itu aksiologi keindonesiaan.

Repotnya, rumah pembelajaran kita juga sepi dari agensi pancasilais: yang menyatukan pikiran, kata dan perbuatan. Sebaliknya kini banjir pembelajar dan pembelajaran “keuangan yang maha kuasa.” Maka, wilayah dan agensi pendidikan dan pengajaran kita dipastikan anti pancasila sehingga melawan Tuhan, mengkhianati sesama dan menghancurkan lingkungan. Jika itu terus berlangsung, Indonesia tinggal nama saja. Tanpa realitas, cita-cita dan cinta.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini